Ramadhani Eka Putra juga mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Padang atas dukungan konkret melalui penyediaan pupuk organik berbasis maggot atau kasgot, yang dinilai efektif dalam meningkatkan kualitas media tanam sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dalam mendukung pemulihan masyarakat.
“Sebagai bagian dari ekosistem sosial di Sumatera Barat, PT Semen Padang memiliki tanggung jawab untuk turut serta dalam mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata kontribusi kami dalam penguatan kapasitas dan kemandirian warga,” ujarnya.
Senada dengan itu, Staf TJSL PT Semen Padang, Fajar Rahmadoni, menambahkan bahwa dukungan perusahaan tidak hanya terbatas pada bantuan material, tetapi juga bagian dari upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan di tingkat komunitas.
“Kami memberikan bantuan pupuk kasgot yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik berbasis maggot. Ini tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan limbah yang bernilai ekonomis,” jelasnya.
Kepala Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Henny Herwina, menekankan pentingnya keberlanjutan aktivitas ekonomi di tengah masyarakat pascabencana.
Ia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang aplikatif.
“Perekonomian masyarakat harus terus berjalan. Program ini dirancang agar efektif dan mudah diterapkan, mulai dari budidaya galo-galo, peternakan ayam, hingga sistem hidroponik. Kami bersyukur ada kolaborasi yang kuat untuk mendampingi masyarakat,” ungkapnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi aktif selama pelatihan berlangsung. Salah seorang perwakilan warga, Ema, mengaku mendapatkan wawasan baru yang membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga.
“Kami sangat senang karena mendapatkan pengetahuan baru. Harapannya, ini bisa kami kembangkan untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Selain ITB dan Unand, program ini juga mendapat dukungan dari sejumlah lembaga lainnya, memperkuat pendekatan kolaboratif dalam mendorong pemulihan berbasis komunitas.
Dengan sinergi yang terbangun, kawasan Huntap Kampung Talang diharapkan tidak hanya menjadi simbol relokasi pascabencana, tetapi juga model pengembangan ekonomi mandiri berbasis pertanian regeneratif di wilayah perkotaan. (*)












