OPINIPENDIDIKAN

Rangkiang Berdaya

×

Rangkiang Berdaya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Sry Eka Handayani, M.Pd. (Kepala  SDN 06 Parit Antang Bukittinggi)

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mekanis transfer pengetahuan di ruang kelas yang terisolasi dari realitas. Mengutip pandangan filsuf pendidikan terkemuka John Dewey melalui gagasannya tentang experiential learning, belajar harus berakar pada pengalaman langsung dan pemecahan masalah kehidupan nyata (learning by doing) agar ilmu yang diperoleh menjadi fungsional bagi peserta didik. 

Semangat pedagogi kontekstual inilah yang mewujud nyata di SDN 06 Parit Antang Kota Bukittinggi melalui program inovasi bertajuk Rangkiang Berdaya (Rangkaian Kegiatan Literasi dan Numerasi Berbasis Kehidupan Nyata), yang diinisiasi oleh Dr. Sry Eka Handayani, M.Pd..

Inovasi ini lahir dari refleksi mendalam atas capaian Rapor Pendidikan sekolah pada tahun 2022, di mana literasi murid berada di angka 73,68% dan numerasi 47,73%. 

Saat itu, budaya membaca belum mengakar, fungsi perpustakaan pasif, dan pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Menyikapi hal tersebut, kepemimpinan sekolah menggagas transformasi bertahap: diawali dengan pembiasaan membaca melalui Gerakan Lumbuang, lalu ditingkatkan ke tahap kontekstualisasi kecakapan hidup lewat Rangkiang Berdaya.

Nama “Rangkiang” diambil dari lumbung padi tradisional Minangkabau yang menyimbolkan ketahanan, tata kelola bijak, dan bekal masa depan. Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara, pendidikan berakar pada kodrat alam dan kebudayaan peserta didik. 

Nilai lokal ini diadaptasi agar sekolah menjadi lumbung ilmu yang hidup. Sebagaimana ditegaskan Paulo Freire, literasi sejati melampaui kemampuan mengeja kata; literasi menuntut kemampuan membaca realitas dunia (reading the word and reading the world). 

Baca Juga  Masjid Dengan Regenerasi Remaja 

Rangkiang Berdaya membedah paradigma sempit bahwa literasi sekadar membaca teks dan numerasi sebatas hafalan rumus kaku.

Implementasi program ini dibangun di atas empat pilar: membaca untuk memahami, memahami untuk melakukan, melakukan untuk memecahkan masalah, dan memecahkan masalah untuk menjadi pribadi berdaya. Pilar tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan terapan harian, seperti:

Jurnal Harian dan Literasi Pagi, yang mengintegrasikan pengamatan deskriptif dengan penalaran kuantitatif sederhana. Panggung Literasi Kamis, ruang publik bagi murid untuk berorasi, mendongeng, dan melatih rasa percaya diri.  

Gerobak Baca, layanan literasi jemput bola oleh pustakawan cilik ke area bermain. Market Day dan Kantin Kehidupan, laboratorium numerasi kontekstual tempat murid menghitung modal, laba, estimasi harga, serta mengasah nilai kejujuran. Membaca Alam, observasi flora-fauna dan pola geometris di luar kelas.

Keberhasilan program ini didukung oleh kepemimpinan instruksional (instructional leadership) kepala sekolah melalui supervisi akademik transformatif berkelanjutan.

 Supervisi tidak lagi bersifat administratif, melainkan kolaboratif melalui siklus pra observasi, observasi kelas, dan pasca observasi. Sesi refleksi guru dikonsolidasikan lewat wadah Ngopi (Ngobrol Pintar Pendidik) sebagai komunitas belajar internal.

Hasilnya terlihat sangat signifikan. Rapor Pendidikan SDN 06 Parit Antang mencatat lonjakan capaian literasi hingga mencapai 100% pada 2023–2025, serta capaian numerasi melonjak dari 47,73% menjadi 93,33% pada 2024. 

Baca Juga  Perlukah PLN di Class Action

Sekolah ini pun dipercaya menjadi Sekolah Duta Literasi Kota Bukittinggi serta pusat percontohan dan riset bagi berbagai daerah.

Rangkiang Berdaya membuktikan bahwa transformasi pendidikan bermula dari komitmen dan pembiasaan sederhana yang bermakna. Menghubungkan teks dengan realitas sosial menjadikan peserta didik tidak sekadar cerdas di atas kertas, melainkan tangguh, mandiri, dan berdaya menghadapi tantangan masa depan.

Menyalakan lentera literasi untuk masa depan. Praktik baik program Rangkiang Berdaya membuktikan bahwa keberhasilan literasi dan numerasi tidak dapat dicapai melalui kerja parsial, melainkan membutuhkan denyut kolaborasi dari seluruh ekosistem pendidikan. 

Menguatkan kecakapan hidup generasi penerus adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut komitmen nyata.  Guru jadilah fasilitator pembelajaran yang adaptif dan inspiratif. 

Bawalah literasi dan numerasi keluar dari jeratan rumus kaku serta lembar teks teoretis menuju pengalaman belajar nyata yang membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik. Siswa Jadikan buku, lingkungan sekitar, dan kehidupan harian sebagai ruang eksplorasi tanpa batas. 

Beranilah bertanya, membaca situasi, serta menyuarakan gagasan demi tumbuh menjadi pribadi yang berdaya, jujur, dan mandiri.  Orang tua bangunlah budaya membaca dan bernalar di dalam keluarga.

 Dukung setiap langkah anak dalam mengeksplorasi pengetahuannya di rumah, karena fondasi kecakapan hidup pertama kali disemai dari keteladanan orang tua. (*)