PADANG, HARIANHALUAN.ID — Munculnya kabut tipis di sejumlah wilayah Sumatera Barat di tengah meningkatnya titik panas di sejumlah daerah belum menunjukkan adanya penurunan kualitas udara yang mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara yang tersedia, kondisi udara Sumbar masih relatif terkendali. Konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 yang menjadi salah satu indikator penting kabut asap masih berada pada level rendah.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara Stasiun Pemantau Kabupaten Padang Pariaman selama 14-23 Agustus 2026, konsentrasi rata-rata PM2,5 tercatat 6,21, dengan nilai minimum 3 dan maksimum 9. Sementara rata-rata PM10 hanya 2,15.
“Secara umum kualitas udara masih dalam kondisi terkendali. Dari hasil pemantauan yang tersedia, partikulat PM10 dan PM2,5 masih relatif rendah,” ujarnya kepada Haluan Senin (24/8/2026).
Meski demikian, DLH Sumbar tetap mencermati perkembangan titik panas yang terdeteksi di wilayah Sumbar maupun provinsi tetangga.
Data pemantauan melalui tiga satelit, yakni NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20, mencatat 103 titik hotspot di Sumbar sepanjang 14 hingga 23 Agustus 2026. Hotspot tertinggi terjadi pada 22 Agustus dengan 27 titik, yang tersebar di Dharmasraya 17 titik, Pesisir Selatan tujuh titik, Pasaman Barat dua titik dan Sijunjung satu titik.
Namun, jumlah hotspot tersebut belum otomatis berarti kualitas udara Sumbar memburuk. Pasalnya, pada periode yang sama, jumlah hotspot di sejumlah provinsi tetangga jauh lebih tinggi. Sumatera Selatan misalnya mencapai 4.975 titik, Riau 1.433 titik dan Jambi 1.261 titik.
“Hotspot tetap kita pantau, termasuk perkembangan dari provinsi tetangga. Karena kondisi asap sangat dipengaruhi oleh arah angin dan kondisi meteorologi,” kata dia.
Pantauan ISPU Padang Pariaman Masih Kategori Sedang
Hasil pemantauan Stasiun AQMS Padang Pariaman menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama periode 14-23 Agustus berada pada rentang 86-89.
Seluruh 240 jam pengamatan masih masuk kategori Sedang, dan tidak ditemukan nilai yang menembus kategori Tidak Sehat.
Menariknya, bukan PM2,5 yang menjadi penyumbang utama nilai ISPU tersebut. Ozon (O₃) justru menjadi parameter dominan, dengan rata-rata 87,12 dan maksimum 89. Sementara SO₂ berada pada kisaran 80-81. Adapun PM10 dan PM2,5 tercatat relatif rendah.
Kondisi PM2,5 juga relatif stabil. Nilai rata-rata hariannya sepanjang periode pemantauan berada pada kisaran 5,18 hingga 7,10, dengan angka tertinggi 7,10 pada 21 Agustus dan turun menjadi 5,18 pada 23 Agustus.
Artinya, meski secara visual masyarakat mulai melihat kondisi seperti kabut asap di sejumlah daerah, data kualitas udara yang tersedia belum menunjukkan peningkatan partikulat yang signifikan.
Selaku Kadis LH Sumbar, Tasliatul Fuadi mengatakan kondisi tersebut bukan berarti kewaspadaan diturunkan. Terlebih, puncak musim kemarau masih berlangsung dan titik panas masih ditemukan di sejumlah daerah.
Selain Padang Pariaman, data BMKG Stasiun GAW Koto Tabang juga menunjukkan konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada 1-23 Agustus mayoritas berada dalam kategori Baik.











