PADANG, HARIANHALUAN.ID — Di tengah meningkatnya titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Barat dan provinsi tetangga , pemerintah daerah menghadapi kendala dalam memantau kualitas udara di Kota Padang.
Alat pemantau kualitas udara atau Air Quality Monitoring System (AQMS) Kota Padang diketahui tidak terkoneksi dengan sistem sejak 17 Juni 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi saat Sumatera Barat mulai menghadapi peningkatan kemunculan hotspot dan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kabut asap.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan gangguan pada AQMS Kota Padang terjadi pada layar touchscreen atau peralatan pemrosesan data pada panel utama yang tidak menyala.
“Untuk AQMS Padang, memang tidak terkoneksi dengan sistem sejak 17 Juni,” ujarnya kepada Haluan Senin (24/8/2026).
Meski demikian, berdasarkan laporan yang diterima DLH Sumbar, tidak seluruh perangkat mengalami kerusakan. Pompa, modem dan sejumlah sistem lainnya masih dalam kondisi menyala.
Gangguan tersebut juga telah ditindaklanjuti dengan pembersihan genangan air dan upaya melakukan restart terhadap perangkat. Namun, langkah tersebut belum membuat sistem kembali terkoneksi dan panel utama tetap tidak menyala.
Persoalan ini sebelumnya telah dilaporkan DLH Kota Padang kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada 23 Juni 2026.
Sehari kemudian, pihak KLH/BPLH menyampaikan bahwa Direktorat PPMU telah melakukan penandatanganan kontrak dengan pihak ketiga untuk perawatan SPKUA, termasuk SPKUA Padang. Namun, jadwal perawatan untuk SPKUA Padang saat itu masih menunggu informasi lebih lanjut.
Memasuki Agustus, gangguan tersebut belum selesai. DLH Sumbar pada 19 Agustus 2026 kembali menyampaikan surat kepada Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH terkait permohonan perbaikan AQMS di Provinsi Sumatera Barat.
Persoalan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya aktivitas hotspot di Sumbar.
Berdasarkan pemantauan melalui tiga satelit, yakni NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20, tercatat 103 titik hotspot di Sumatera Barat sepanjang 14 hingga 23 Agustus 2026.
Jumlah tertinggi tercatat pada 22 Agustus, yakni sebanyak 27 titik. Dari jumlah tersebut, 17 titik berada di Dharmasraya, tujuh titik di Pesisir Selatan, dua titik di Pasaman Barat dan satu titik di Sijunjung. Sehari setelahnya, seluruh tujuh hotspot yang terpantau di Sumbar berada di Dharmasraya.
Namun, Tasliatul Fuadi memastikan kondisi tersebut belum menunjukkan adanya penurunan kualitas udara yang mengkhawatirkan berdasarkan data pemantauan yang masih tersedia.
Salah satu rujukan berasal dari Stasiun Pemantau Kabupaten Padang Pariaman. Selama periode 14-23 Agustus, nilai ISPU berada pada rentang 86 hingga 89, yang seluruhnya masih masuk kategori Sedang. Tidak terdapat pengamatan yang menembus kategori Tidak Sehat.
Konsentrasi PM2,5 yang menjadi salah satu parameter penting dalam memantau partikulat juga masih relatif rendah. Rata-rata PM2,5 selama periode tersebut berada di angka 6,21, dengan nilai minimum 3 dan maksimum 9. PM10 bahkan memiliki rata-rata 2,15.
“Data kualitas udara yang tersedia saat ini masih menunjukkan kondisi yang terkendali. Partikulat PM2,5 dan PM10 masih relatif rendah,” ujar Tasliatul Fuadi












