Di masa digital yang besar, media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan Youtube Shorts telah mengubah proses generasi muda menerima informasi. Konten yang cepat dan juga instan menjadi konsumsi sehari-hari baik siswa maupun mahasiswa.
Meskipun digital saat ini mempermudah akses informasi, fenomena ini juga memunculkan masalah baru dalam dunia pendidikan, yaitu menurunnya budaya membaca dan lemahnya literasi. Banyak siswa lebih terbiasa scrolling atau menggulir media sosial daripada membaca teks panjang sehingga mereka merasakan cepat bosan ketika diberikan sebuah artikel, buku, atau materi pembelajaran yang mendalam.
Kejadian tersebut dapat dijelaskan melalui salah satu pembelajaran yang mengkaji bagaimana bahasa diterima yang berjudul Second Language Acquisition yang dikhususkan pada konsep input. Dalam pembelajaran Second Language Acquisition, Input merupakan susunan bahasa yang diterima seseorang melalui membaca, mendengar, atau interaksi sehari-hari.
Dalam semakin bermanfaat dan bermakna input yang diterima, maka semakin berkembang pula kemampuan bahasa seseorang. Tetapi, trend konten pendek membuat siswa lebih sering menerima informasi yang singkat, sederhana, dan terpotong-potong yang membuat proses pemahaman bahasa menjadi kurang mendalam.
Selain mempengaruhi kualitas input, budaya membaca yang menurun juga berdampak pada proses penerimaan kosa kata atau vocabulary acquisition. Kosakata berkembang melalui susunan bahasa yang berulang dalam bentuk konteks yang beragam, khusunya melalui kegiatan membaca.
Ketika siswa jarang membaca sebuah teks yang panjang, kemampuan mereka untuk menemukan dan memahami kosakata menjadi berkurang yang mengakibatkan kemampuan memahami bacaan, menulis, dan mengekpresikan gagasan menjadi terbatas.
Jika fenomena ini terus berlangsung, dunai pendidikan akan menghadapai permasalahan yang besar di masa depan. Generasi muda mendapatkan informasi secara cepat, tetapi mereka kurang mampu untuk memahami informasi secara mendalam dan kritis.
Mereka sudah terbiasa dengan informasi yang singkat dan instan, tetapi mereka mengalami kesulitan ketika mereka diharuskan untuk membaca teks akademik atau menyampaikan sebuah idea secara berurutan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi kualitas kemampuan siswa dalam bahasa dan literasi siswa.
Oleh sebab itu, baik sekolah maupun perguruan tinggi memerlukan pembangunan budaya membaca kembali di era digital. Guru dapat menggunakan media digital sebagai penghubung untuk mendorong siswa untuk lebih sering membaca, bukan sekadar melihat konten singkat.
Sleain itu, siswa perlu dibiasakan untuk melakukan Extensive Reading, yaitu kegiatan membaca secara rutin untuk meningkatkan pemahaman dan kosakata. Teknologi bukan musuh pendidikan, tetapi sebuah media yang dapat menunjang pendidikan menjadi lebih baik jika keseimbangan budaya digital dan budaya membaca dijaga dengan baik. Jika hal itu tidak diterapkan, maka krisis literasi akan menjadi ancaman yang berbahaya untuk generasi muda.
Penulis : Febri Yonanda Yovi
Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M. DJamil Djambek Bukittinggi
yonandayovi15@gmail.com






