PENDIDIKAN

UMKM Bika dan Pinyaram Kayu Tanam Didorong Go Digital, Perkuat Kemasan dan Branding

×

UMKM Bika dan Pinyaram Kayu Tanam Didorong Go Digital, Perkuat Kemasan dan Branding

Sebarkan artikel ini
UMKM Naik Kelas
Program Studi S1 Pendidikan Fisika, FMIPA, UNP memberikan pendampingan kepada kelompok UMKM bika dan pinyaram di Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, untuk memperkuat kualitas produk sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas. IST

KAYU TANAM, harianhaluan.id – Pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berbasis pangan lokal terus mendapat perhatian. Di Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Program Studi S1 Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) memberikan pendampingan kepada kelompok UMKM bika dan pinyaram untuk memperkuat kualitas produk sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Pendampingan tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan skema Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN), selama September. Kegiatan mengangkat tema “Pendampingan Kelompok UMKM untuk Pemasaran Digital Bika dan Pinyaram sebagai Makanan Khas Nagari Kayu Tanam”.

Ketua tim PKM, Dra. Hidayati, M.Si., menyebut dari perspektif ekonomi, penguatan UMKM bika dan pinyaram dinilai tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga bagaimana produk pangan khas daerah memiliki nilai tambah. Produk yang selama ini dipasarkan secara konvensional perlu didorong agar memiliki kemasan, identitas merek dan saluran pemasaran yang mampu menjangkau konsumen di luar wilayah Kayu Tanam.

“Hasil identifikasi tim PKM menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan yang dihadapi pelaku usaha. Di antaranya pengemasan produk, pemahaman mengenai keamanan pangan, pemilihan bahan kemasan hingga legalitas usaha seperti PIRT dan sertifikasi halal. Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas pasar,” ujarnya kepada Haluan Senin (21/9) di Padang.

Baca Juga  Insiden Peluru Nyasar di Kampus UNP, Rektor UNP dan TNI Sigap Tangani Korban

Dari sisi pemasaran lanjutnya, sebagian pelaku UMKM masih mengandalkan cara konvensional, seperti berjualan di tepi jalan dan menunggu pembeli. Kondisi itu membuat jangkauan pasar relatif terbatas. Karena itu, pemanfaatan media sosial dan pemasaran digital menjadi salah satu langkah yang diperkenalkan untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih luas.

“Tim PKM juga memberikan pendampingan mengenai branding, mulai dari logo hingga penyajian foto produk yang menarik. Identitas produk yang lebih kuat diharapkan dapat membantu konsumen mengenali bika dan pinyaram Kayu Tanam sekaligus memberikan nilai tambah terhadap produk ketika dipasarkan melalui berbagai kanal digital,” ungkapnya didampingi

Aspek pengemasan turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Peserta mengikuti praktik langsung menggunakan metode vacuum packaging. Melalui teknik ini, udara, terutama oksigen, dikurangi dari dalam kemasan sebelum ditutup rapat. Pengemasan tersebut diharapkan membantu menjaga mutu produk dan memperlambat sejumlah proses penurunan kualitas selama penyimpanan.

UMKM Bika dan Pinyaram Kayu Tanam Didorong Go Digital, Perkuat Kemasan dan Branding

Ia mengatakan bika dan pinyaram merupakan produk khas yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Pendampingan dilakukan agar pelaku UMKM memiliki pengetahuan yang dapat diterapkan dalam meningkatkan daya tarik produk serta memperluas jangkauan pemasaran. “Bika dan pinyaram merupakan produk khas yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Melalui pendampingan ini, kami berharap UMKM dapat lebih siap memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produknya,” ujarnya didampingi anggota tim pengabdian, Prof. Dr. Ratnawulan, M.Si., Dr. Emiliannur, M.Pd., Fauziah Ulmi, M.Pd., Dr. Fuja Novitra, M.Pd., dan Renol Afrizon, M.Pd., Ph.D.

Baca Juga  1.200 Stel Seragam Gratis untuk Siswa Baru di Pauh Duo Solsel

Pendampingan mendapat dukungan dari Wali Nagari Kayu Tanam, Afriyadi. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah nagari tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM, sehingga produk pangan khas tidak hanya bertahan sebagai usaha rumahan, tetapi juga memiliki peluang berkembang menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Salah seorang pelaku UMKM menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pendampingan memberikan pengalaman baru dalam meningkatkan kualitas kemasan.

“Selama ini kami lebih banyak menggunakan kemasan biasa. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru tentang cara mengemas bika dan pinyaram dengan lebih baik. Praktik menggunakan vacuum sealer juga sangat membantu karena kami bisa langsung mencoba sendiri,” ungkapnya. (h/rel/isr)