SEMARANG, HARIANHALUAN.ID – Dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Friska Realita, meninggalkan pola kuliah satu arah dan mengubah kelasnya menjadi ruang diskusi. Kuis pembuka, studi kasus nyata, dan temuan riset terbaru kini menjadi bagian rutin perkuliahannya, agar mahasiswa generasi Z lebih aktif membangun pemahaman sendiri.
Perubahan itu ia lakukan setelah mengikuti Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang digagas ParagonCorp, terutama sesi bootcamp bertema “Reimagining the Classroom: Teaching in the Age of Gen Z”.
“Saya tersadar bahwa menyiapkan materi perkuliahan dengan baik membutuhkan kesungguhan. Bahkan untuk membuat presentasi yang benar-benar baik bisa membutuhkan waktu seminggu atau lebih, bukan sekadar dikerjakan dalam satu malam,” kata Friska.
Sejak itu, ia menata ulang slide dan cara menyampaikan materi. Kelas tak lagi selalu dibuka dengan ceramah. Sesekali Friska memulai dengan kuis singkat untuk memancing rasa ingin tahu, lalu mengajak mahasiswa membedah kasus nyata melalui metode case-based learning.
Mahasiswa berdiskusi, mempresentasikan analisis, dan beradu pendapat. Friska kemudian memberi umpan balik dan mengaitkan pembahasan dengan konsep perkuliahan. Ia juga rutin membawa temuan penelitian terbaru agar materi tidak berhenti pada teori.
“Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa dilibatkan secara langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan dosen menjelaskan, tetapi berdiskusi, menganalisis kasus, menyampaikan pendapat, kemudian bersama-sama menghubungkannya dengan konsep perkuliahan,” ujarnya.
Menurut Friska, peran dosen tidak berkurang. Justru dosen bergeser menjadi pihak yang membantu mahasiswa mengolah informasi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Ruang aman untuk bertanya
Selain metode, Friska menaruh perhatian pada relasi dengan mahasiswa. Menurutnya, kelas yang partisipatif hanya terbentuk jika mahasiswa merasa aman untuk bertanya, berpendapat, bahkan keliru.
“Mahasiswa membutuhkan dosen yang mau mendengarkan dan memberikan ruang untuk bertanya tanpa takut salah. Saya ingin menjadi dosen yang bukan hanya memberikan materi, tetapi juga bisa menjadi teman berdiskusi, tempat mahasiswa bercerita mengenai hambatan belajarnya,” tuturnya.
Dengan memahami tantangan mahasiswa, kata Friska, dosen dapat merancang pembelajaran yang lebih relevan dengan kondisi mereka.
Kelas, riset, dan masyarakat
Friska juga ingin menyambungkan pengajaran dengan penelitian dan pengabdian masyarakat. Temuan riset dibawa ke ruang kuliah, sementara persoalan yang muncul di kelas maupun di masyarakat menjadi bahan penelitian berikutnya.
“Apa yang ditemukan melalui penelitian dapat dibawa kembali ke ruang kelas, kemudian ilmu yang kita miliki juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Friska merupakan satu dari 1.000 dosen yang menuntaskan ILP 2026 hingga tahap kelulusan. Sejak 2021, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen di seluruh Indonesia, melengkapi Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru yang berjalan sejak 2017. (*)












