OPINI

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

×

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ir. Ulul Azmi, S.T., M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng. Ketua Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) Kota Pekanbaru/Praktisi Keinsinyuran dan Keselamatan Publik

HARIANHALUAN.ID – Tanggal 1 Oktober bukan sekadar momentum bertambahnya usia Sumatera Barat. Bagi masyarakat Minangkabau, baik yang berada di ranah maupun di rantau, hari jadi Sumatera Barat semestinya menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan kampung halaman: apa yang telah kita bangun, apa yang masih tertinggal, apa yang harus kita benahi, dan ke mana Sumatera Barat hendak kita bawa.

Sumatera Barat memiliki modal yang tidak kecil. Alam yang kaya, budaya yang kuat, masyarakat yang kritis, tradisi pendidikan yang panjang, serta jaringan perantau yang tersebar di berbagai daerah bahkan hingga mancanegara. Namun modal besar tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi kemajuan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebagai praktisi keinsinyuran sekaligus bagian dari masyarakat Minangkabau di rantau, saya melihat pembangunan Sumatera Barat ke depan perlu semakin berani menempatkan kualitas, keselamatan, keberlanjutan lingkungan, ketahanan terhadap bencana dan konektivitas sebagai satu kesatuan.

Baca Juga  Ucapan Selamat Ulang Tahun oleh Pemda

Kita hidup di wilayah dengan karakter geografis yang tidak sederhana. Pegunungan, lembah, sungai, dan garis pantai merupakan anugerah sekaligus menghadirkan tantangan. Kondisi tersebut menuntut pembangunan yang tidak boleh dilakukan dengan pendekatan biasa-biasa saja.

Jalan, jembatan, bangunan publik, kawasan permukiman, sistem transportasi hingga pengelolaan lingkungan harus dirancang bukan hanya untuk selesai dibangun, tetapi untuk aman, berfungsi dalam jangka panjang dan mampu menghadapi berbagai risiko.

Disinilah Keinsinyuran Memiliki Tanggung Jawab yang Besar

Seorang insinyur tidak semata berbicara mengenai beton, baja, mesin ataupun teknologi. Di balik setiap rancangan terdapat keselamatan manusia. Di balik setiap infrastruktur terdapat kehidupan masyarakat yang bergantung kepadanya. Karena itu, pembangunan Sumatera Barat harus semakin kuat berlandaskan kajian teknis, mitigasi risiko, keselamatan publik, serta keberlanjutan lingkungan.

Bagi masyarakat Minangkabau, alam memiliki kedudukan istimewa. Kita sejak lama mengenal filosofi “Alam takambang jadi guru.” Filosofi tersebut hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai ungkapan budaya. Ia harus diterjemahkan ke dalam cara kita mengelola pembangunan.

Banjir, longsor, galodo dan berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi dari waktu ke waktu harus menjadi bahan evaluasi bersama. Memang tidak semua bencana dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi apabila pembangunan dilakukan dengan memahami karakter wilayah, menjaga daerah aliran sungai, mempertahankan fungsi hutan dan daerah resapan, serta menjalankan tata ruang secara konsisten.

Baca Juga  Peran Media Informasi di Era Digital: Menjaga Etika dan Objektivitas dalam Penyampaian Aspirasi Publik

Kita juga perlu memberikan perhatian serius terhadap pembukaan kawasan yang tidak terkendali, kerusakan daerah aliran sungai, sedimentasi, persoalan sampah, serta aktivitas pertambangan dan penebangan yang tidak sesuai ketentuan. Illegal mining dan illegal logging tidak boleh dibiarkan menjadi warisan persoalan bagi generasi berikutnya.

Ketika hulu kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat di hilir dapat menerima akibatnya. Ketika lereng kehilangan daya dukung, ketika aliran air berubah, atau ketika pembangunan mengabaikan karakter tanah dan lingkungan, pada akhirnya manusia yang menanggung risikonya.

Selama ini perhatian kita sering menjadi sangat besar setelah bencana terjadi. Ke depan, perhatian yang sama besarnya harus diberikan kepada pencegahan sebelum bencana terjadi. Dalam perspektif keselamatan dan keinsinyuran, pencegahan merupakan investasi.