UTAMA

Kasus BBM Diduga Bercampur Material Aneh Muncul di Bukittinggi, Mobil Advokat Mogok

×

Kasus BBM Diduga Bercampur Material Aneh Muncul di Bukittinggi, Mobil Advokat Mogok

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.ID— Kasus dugaan bahan bakar minyak (BBM) bercampur endapan mirip semen kembali terjadi di Sumatera Barat.

Kali ini, seorang advokat di Kota Bukittinggi, Arif Budiman, mengaku menemukan sedimen menyerupai semen pada filter hingga tangki mobilnya setelah kendaraan tersebut tiba-tiba mogok.

Arif mengatakan, mobil Toyota Avanza miliknya terakhir kali diisi BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di kawasan Biaro, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam, pada tanggal 1 Oktober lalu.

Namun, pada Senin (5/10/2026), kendaraan tersebut tiba-tiba mengalami mogok. Arif kemudian membawa mobilnya ke bengkel untuk dilakukan pemeriksaan dan pembongkaran guna mengetahui penyebab gangguan pada mesin.

Dari hasil pemeriksaan teknisi bengkel, ditemukan material atau sedimen yang disebut menyerupai semen pada bagian filter hingga tangki kendaraan.

Temuan tersebut membuat Arif terkejut. Sebab, gangguan kendaraan yang dialaminya bukan hanya menyebabkan mobil tidak dapat digunakan, tetapi juga membuat dirinya harus mengeluarkan biaya perbaikan yang tidak sedikit.

Baca Juga  Hadir di Kabupaten Kota, BI Siapkan Rp2,4 T Uang Ramadan untuk Warga Sumbar

“Terakhir saya mengisi Pertalite di SPBU Biaro pada 1 Oktober. Hari ini mobil tiba-tiba mogok. Setelah dibawa ke bengkel dan dibongkar, ditemukan endapan seperti semen di filter sampai ke tangki,” ujar Arif.

Menurut Arif, material tersebut cukup mengganggu sistem bahan bakar kendaraan sehingga sejumlah komponen harus diperiksa dan diganti.

Akibat kejadian itu, ia mengaku harus merogoh kocek hampir Rp2 juta untuk biaya perbaikan, termasuk penggantian komponen filter kendaraannya.

Arif berharap kejadian yang dialaminya dapat menjadi perhatian serius, terutama terkait kualitas BBM yang diterima masyarakat sebagai konsumen.

Ia menilai, jika benar material yang ditemukan pada sistem bahan bakar tersebut berasal dari BBM yang dibeli di SPBU, persoalan itu tidak boleh hanya dilihat sebagai kerusakan kendaraan konsumen semata.

“Kalau memang ini akibat BBM, tentu harus ada penelusuran. Konsumen membeli BBM tentu berharap mendapatkan bahan bakar sesuai standar, bukan justru membawa masalah ke kendaraan,” katanya.

Kasus yang dialami Arif menambah panjang laporan masyarakat terkait dugaan BBM tercampur material asing di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

Baca Juga  Mentawai Harus Berbenah Menuju Pariwisata Kelas Dunia

Sebelumnya, persoalan serupa juga menjadi perhatian Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Barat setelah menerima laporan masyarakat terkait BBM yang diduga mengandung endapan dan menyebabkan gangguan pada kendaraan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan lebih jauh mengenai mekanisme pengawasan kualitas BBM, mulai dari proses distribusi hingga penyalurannya kepada masyarakat.

Apalagi, BBM yang digunakan masyarakat tidak hanya untuk kendaraan pribadi, tetapi juga kendaraan pelayanan publik yang memiliki fungsi vital.

Karena itu, setiap laporan konsumen terkait temuan material asing dalam BBM dinilai penting untuk ditelusuri secara menyeluruh, termasuk memastikan dari mana sumber kontaminasi tersebut dan pada tahapan distribusi mana persoalan itu terjadi.

Bagi konsumen, persoalan tersebut bukan sekadar soal kendaraan mogok. Ada biaya perbaikan yang harus ditanggung, aktivitas yang terganggu, hingga kekhawatiran terhadap keamanan dan kualitas BBM yang mereka gunakan sehari-hari. (*)