Pemantauan dari Stasiun AQMS Kabupaten Padang Pariaman selama 14-23 Agustus menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berkisar antara 86 hingga 89, yang masuk dalam kategori Sedang.
Parameter konsentrasi partikulat halus (PM2,5) di Padang Pariaman juga tercatat relatif rendah dengan rata-rata 6,21. Sementara itu, parameter PM10 berada di angka rata-rata 2,15.
“Data kualitas udara yang tersedia saat ini masih menunjukkan kondisi yang terkendali. Partikulat PM2,5 dan PM10 masih relatif rendah,” terang Tasliatul.
Menariknya, pemicu utama angka ISPU di Padang Pariaman bukanlah partikel asap PM2,5, melainkan parameter Ozon (O₃) yang mencatatkan nilai rata-rata 87,12.
Selain data Padang Pariaman, pemantauan BMKG Stasiun GAW Koto Tabang di Bukittinggi juga menunjukkan kualitas udara mayoritas dalam kategori Baik sepanjang 1-23 Agustus 2026. Kategori Sedang hanya sesekali terjadi pada tanggal 2, 12, 13, 22, dan 23 Agustus.
Tasliatul mengingatkan bahwa ancaman kabut asap tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hotspot, tetapi juga faktor meteorologi seperti kecepatan serta arah angin. Oleh karena itu, keberadaan alat pemantau udara yang akurat dan real-time di Padang tetap menjadi kebutuhan mendesak.
Guna mengantisipasi ketidaksiapan data akibat lumpuhnya AQMS Padang, Pemprov Sumbar terus mengoptimalkan pemantauan cadangan serta memperkuat koordinasi antarlembaga.
“Yang penting masyarakat tidak perlu panik. Kita tetap melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Namun, perkembangan hotspot tetap harus diwaspadai karena kondisi dapat berubah,” tutup Fuadi. (*)











