HARIANHALUAN.ID — Kualitas udara di Kabupaten Dharmasraya kian mengkhawatirkan. Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi tetangga, ditambah sejumlah hotspot lokal, mulai berdampak terhadap kondisi udara yang dihirup masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Umum Pemuda PERTI Dharmasraya, Al-Ustadz Rahmat Hidayat , mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
Ia meminta anak-anak dan ibu hamil untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Jika terpaksa harus keluar rumah, masyarakat diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap.
Menurut aktivis pondok pesantren itu, kondisi kabut asap tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, karhutla juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Namun, ia menyoroti persoalan tersebut tidak hanya dari sisi kesehatan dan lingkungan. Membakar lahan hingga menimbulkan kabut asap, menurutnya, juga menyentuh persoalan moral dan keagamaan.
“Membakar lahan dan menyebabkan kabut asap adalah tindakan zalim. Dampaknya bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain yang harus menghirup udara tercemar,” ujarnya Minggu (30/8/2026).
Ia mengingatkan, perbuatan tersebut tidak berhenti pada konsekuensi hukum di dunia. Ada pula pertanggungjawaban manusia atas perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Menurutnya, ketika asap yang ditimbulkan dari pembakaran lahan mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat, maka orang lain ikut menanggung akibat dari perbuatan tersebut.
“Ini bukan hanya persoalan ada atau tidaknya sanksi hukum. Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT nanti. Jangan sampai tindakan kita merugikan dan menzalimi orang lain,” tegasnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Pembangunan Pulau Punjung itu juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan, terlebih dalam kondisi cuaca yang berpotensi memperbesar penyebaran api dan asap.
Ia juga meminta masyarakat tidak menambah beban kualitas udara dengan melakukan pembakaran terbuka.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Ketika kualitas udara memburuk, kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil menjadi pihak yang perlu mendapat perhatian lebih.











