HEADLINESUMBAR

Adopsi Pohon di DAS Sianok Pakai Tree ID, Adopter Bisa Pantau “Pohon Sendiri”

×

Adopsi Pohon di DAS Sianok Pakai Tree ID, Adopter Bisa Pantau “Pohon Sendiri”

Sebarkan artikel ini

HARIANHALUAN.ID — Bagaimana jika pohon yang Anda tanam di kawasan hulu memiliki identitas sendiri dan perkembangannya bisa diketahui meski berada jauh dari lokasi penanaman?

Konsep itulah yang ditawarkan dalam gerakan Adopsi Pohon Selamatkan DAS Sianok. Tidak sekadar mengajak masyarakat menanam pohon, program yang digagas Sekretaris Jenderal Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Sumatera Barat, Fauzi  ini juga menyiapkan Tree ID sebagai identitas bagi setiap pohon yang diadopsi.

Melalui Tree ID, setiap pohon nantinya memiliki catatan tersendiri, mulai dari jenis pohon, lokasi penanaman, waktu tanam hingga perkembangan dan kondisi pohon.

Fauzi mengatakan, konsep tersebut dibuat untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap kegiatan penghijauan.

“Kita ingin pohon yang ditanam tidak hilang begitu saja setelah kegiatan selesai. Setiap pohon memiliki identitas. Orang yang mengadopsi bisa mengetahui pohonnya, di mana ditanam dan bagaimana perkembangannya,” ujarnya Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, Tree ID sekaligus menjadi cara untuk membangun rasa memiliki antara adopter dengan pohon yang ditanam di kawasan hulu DAS Sianok.

Masyarakat yang mengadopsi pohon nantinya tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk ikut menanam, tetapi juga memiliki hubungan dengan pohon tersebut melalui identitas yang diberikan.

“Bayangkan seseorang berada di Padang, Jakarta atau daerah lain, tetapi dia punya satu pohon di hulu Sianok. Dengan Tree ID, dia bisa tahu pohon itu ditanam di mana dan bagaimana perkembangannya,” katanya.

Baca Juga  Pokdarwis Pantai Purus Terima Sarana Sampah Lengkap Senilai Rp100 Juta dari PLN Sumbar

Fauzi menilai, selama ini keberhasilan kegiatan penghijauan kerap dilihat dari jumlah bibit yang ditanam. Misalnya, satu kegiatan berhasil menanam 1.000 pohon. Namun setelah kegiatan selesai, tidak banyak yang mengetahui berapa pohon yang bertahan hidup.

Melalui konsep Tree ID, hal tersebut ingin diubah.

“Kita tidak ingin berbicara hanya soal berapa pohon yang ditanam. Kita juga harus tahu berapa yang tumbuh. Karena itu pohon perlu dipantau,” jelas Fauzi.

Dengan sistem tersebut, pohon yang diadopsi diharapkan memiliki perjalanan yang terdokumentasi. Tanam hari ini, dipantau kemudian, dan dirawat sampai tumbuh.

Konsep itu pula yang membuat program adopsi berbeda dengan aksi penanaman pohon yang hanya berlangsung satu hari.

Gerakan ini terbuka bagi masyarakat umum, keluarga, komunitas, sekolah, perguruan tinggi hingga korporasi.

Masing-masing dapat mengambil bagian melalui paket adopsi yang telah disiapkan, mulai dari  Sahabat Pohon, Penjaga Hulu, Pelindung DAS, Pahlawan Hutan hingga Mitra Hutan.

Namun, Fauzi menegaskan bahwa inti gerakan bukanlah seberapa banyak seseorang mampu mengadopsi pohon.

“Satu pohon pun tidak masalah. Yang penting ada keterlibatan. Kalau satu orang satu pohon, kemudian ribuan orang ikut, maka kita bisa memiliki ribuan pohon yang tumbuh di hulu,” katanya.

Baca Juga  Pusat Pertokoan IPPI di Eks Balaikota Padang Resmi Dibuka

Melalui Tree ID, jumlah pohon tersebut nantinya tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi dapat memiliki identitas dan riwayat masing-masing.

Hal itu diharapkan membuat gerakan penghijauan lebih transparan sekaligus menarik generasi muda yang dekat dengan teknologi digital.

Gerakan Adopsi Pohon Selamatkan DAS Sianok akan diperkenalkan melalui kegiatan  Api Unggun Fun Camp, Reboisasi dan Adopsi Pohon  pada 20–22 November 2026 di Nagari Sipinang, Jorong Paraman, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Kegiatan ini ditaja oleh Kelompok Pecinta Alam (KPA) Al-Kahfi Bukittinggi, Himpunan Mahasiswa Magister Komunikasi (HIMASTER) UNAND, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Sumbar serta beberapa NGO dan komunitas pecinta alam lainnya.

Fauzi berharap kegiatan tersebut menjadi momentum awal untuk membangun gerakan konservasi yang berkelanjutan.

“Kita ingin mengubah paradigma dari sekadar menanam menjadi menanam dan merawat. Dari sekadar punya jumlah pohon menjadi punya pohon yang bisa kita kenali dan pantau,”ujarnya.

Sebab, menurut Fauzi, menyelamatkan DAS Sianok membutuhkan keterlibatan bersama dari hulu hingga hilir.

“Pohon mungkin diam di hulu, tetapi manfaatnya dirasakan banyak orang. Karena itu, mari kita punya satu pohon, kita rawat dan kita jaga. Dari satu pohon dengan satu Tree ID, kita berharap tumbuh ribuan pohon dan menjadi hutan untuk masa depan,”pungkasnya. (*)