HEADLINESUMBARUTAMA

Gerakan Adopsi Pohon Batang Sianok, Mulai Rp20 Ribu Sudah Bisa Ikut Selamatkan DAS

×

Gerakan Adopsi Pohon Batang Sianok, Mulai Rp20 Ribu Sudah Bisa Ikut Selamatkan DAS

Sebarkan artikel ini

HARIANHALUAN.ID — Menjaga kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Sianok kini bisa dilakukan siapa saja. Melalui gerakan Adopsi Pohon Selamatkan DAS Sianok, masyarakat umum cukup menyediakan Rp20 ribu untuk mengadopsi satu pohon, sementara kalangan korporasi ditawarkan skema Rp40 ribu per pohon.

Gerakan ini digagas Sekretaris Jenderal Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Sumatera Barat,Fauzi , sebagai upaya mengajak masyarakat ikut terlibat langsung dalam pemulihan kawasan hulu DAS Sianok.

Menurut Fauzi, nilai kontribusi yang relatif terjangkau sengaja dibuat agar gerakan ini dapat diikuti masyarakat luas.

“Kita ingin siapa pun bisa ikut mengambil bagian. Dengan Rp20 ribu, masyarakat umum sudah bisa mengadopsi satu pohon. Untuk korporasi, kontribusinya Rp40 ribu per pohon. Jadi kepedulian terhadap hulu tidak harus menunggu kita memiliki kemampuan besar,”ujarnya Jumat (28/8/2026).

Ia mengatakan, jika satu orang mengadopsi satu pohon, kontribusinya mungkin terlihat sederhana. Namun jika gerakan tersebut dilakukan secara bersama-sama, ribuan pohon dapat dihimpun untuk menghijaukan kawasan hulu.

“Satu pohon memang kecil, tetapi kalau ribuan orang bergerak, hasilnya akan menjadi besar. Yang kita bangun bukan sekadar jumlah pohon, tetapi gerakan bersama untuk menjaga DAS,” katanya.

Lima Pilihan Paket Adopsi

Untuk memudahkan masyarakat menentukan bentuk kontribusinya, panitia menawarkan lima kategori adopsi pohon.

Baca Juga  MBG di Padang Terkendala Peralatan Dapur

Paket paling dasar adalah Sianok Elok Rindang, yakni satu pohon dengan kontribusi Rp20 ribu untuk umum dan  Rp40 ribu untuk korporasi. Adopter kategori ini akan menjadi Sahabat  Sianok.

Selanjutnya, masyarakat dapat memilih paket Penjaga Hulu  dengan lima pohon, Pelindung DAS sebanyak 10 pohon, hingga  Pahlawan Hutan sebanyak 25 pohon.

Sementara bagi perusahaan, komunitas maupun lembaga yang ingin berkontribusi dalam skala lebih besar, tersedia paket Mitra Hutan dengan adopsi minimal 100 pohon dan menjadi Mitra Restorasi.

Dengan skema tersebut, kontribusi masyarakat umum misalnya dapat dimulai dari:

 🌱 1 pohon  :Rp20 ribu

🌿 5 pohon :Rp100 ribu

🌳 10 pohon: Rp200 ribu

🌲 25 pohon: Rp500 ribu

🌳 100 pohon: Rp2 juta

Sedangkan untuk korporasi:

 🌱 1 pohon: Rp40 ribu

🌿 5 pohon: Rp200 ribu

🌳 10 pohon:  Rp400 ribu

🌲 25 pohon: Rp1 juta

🌳 100 pohon: Rp4 juta

*Besaran tersebut mengikuti skema kontribusi per pohon yang ditetapkan panitia.*

Fauzi menegaskan, konsep yang ditawarkan bukan sekadar mengumpulkan uang untuk membeli bibit kemudian menanamnya.

Semangat utama program adalah membangun keterikatan antara masyarakat dengan pohon yang mereka adopsi.

 “Kita tidak ingin setelah uang diberikan kemudian selesai. Pohon yang diadopsi harus ditanam, dirawat dan dipantau. Karena keberhasilan gerakan ini bukan hanya berapa banyak pohon yang kita tanam, tetapi berapa banyak yang bisa tumbuh,” jelasnya.

Baca Juga  Annisa-Leli Realisasikan Program Bantuan bagi Ibu Hamil di Dharmasraya

Ke depan, setiap pohon yang diadopsi akan diarahkan memiliki identitas atau Tree ID, sehingga adopter dapat mengetahui jenis dan lokasi pohon serta perkembangan penanamannya.

Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan bahwa kontribusi Rp20 ribu yang mereka keluarkan benar-benar menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan hulu.

“Kami ingin lahir rasa memiliki. Orang bisa mengatakan, ‘Saya punya pohon di hulu Sianok.’ Dari satu pohon itu tumbuh kepedulian, kemudian kepedulian itu menjadi gerakan,” tutur Fauzi.

Gerakan Adopsi Pohon Selamatkan DAS Sianok  tersebut akan diperkenalkan melalui kegiatan Api Unggun Fun Camp, Reboisasi dan Adopsi Pohon pada 20–22 November 2026 di Nagari Sipinang, Jorong Paraman, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Fauzi berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari gerakan yang lebih luas, dengan melibatkan masyarakat umum, komunitas, sekolah, perguruan tinggi dan dunia usaha.

“Kalau satu orang mengadopsi satu pohon, kita mulai dari satu. Kalau seribu orang bergerak, menjadi seribu pohon. Dari ribuan pohon itulah kita berharap tumbuh hutan yang bisa menjaga hulu dan kehidupan di hilir,”pungkasnya. (*)