BREAKING NEWSHEADLINE

AQMS Kota Padang Kembali Berfungsi Normal, DLH Sumbar: Pemantauan Kualitas Udara Kembali Optimal

×

AQMS Kota Padang Kembali Berfungsi Normal, DLH Sumbar: Pemantauan Kualitas Udara Kembali Optimal

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat memastikan alat pemantau kualitas udara atau Air Quality Monitoring System (AQMS) Kota Padang yang sebelumnya mengalami gangguan kini telah kembali berfungsi normal.

Kepala DLH Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan perbaikan terhadap sistem AQMS tersebut telah dilakukan sehingga data pemantauan kualitas udara di Kota Padang kini kembali dapat dipantau.

“Alhamdulillah, AQMS Kota Padang  sudah bisa berfungsi normal sejak pagi kemarin,” ujarnya kepada Haluan, Jumat (28/8/2026).

Sebelumnya, AQMS Kota Padang tidak terkoneksi sejak 17 Juni 2026 akibat adanya gangguan pada sistem pemrosesan data. Kondisi tersebut sempat menjadi salah satu kendala dalam pemantauan kualitas udara, terutama di tengah meningkatnya titik panas dan munculnya kabut tipis di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

DLH Kota Padang sebelumnya telah melaporkan gangguan tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Sementara itu, DLH Sumbar pada 19 Agustus 2026 juga telah menyampaikan surat permohonan perbaikan alat AQMS kepada Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH.

Baca Juga  Tak Berselang Lama, Tujuh Kantong Jenazah Kembali Tiba di RSAM Bukittinggi

Dengan kembali berfungsinya AQMS Kota Padang, menurut Fuadi, pemantauan kualitas udara di Sumbar menjadi lebih optimal. Data dari alat tersebut dapat menjadi salah satu acuan untuk melihat perkembangan konsentrasi polutan, khususnya partikulat halus PM2,5 dan PM10.

“Dengan sudah normalnya alat, tentu pemantauan kita menjadi lebih lengkap. Kita bisa melihat perkembangan kualitas udara secara lebih baik dan melakukan langkah antisipasi apabila terjadi perubahan,” ujarnya.

Fuadi menegaskan, meskipun alat AQMS telah kembali normal, DLH Sumbar tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi kualitas udara dan perkembangan titik panas di Sumbar maupun provinsi tetangga.

Sebelumnya, berdasarkan pemantauan Stasiun AQMS Padang Pariaman periode 14-23 Agustus 2026, konsentrasi PM2,5 masih berada pada level relatif rendah, dengan rata-rata 6,21 dan nilai maksimum 9. Sementara PM10 rata-rata tercatat 2,15.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada periode tersebut juga masih berada pada rentang 86-89 dan seluruh 240 jam pengamatan masuk kategori Sedang. Tidak ditemukan nilai yang mencapai kategori Tidak Sehat.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena hotspot masih terdeteksi di sejumlah daerah. Data pemantauan tiga satelit, yakni NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20, mencatat sebanyak 103 titik panas di Sumbar sepanjang 14-23 Agustus 2026.

Baca Juga  Remaja 14 Tahun Tenggelam di Pantai Muaro Putuih Tiku, Pencarian Dilanjutkan Besok Pagi

Fuadi mengatakan keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan kualitas udara akan langsung memburuk. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh jarak titik api, arah angin, kecepatan angin, serta kondisi meteorologi.

“Hotspot tetap kita pantau. Dengan AQMS yang sekarang sudah kembali normal, kita bisa melihat apakah ada pengaruh terhadap kualitas udara, terutama ketika terjadi perubahan arah angin atau ada asap yang masuk ke wilayah permukiman,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak hanya mengandalkan kondisi visual ketika menilai kualitas udara. Kabut atau kondisi udara yang tampak keruh belum tentu menunjukkan peningkatan partikulat yang signifikan sehingga diperlukan data hasil pemantauan instrumen.

“Untuk saat ini kita tetap pantau. Yang penting masyarakat tidak perlu panik, tetapi kewaspadaan tetap ada. Kalau terjadi perubahan kualitas udara, data AQMS akan membantu kita melihat kondisi tersebut secara lebih objektif,” pungkasnya. (*)