HARIANHALUAN.ID — Kualitas udara di sejumlah wilayah perbatasan Sumatera Barat masih mengkhawatirkan akibat kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari provinsi tetangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Tasliatul Fuadi, mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah sumber karhutla.
“Pemantauan menunjukkan kualitas udara di Dharmasraya dan Sijunjung masih berada pada kategori tidak sehat.
Di Dharmasraya, indeks PM2.5 pada Rabu (26/8) mencapai 90,2 µg/m³ dengan ISPU 141. Sehari berikutnya, Kamis (27/8) pukul 15.00 WIB, PM2.5 turun menjadi 74,8 µg/m³ dan ISPU 121.
Kondisi sempat membaik pada Jumat (28/8) pukul 04.00 WIB. PM2.5 berada di angka 60,3 µg/m³ dengan ISPU 104.
Namun, memasuki pukul 13.00 WIB, angka tersebut kembali naik. PM2.5 tercatat 64,4 µg/m³ dan ISPU 113. Status kualitas udara masih tidak sehat.
Sementara di Sijunjung, pantauan IQAir pada Jumat (28/8) pukul 13.00 WIB mencatat AQI US 154 dengan PM2.5 sebesar 59,8 µg/m³. Kondisi itu juga masuk kategori tidak sehat.
Menurut Fuadi, kondisi tersebut dipengaruhi asap karhutla yang terbawa angin dari wilayah provinsi tetangga. Arah dan kecepatan angin menyebabkan asap dapat masuk ke wilayah Sumbar, khususnya kawasan perbatasan.
“Asap dari provinsi tetangga terbawa angin dan berdampak terhadap kualitas udara di wilayah perbatasan Sumbar,” ujarnya.
Fuadi mengingatkan masyarakat di daerah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk dan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan. (*)










