HEADLINE

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (12 – Tamat) : Berwisata ke Jepang Menguras Isi Kantong

×

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (12 – Tamat) : Berwisata ke Jepang Menguras Isi Kantong

Sebarkan artikel ini

Keterangan foto : Foto penulis di Bandara Narita mau pulang ke tanah air.

Oleh Dr. H. Jufri Syahruddin

Perjalanan penulis ke Jepang selama 9 hari yang meliputi  Tokyo, Osaka dan Kyoto akhirnya tuntas juga.

Setelah menyaksikan dari dekat berbagai keadaan dan sistem yang ada di tiga kota tersebut mulai dari gaya hidup, fasilitas ibadah, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, wilayah pemerintahan sampai kepada sarana transportasi taksi, kereta dan bus, akhirnya pada hari Rabu malam 6 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 waktu Jepang penulis balik ke Indonesia via Bandara Internasional Narita dengan pesawat ANA (All Nippon Airlines).

Banyak pelajaran, pengalaman dan pengetahuan yang penulis peroleh di negeri Sakura sebagai tambahan bekal hidup dan kehidupan baik untuk diri sendiri maupun masyarakat kita di tanah air.

Sebagaimana telah penulis paparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya bahwa dari segi kehidupan duniawi orang Jepang jauh lebih unggul dari bangsa Indonesia. Kita masih jauh tertinggal dari mereka, baik dari segi sistem kehidupan, pengetahuan, teknologi, dan keterampilan maupun etika moral.

Yang mencolok perbedaannya adalah gaya hidup orang Jepang dengan kita di Indonesia. Hal ini disebabkan perbedaan pendapatan. Gaji di Jepang kisarannya  35 juta sampai 54 juta sebulan sementara kita masih 2 juta sampai 5 juta. Hal inilah yang menyebabkan harga2 bisa mencapai 6 hingga 10 kali lipat dari harga barang di Indonesia. Misalnya, 1 porsi makan di Tokyo mencapai 300  sampai 600 ribu rupiah.

Wisatawan yang berwisata ke Jepang harus lebih siap untuk menghadapi biaya tinggi di sana. Hidup di Jepang betul-betul menguras isi kantong. Tidak saja untuk kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk perumahan, sandang pangan, transportasi dan penginapan.

Baca Juga  Ketua DPRD Agam Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Biaya hidup di Negeri Sakura mencapai 6 sampai 10 kali biaya hidup di tanah air. Padahal, nilai tukar uang rupiah terhadap Yen tidaklah terlalu tinggi, yakni 1 Yen sama dengan 110 rupiah.

Jika kita bandingkan dengan ringgit Malaysia dan dolar Singapura, Yen Jepang jauh lebih rendah. Sekarang 1 ringgit Malaysia sama dengan 4350  rupiah, sedangkan 1 dolar Singapura setara dengan 13.712 rupiah.

Di Malaysia kita masih bisa beli nasi ampera 30.000-50.000 sekali makan, di Singapura 75.000  sampai 120.000 rupiah. Sementara itu, di Korea Selatan harga 1 porsi makan di restoran berlabel halal berkisar dari 95.000  hingga 235.000 rupiah.

Sedangkan di Jepang untuk makan 1 porsi di restoran halal bisa mencapai 175.000 hingga 500.000 rupiah. Memang sulit dan mahal sekali kalau cari makan di restoran yang menyediakan menu halal di Jepang dan Korea Selatan. Jika kita makan di restoran yang bukan berlabel halal, harganya lebih murah yakni berkisar dari 110.000 sampai 175.000 rupiah..

Biaya transportasi juga mahal. Sewa bus dalam kota mulai dari 20 ribu hingga 60 ribu, sewa kereta komuter dalam kota juga berkisar dari 20 ribu sampai 36 ribu rupiah. Akan tetapi, sewa kereta cepat Shinkansen  dari Tokyo ke Osaka mencapai 1,6 juta rupiah.

Namun, kalau naik taksi akan lebih mahal lagi dan bervariasi. Sewa taksi Tokyo-Narita 3 juta, Tokyo-Haneda 800  ribu hingga 1 juta rupiah, sedangkan sewa taksi dalam kota bervariasi. Jarak tempuh 2 km sewanya 110 ribu, 5 km 275 ribu dan 10 km 550 ribu rupiah.

Baca Juga  Rumah Sakit, Simpan Berbagai Kisah Kehidupan

Suatu perbandingan lagi adalah harga beras yang amat mahal. Di Jepang harga 1 kg beras mencapai 180.000, sedangkan di Padang dengan jumlah tersebut kita sudah bisa beli beras 10 kg.
   
Biaya penginapan di Jepang juga tergolong tinggi. Untuk menginap satu malam di hotel paling murah, wisatawan harus merogoh kantong sebesar 400 – 700 ribu rupiah. Untuk hotel menengah sekitar 800 ribu sampai 1,5 juta rupiah satu malam.

Anda ingin beli oleh-oleh? Tunggu dulu sebelum tahu harganya. Mau beli mainan kunci saja harganya berkisar 100 ribu sampai 125 ribu yang di Indonesia hanya 5 ribu sampai 10 ribu saja. Jika ingin beli baju kaos oblong bertulis Jepang atau Tokyo harganya mencapai 350 ribu rupiah sedang di tanah air bisa dapat 50 ribu.

Itulah gambaran kecil tentang biaya hidup di Jepang yang harus diketahui oleh calon pelancong ke negeri Sakura tersebut.  

Pelajaran dan pengalaman yang penulis paparkan secara bersambung ini diharapkan dapat memancing pemikiran pemerintah dan masyarakat kita untuk menirunya. Kalau di Sumbar tentu kita serahkan kepada “tunggu tigo sajarangan” yakni ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai.

Kepada pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif kita juga meminta agar proses pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang ada di Jepang ini bisa juga diaplikasikan di negeri kita secara sungguh2 dan dengan itikad baik. Jangan hanya studi banding atau studi tiru ke luar negeri menghabiskan dana untuk jalan-jalan belaka serta liburan dan rekreasi yang tidak memberi banyak manfaat terhadap kemajuan bangsa. (Tamat)