Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Sumbar mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan bencana seperti bantaran sungai dan daerah tebing, untuk meningkatkan kewaspadaan. “Jika terjadi hujan lebat dengan durasi lama, masyarakat diharapkan segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman,” kata Ilham.
Di sisi lain, BPBD Sumbar juga tetap mengantisipasi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino. Namun, Ilham menyebut Sumbar memiliki karakteristik wilayah yang relatif basah sepanjang tahun. “Kami tetap siaga terhadap bencana hidrometeorologis. Namun belajar dari pengalaman, dampak kekeringan di Sumbar biasanya tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Sumbar pun telah menyiagakan empat unit mobil tangki air serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota di seluruh wilayah Sumbar.
Pencarian Masih Dilakukan
Pencarian dan pertolongan terhadap korban hanyut akibat banjir di Sungai Nagari Alahan Mati, Kecamatan Simpati, Kabupaten Pasaman dilaporkan masih terus berlangsung hingga hari kedua, Rabu (15/4). Tim SAR gabungan memperluas area pencarian dengan membagi personel ke dalam tiga Search and Rescue Unit (SRU).
Kepala Kantor SAR Kelas A Padang, Abdul Malik menjelaskan bahwa operasi SAR dimulai setelah pihaknya menerima laporan dari Wali Nagari Alahan Mati, Rivo Niswar, pada Selasa (14/4) pukul 19.03 WIB.
“Pada hari kedua operasi, tim kami melanjutkan pencarian sejak pukul 07.30 WIB dengan membagi kekuatan menjadi tiga SRU untuk memaksimalkan jangkauan pencarian di lokasi kejadian,” ujarnya.
Peristiwa tersebut bermula pada Selasa sore sekitar pukul 17.00 WIB, saat hujan deras menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap. Sebuah mobil yang ditumpangi korban terjebak banjir. Ketika berupaya keluar dari kendaraan, korban diduga terseret arus sungai yang deras.
Dua orang dilaporkan menjadi korban dalam kejadian ini, yakni Dewi Hayati (50), perempuan, yang hingga kini masih dalam pencarian, serta Meji Ardi (37), laki-laki, yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Dalam pelaksanaan operasi SAR, SRU 1 melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian perkara (LKP). Sementara itu, SRU 2 menyisir aliran sungai menggunakan perahu rafting sejauh 2 kilometer dari titik awal hingga koordinat yang telah ditentukan. SRU 3 melakukan penyisiran darat di sepanjang sisi kiri dan kanan sungai dengan jarak yang sama.
Operasi ini melibatkan berbagai unsur, antara lain personel Pos Pencarian dan Pertolongan Pasaman, BPBD Kabupaten Pasaman, Polsek Bonjol, TNI, Kelompok Siaga Bencana (KSB) Alahan Mati, serta masyarakat setempat. Sejumlah peralatan turut dikerahkan dalam operasi tersebut, seperti rescue car, perahu LCR, perahu rafting, perlengkapan SAR air, medis, komunikasi, serta alat evakuasi lainnya.
Abdul mengungkapkan bahwa kondisi cuaca hujan ringan serta arus sungai yang deras menjadi kendala utama dalam proses pencarian. Meskipun demikian, tim SAR gabungan tetap berupaya maksimal untuk menemukan korban yang masih hilang. “Kami terus berupaya melakukan pencarian secara optimal dengan memperhatikan keselamatan seluruh personel di lapangan,” tuturnya. (*)












