Gen yang Mengatur Suara Kokok
Salah satu pertanyaan paling menarik adalah: mengapa sebagian ayam mampu berkokok panjang dan merdu? Atau pada AKB mengapa ada ayam jantan punya suara kokok balenggek sebagian ayam lain tidak balenggek. Para peneliti berhasil mengidentifikasi beberapa gen yang diduga berperan dalam pengaturan vokalisasi unggas, antara lain gen FOXP2, ZENK, dopamine receptor, dan CCKBR (Arlina, 2026). Gen-gen tersebut berhubungan dengan kemampuan produksi suara, kontrol saraf vokal, respons hormonal, serta perilaku komunikasi pada unggas. Meskipun mekanisme genetik ayam penyanyi Indonesia masih belum sepenuhnya terungkap, namun temuan ini membuka peluang penelitian genomik yang sangat menarik di masa depan.
Menjadikan Indonesia Pusat Riset Ayam Penyanyi Dunia
Perkembangan teknologi digital telah membuka cabang ilmu baru yang disebut bioakustik, yaitu studi mengenai suara yang dihasilkan makhluk hidup. Pada unggas, suara diproduksi oleh organ yang disebut syrinx, yaitu organ yang terletak pada percabangan trakea dan bronkus. Organ ini bekerja seperti alat musik biologis yang menghasilkan berbagai variasi suara melalui getaran membran saat udara keluar dari paru-paru.
Melalui perangkat lunak analisis suara, peneliti dapat mengukur berbagai parameter suara kokok seperti: jumlah suku kata kokok, jumlah lenggek, frekuensi suara kokok, amplitudo, durasi kokok, pola spektrum suara, dan interval antar kokok. Penelitian bioakustik pada AKB, Pelung, dan Bekisar menunjukkan bahwa masing-masing ayam memiliki “sidik suara” (acoustic fingerprint) yang berbeda dan dapat digunakan untuk identifikasi rumpun ayam berbasis suara kokok.
Yang lebih menarik, suara kokok ternyata tidak hanya berfungsi untuk kesenangan. Saat ini vokalisasi mulai dipelajari sebagai biosensor. Perubahan pola suara dapat mencerminkan kondisi fisiologis, tingkat stres, kesehatan, maupun kenyamanan lingkungan ternak. Vokalisasi pada unggas dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan hewan.Gagasan ini potensial menjadikan ayam penyanyi sebagai objek penelitian bioakustik.
Hingga kini, publikasi ilmiah mengenai ayam penyanyi Indonesia relatif terbatas. Padahal Indonesia merupakan adalah negara yang memiliki empat rumpun ayam penyanyi dengan karakter vokalisasi khas. Kombinasi antara kekayaan genetik, nilai budaya, nilai ekonomi, dan peluang riset bioakustik menjadikan ayam penyanyi Indonesia layak diposisikan sebagai ikon sains nasional. Jika dikelola secara serius, Indonesia berpeluang menjadi pusat penelitian bioakustik unggas tropis dunia. Di balik setiap lenggek kokok AKB, alunan suara kokok ayam Pelung, lantunan melodi ayam Bekisar, atau suara tawa ayam Gaga, tersimpan kekayaan hayati Nusantara yang layak dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.






