Oleh: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng.
(Dosen Fak. Peternakan, Peneliti Ayam Kokok Balenggek)
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran) Tuhan bagi orang-orang yang beriman”
(QS. An-Nahl: 79)
Di tengah dominasi industri perunggasan modern yang berorientasi produksi daging dan telur, Indonesia menyimpan kekayaan hayati unik, yaitu “ayam penyanyi”. Jika kebanyakan ayam dikenal karena produktivitasnya sebagai ayam pedaging atau petelur, sebagian ayam lokal Indonesia dikenal memiliki suara kokok merdu. Keunikan tersebut tidak hanya melahirkan komunitas penggemar yang fanatik, tetapi juga membuka peluang penelitian dalam bidang bioakustik, genetika, konservasi plasma nutfah, hingga kesejahteraan hewan (animal welfare).
Indonesia merupakan negara mega biodiversitas dan memiliki puluhan rumpun ayam lokal. Terdapat empat rumpun ayam yang dikenal sebagai ”ayam penyanyi”, yaitu ayam Kokok Balenggek (AKB) dari Sumatera Barat, ayam Pelung dari Jawa Barat, ayam Bekisar dari Jawa Timur, dan Ayam Gaga atau ayam Ketawa dari Sulawesi Selatan. Keempat galur ayam tersebut diakui sebagai sumber daya genetik ternak yang memiliki nilai biologis, ekonomi, sosial, dan budaya yang tinggi.
Ayam penyanyi merupakan plasma nutfah unggas yang unik. AKB sebagai ayam khas Kabupaten Solok telah ditetapkan sebagai rumpun ayam lokal Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian pada tahun 2011. Bagi para penggemar, kemerduan suara kokok dapat menentukan nilai jual seekor ayam. Ayam pemenang kontes memiliki harga jual berkali-kali lipat dibanding ayam Kampung biasa.
Fenomena “Ayam Penyanyi”
“Ayam penyanyi” adalah ayam yang memiliki suara kokok merdu dan menyenangkan hati orang yang mendengarnya (Rusfidra, 2004). AKB merupakan ayam lokal Ranah Minang, memiliki suara kokok berirama merdu dan bersusun-susun atau bertingkat-tingkat (balenggek: bahasa Minang). Ayam Pelung adalah ayam lokal di Cianjur Jawa Barat memiliki suara kokok besar, mengalun panjang dan mendayu-dayu. Ayam Bekisar adalah fauna maskot Provinsi Jawa Timur yang mempunyai suara kokok pendek dan melengking. Ayam Gaga adalah ayam lokal dari Sulawesi Selatan yang memiliki suara kokok seperti suara orang tertawa. Karena itu ayam Gaga juga dikenal dengan nama ayam Ketawa.
Pola suara kokok AKB berbeda dengan pola kokok ayam Pelung, Bekisar dan Ketawa. Suara kokok AKB terbagi atas tiga bagian, yaitu kokok bagian depan, kokok tengah dan kokok bagian belakang (disebut lenggek kokok). Kokok depan terdiri atas suku kata kokok pertama, kokok tengah terdiri atas suku kata kokok kedua dan ketiga, dan kokok ujung terdiri atas suku kata kokok keempat sampai terakhir (Rusfidra, 2004; 2006). Rataan durasi kokok ayam domestik pada umumnya berkisar antara 2-3 detik (Siegel dan Dunington, 1990). Ayam Toutenko, Toumaru dan Koeyoshi di Jepang mampu berkokok selama 15 detik (Tsudzuki, 2003). Durasi kokok ayam Pelung berkisar antara 3,0-8,9 detik (Jatmiko, 2001).






