Oleh : AFRIANITA
PADANG, HALUAN—PT Bank Negara Indonesia (BNI) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendapatkan permodalan sehingga punya peluang untuk lebih berkembang.
Salah satu penerima manfaat KUR BNI adalah Enimaryati, pemilik usaha PMD atau kelontong “Toko Eni” yang belokasi dekat SD Negeri No.21 Sungai Bangek Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumatra Barat.
Jika selama ini banyak usaha yang gagal di tangan generasi kedua, maka tidak demikian halnya dengan Toko Eni, Enimaryati justru membuat usaha warisan keluarganya berkembang dan besar.
Hasil dari perkembangan usahanya saat ini ia bisa membeli mobil baru, serta rumah 8 kamar yang disewakan untuk kos-kosan mahasiswa atau karyawan.
Sebelumnya ketika masih dikelola orangtuanya, barang-barang yang dijual di tokonya belum sebanyak seperti sekarang, omzet yang didapatkan per hari juga belum maksimal baru berkisar Rp2 juta-an.
Usaha toko barang hariannya berkembang pesat setelah ia mendapatkan tambahan permodalan dari BNI melalui Program KUR, bahkan hingga tiga kali.
“Alhamdulillah, sekarang omzet sehari bisa Rp5 jutaan dan barang-barang yang dijual juga semakin bertambah dan lengkap sehingga apapun yang dibutuhkan pelanggan Inshaa Allah ada ,” ujarnya kepada Haluan, Rabu (17/6).
Enimaryati menyebut awalnya ia meminjam KUR untuk tambahan modal usaha ke BNI sekitar tahun 2000-an, ketika ia dan suami pindah dari Karawang Provinsi Jawa Barat ke Padang.
Setelah beberapa lama merantau ke Karawang, ia dan keluarganya memutuskan pindah ke Padang guna melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh orang tuanya.
Awalnya Enimaryati meminjam sebesar Rp400 juta yang digunakan untuk menambah stok barang, memperbaiki serta kebutuhan toko lainnya.
Ia meminjam dengan jangka waktu selama 4 tahun, dengan angsuran sekitar Rp9 juta per bulan yang selalu dibayar tepat waktu dan tidak pernah terlambat.
Setahun setelah meminjam, Toko Eni berkembang pesat sehingga ia mengajukan pinjaman kembali ke BNI karena butuh tambahan modal yang juga semakin besar.
Enimaryati meminjam lebih banyak dari sebelumnya yakni Rp450 juta dengan jangka waktu yang sama sedangkan angsuran menjadi Rp10,5 juta per bulan.
Terhitung sudah tiga kali ia menambah modal usaha dengan KUR BNI dan pinjaman tersebut telah membantu Enimaryati dalam mengembangkan usahanya agar semakin besar.
Saat ini omzetnya per hari sudah mencapai hampir tiga kali lipat dari sebelumnya, bahkan dari usahanya ia juga bisa memberdayakan karyawan untuk membantu mengurus toko.
“KUR dari BNI sangat membantu kami dalam mendapatkan tambahan permodalan guna melanjutkan usaha ini sehingga bisa berkembang dan besar, “ tutupnya.
Business Team Leader BNI Kantor Cabang Padang , Tita Sari Tasman mengatakan penyaluran KUR di area tersebut selama tahun 2025 sudah lebih Rp219 miliar.
“Hingga akhir Desember 2025 KUR sudah disalurkan Rp124,446 miliar kepada sebanyak 866 nasabah atau UMKM,” ujarnya kepada Haluan, Kamis (18/6).
Sedangkan untuk tahun ini atau hingga April 2026, penyaluran KUR di cabang yang berada di bawah naungan dan operasional BNI Wilayah 02 itu sudah senilai Rp125,446 miliar untuk 444 UMKM.
Ia mengatakan penyaluran KUR tersebut diantaranya untuk sektor perdagangan besar dan eceran seperti Toko Eni, yang mencapai Rp147 miliar dari penyaluran KUR hingga April 2026.
BNI sebutnya, senantiasa membantu UMKM untuk tumbuh dan berkembang dengan bantuan permodalan seperti KUR dengan bunga rendah dan syarat lebih mudah.
Ditambahkannya pinjaman KUR minimal Rp10 juta dan maksimal Rp500 juta dengan bunga rendah 6 persen per tahun serta bebas jaminan tambahan untuk pinjaman hingga Rp100 juta.
740 Ribu UMKM di Sumbar
Terpisah Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatra Barat, Endrizal mengatakan jumlah UMKM di Sumbar naik signifikan dari 594 ribu pada 2024 menjadi lebih 740 ribu pada 2025.
“Dominannya adalah pelaku usaha mikro 738.322, kemudian usaha kecil 1.750 dan 275 usaha menengah tersebar di 19 kabupaten dan kota se-Sumatra Barat,” ujar Endrizal ketika dikonfirmasi Haluan di Padang, Jumat (19/6).
Ia mengatakan berbagai program disiapkan pemerintah untuk mendorong UMKM naik kelas diantaranya memfasilitasi pengurusan legalitas usaha dan produk seperti pengurusan NIB, Sertifikasi Halal, Merk, P-IRT, BPOM.
Selanjutnya juga meningkatkan literasi keuangan UMKM dengan memberikan bimtek dan pelatihan, juga memfasilitasi pemasaran produk on line dan offline.
Kemudian membantu peningkatan kualitas produk melalui layanan kemasan, pembinaan berbasis kawasan dan meningkatkan kapasitas SDM UMKM melalui Pluzy Academy.
“UMKM merupakan penggerak ekonomi daerah. Dengan kerja keras, kreativitas dan kolaborasi, menjadi usaha yang mandiri, berdaya saing dan mampu menembus pasar lebih luas lagi,” harapnya.
KUR Tingkatkan Kapasitas UMKM
Sementara itu Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan UMKM telah menjadi penopang utama perekonomian daerah karena berbagai alasan.
Diantaranya menyerap tenaga kerja, menjaga perputaran uang lokal, menghidupkan pasar rakyat, menopang sektor pangan, mendukung pariwisata, dan memperkuat ekonomi keluarga.
“Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh memperlakukan UMKM hanya sebagai penerima bantuan sosial ekonomi, tetapi pemerintah harus melihatnya sebagai basis produksi rakyat,” ujarnya, Minggu (21/6).
Alokasi KUR secara nasional sekitar Rp300 triliun dan realisasi lebih dari Rp100 triliun hingga April 2026 dikatakannya menunjukkan besarnya ruang pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Klaim bahwa KUR juga dapat meningkatkan kapasitas UMKM sekitar 34 persen dan mendorong PAD sekitar 18–27 persen, menurutnya juga patut dibaca sebagai peluang strategis.
Ia menambahkan kredit produktif dapat memperbesar omzet, memperluas usaha, menciptakan pekerjaan, dan memperkuat basis pajak daerah. Tetapi KUR tidak boleh berhenti sebagai kredit murah, sebaliknya harus menjadi pintu masuk transformasi UMKM.
“Transformasi itu membutuhkan arah yang jelas. Pemerintah daerah perlu memetakan sektor unggulan lokal. Jika daerah hanya menjual bahan mentah, daerah akan terus kehilangan manfaat terbesar dari kekayaan lokalnya,” tuturnya.
Memasuki usianya yang ke-80 pada 5 Juli 2026, bank pertama milik Negara Indonesia ini bangkit untuk kembali mencetak sejarah sebagai institusi keuangan yang besar dan konsisten dalam perjalanan panjangnya.
BNI sangat menyadari bahwa bisnis perbankan akan mampu bertumbuh signifikan jika UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan negara mampu berkembang.
BNI melalui Program KUR telah sangat berdampak dalam membantu pelaku usaha mendapatkan kesempatan mengakses permodalan yang mudah dan berbunga rendah.
Dengan dukungan permodalan KUR dari BNI banyak usaha semakin berkembang, pendapatan mereka meningkat yang pada akhirnya mendorong terciptanya lapangan pekerjaan serta kemandirian ekonomi masyarakat. (*)












