OPINI

Paradoks Industri Gim Lokal Indonesia

×

Paradoks Industri Gim Lokal Indonesia

Sebarkan artikel ini
Yuni Candra (Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang)

Oleh: Yuni Candra (Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang)

Industri gim Indonesia berkembang pesat seiring meningkatnya jumlah pemain, meluasnya konsumsi digital, dan semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap sektor ekonomi kreatif. Perkembangan ini menempatkan gim bukan lagi sekadar hiburan, melainkan bagian dari industri masa depan yang bernilai ekonomi tinggi.

Di balik optimisme tersebut, tersimpan paradoks yang belum terselesaikan. Indonesia menjadi salah satu pasar gim terbesar di dunia, tetapi sebagian besar nilai ekonominya justru dinikmati perusahaan asing melalui platform dan penerbit global. Akibatnya, pertumbuhan konsumsi belum diikuti oleh penguatan kapasitas produksi nasional.

Besarnya pasar tercermin dari tingginya penetrasi internet. APJII mencatat pengguna internet Indonesia mencapai 229 juta jiwa atau 80,66 persen dari total populasi pada 2025 (APJII, 2025). Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut jumlah pemain gim di Indonesia telah melampaui 154 juta orang, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar gim terbesar di dunia (Komdigi, 2025).

Namun, dominasi gim global seperti Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG Mobile masih sulit ditandingi. Di sisi lain, kontribusi pengembang lokal diperkirakan masih di bawah lima persen dari nilai industri nasional, sehingga pasar tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menciptakan produk sendiri.

Paradoks tersebut memunculkan dua pertanyaan yang layak direnungkan. Mengapa pasar sebesar Indonesia belum mampu melahirkan ekosistem pengembang gim lokal yang berdaya saing global? Apakah Indonesia sedang membangun industri gim nasional, atau sekadar memperkuat posisinya sebagai pasar bagi ekonomi digital dunia??

Besar sebagai Pemain, Kecil sebagai Pencipta

Indonesia tengah menikmati bonus demografi ditandai dengan dominasi generasi muda yang akrab dengan teknologi, gim, dan budaya digital. Potensi ini seharusnya menjadi modal besar untuk melahirkan industri gim nasional yang kuat. Namun, besarnya jumlah pemain gim belum berbanding lurus dengan lahirnya pengembang gim lokal yang kompetitif.

Baca Juga  Rintihan Petani Gambir yang Tak Terdengar 

Hambatan utama bukan terletak pada kreativitas, melainkan lemahnya ekosistem industri ini. Akses pendanaan masih terbatas, investor yang memahami bisnis gim masih sedikit, dan dukungan terhadap pengembangan usaha belum mampu membawa banyak studio lokal menembus pasar.

Akibatnya, tidak sedikit pengembang berhenti pada tahap purwarupa karena gagal bertahan dalam persaingan. Paradoks ini melahirkan talent consumption gap: Indonesia melimpah pengguna gim, tetapi masih kekurangan produsen yang mampu menghasilkan produk berdaya saing global.

Sudah Menjadi Industri Strategis?

Perdebatan mengenai industri gim kemudian bergeser pada arah kebijakan. UNESCO (2022) menempatkan industri kreatif digital sebagai sektor strategis karena berperan dalam mendorong inovasi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekonomi. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, sektor ini sulit berkembang secara berkelanjutan.

Ekonom INDEF, Andri Satrio Nugroho (2026), menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam industri gim, tetapi belum ditopang adanya insentif fiskal, skema pembiayaan, dan dukungan riset yang memadai. Kondisi ini membuat penguatan industri berjalan lambat meski pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 19 Tahun 2024.

Kajian Peta Ekosistem Industri Gim Indonesia 2020 (Kominfo, LIPI, & AGI, 2021) mengungkap lemahnya keterhubungan antarpelaku industri yang menghambat pengembangan talenta dalam ekosistem yang belum terintegrasi dan masih terfragmentasi.

Sebagian pelaku industri menilai hambatan tidak hanya berasal dari kebijakan, tetapi juga dari belum terbentuknya ekosistem bisnis yang mampu menghubungkan modal, talenta, dan pasar global secara berkelanjutan.

Perbedaan pandangan ini menegaskan bahwa pertumbuhan industri gim tidak cukup ditopang besarnya pasar. Diperlukan kebijakan yang tegas sekaligus ekosistem yang solid agar Indonesia mampu bertransformasi dari pasar digital menjadi produsen gim yang berdaya saing global.

Baca Juga  Urgensi Peraturan Pemerintah sebagai Pedoman Perda Hukum Adat dalam KUHP Nasional

Pasar Digital atau Produsen Global

Indonesia saat ini sedang berada pada persimpangan antara berada di pasar digital yang besar atau berkembang sebagai produsen ekonomi kreatif global. Ketimpangan terlihat jelas antara tingginya konsumsi dan terbatasnya produksi nilai tambah di dalam negeri.

BPS mencatat ekonomi digital Indonesia tumbuh di atas 5 persen per tahun, didorong oleh konsumsi rumah tangga digital, termasuk hiburan berbasis aplikasi dan gim. Namun, pertumbuhan tersebut belum diikuti oleh peningkatan signifikan pada kapasitas produksi nasional.

Akibatnya, laju konsumsi berjalan lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi lokal dalam menciptakan nilai ekonomi. Kondisi ini menunjukkan ketidakseimbangan dalam struktur ekonomi digital yang sedang berkembang.

Situasi tersebut menggambarkan value capture gap, yakni ketika negara dengan pasar besar belum sepenuhnya memperoleh manfaat ekonomi dari industri yang dikonsumsinya, sehingga nilai utama justru banyak mengalir ke luar negeri.

Menutup Kesenjangan

Mengatasi paradoks ini membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar dorongan kreatif individu. Diperlukan kebijakan industri yang terintegrasi, mulai dari pendidikan digital yang berbasis pengembangan gim, akses pendanaan startup kreatif, hingga insentif pajak bagi studio lokal.

Lebih jauh, pemerintah perlu menempatkan gim sebagai industri strategis berbasis teknologi, bukan sekadar hiburan. Inkubasi startup gim di kampus, kolaborasi dengan industri global, serta pendanaan berbasis risiko menjadi kunci untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Tanpa langkah tersebut, Indonesia akan terus berada dalam posisi paradoks: menjadi salah satu pasar gim terbesar di dunia, tetapi hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan nilai ekonomi digital global. Pada akhirnya, tantangan industri gim bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal keberanian menentukan posisi dalam peta ekonomi masa depan. (*)