Oleh : Amatul Firdausa Nasa, M.Psi., Psikolog
Dosen Departemen Psikologi Fakultas Kedokteran UNAND
Psikolog Anak dan Remaja
HARIANHALUAN.ID – Penggunaan beragam gadget (gawai), seperti smartphone, tablet, computer PC, televisi, dan lainnya, saat ini sudah menjadi bagian keseharian anak usia dini. Bahkan di era ini bukan hal mudah membesarkan anak tanpa mengenalkan mereka pada layar.
Kita sudah terbiasa dengan pemandangan seorang balita duduk tenang di kursi, jemari kecilnya lincah scrolling layar smartphone, sementara matanya terpaku pada tayangan video animasi berwarna-warni. Pemandangan seperti balita yang langsung menangis dan mengamuk saat gadget diambil dari tangannya juga sering kita lihat dalam keseharian. Di tengah maraknya konten yang dirancang untuk menarik perhatian anak, orangtua menjadi dilema antara menggunakan bantuan gadget agar anak tenang sehingga menjadi penyelamat instan saat orangtua butuh “waktu tenang” di tengah kesibukan, di satu sisi memunculkan perasaan bersalah serta ketakutan dengan dampaknya pada perkembangan anak.
Data Kementerian Komdigi dan BPS tahun 2024 menunjukkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan gadget, dan 80 persen nya menghabiskan waktu 7 jam setiap harinya untuk menatap layar (screentime). Selain itu, data dari survei yang dilakukan oleh Pediatric Academic Societies menunjukkan 1 dari 3 anak bahkan sudah menggunakan gadget sebelum mereka bisa bicara (usia dibawah 1 tahun). Penggunaan gadget pada anak usia dini ditemukan lebih banyak untuk tujuan hiburan dibandingkan kebutuhan edukasi.
Layaknya sisi mata uang, gadget memiliki dampak positif dan negatif. Maka orangtua perlu bijak terkait penggunaan gadget, terutama pada anak usia dini. Dari sudut pandang Psikologi Perkembangan, usia dini (0-6 tahun) merupakan masa-masa emas dimana otak anak sedang mengalami masa pertumbuhan yang sangat pesat. Setiap stimulasi visual yang anak terima akan membentuk cara mereka berpikir, merasakan, dan juga berinteraksi dengan dunia luar. Penggunaan gadget dalam durasi dan frekuensi yang tinggi, tentunya memiliki dampak negatif pada kesehatan dan perkembangan anak.
Dilihat dari dampak kesehatan pada anak, penggunaan gadget yang tidak bijak dapat menyebabkan adanya gangguan pada syaraf, penglihatan, postur tubuh, obesitas, kurangnya waktu tidur dan istirahat, serta kerusakan pada otak anak karena paparan radiasi. Penggunaan gadget yang tidak dibatasi ternyata juga mempengaruhi perkembangan dan aspek psikologis anak. Paparan gadget berkaitan dengan masalah kognitif anak seperti gangguan bahasa (keterlambatan bicara) karena keterbatasan interaksi dua arah yang menjadi hal penting untuk menstimulasi perkembangan bahasa.
Tayangan pada gadget yang memuat stimulasi visual yang terlalu cepat juga beresiko membuat anak mengalami sensory overload atau beban sensori yang berlebihan. Dampaknya anak sulit berkonsentrasi karena pendeknya rentang atensi sehingga menurunkan kemampuan anak untuk fokus dalam rentang waktu yang lama. Dampak berikutnya adalah kesulitan anak dalam mengelola emosi ditandai dengan perilaku agresif, impulsif, dan juga reaktif. Secara perlahan juga terjadi pergeseran moral, gangguan minat dan masalah keterampilan sosial pada anak. Dampak yang lebih besar seperi kecanduan, gangguan kecemasan, bahkan depresi juga bisa terjadi jika penggunaan gadget dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang. Anak juga berpotensi menjadi target kejahatan dan terpapar pornografi.
Di satu sisi, gadget tidak bisa dianggap sebagai “moster” yang perlu dimusuhi seutuhnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi menjadi media edukasi yang dapat membantu orangtua menstimulasi perkembangan anak jika digunakan secara bijak sesuai usia anak. Manfaat gadget jika digunakan dengan bijak antara lain dapat meningkatkan keterampilan kognitif, cepat beradaptasi dengan teknologi, menambah pengetahuan, meningkat kreativitas, dan tentunya menjadi salah satu alternatif kegiatan belajar.
Menghadapi situasi ini, tugas kita sebagai orangtua bukan lagi berperan sebagai “polisi” yang total memblokir teknologi, melainkan menjadi pemandu yang tahu kapan harus menyalakan layar, dan kapan harus mendampingi anak tanpa gadget. Kebijakan dalam penggunaan gadget pada anak terutama di usia dini akan membantu mencegah permasalahan perkembangan, dan mendukung optimalisasi perkembangan anak. Lalu seperti apa penggunaan gadget yang bijak pada anak?.
Orangtua dapat melakukan beberapa strategi. Diantaranya, orangtua dapat menjadi role model anak dengan membatasi penggunaan gadget di depan anak. Anak cenderung akan meniru apa yang dilakukan orangtua, bukan apa yang dikatakan orangtua. Jika orang tua sibuk scrolling di depan anak, anak akan mencontoh dan menganggap gadget hal terpenting. Saat bersama anak di waktu luang, orangtua dapat memperbanyak aktivitas produktif dan menyenangkan seperti bermain, melakukan aktivitas fisik, membuat kerajinan, menggambar, mengobrol, serta menanamkan kebiasaan membaca sehingga fokus membersamai anak.
Orangtua juga perlu membatasi durasi penggunaan gadget pada anak dengan mengatur waktu penggunaan. Merujuk pada rekomendasi WHO, anak tidak dipaparkan gadget sebelum usianya 2 tahun, sedangkan di usia 1-2 tahun hanya boleh menggunakan gadget untuk video call. Memasuki usia 2-6 tahun, gadget sudah boleh diberikan namun durasinya dibatasi maksimal 1 jam/ hari, dan akses gadget didampingi orangtua. Untuk usia 6-12 tahun, durasi dibatasi menjadi kurang dari 1,5 jam/ hari, dan hanya boleh mengonsumsi program yang memang berkualitas. Memasuki usia remaja, usia 12-18 tahun, durasi maksimal adalah 2 jam/ hari, namun tetap pantau konten yang diakses oleh anak.
Orangtua harus tegas dan konsisten dalam menentukan aturan penggunaan gadget anak. Tentukan area dan waktu bebas gadget, misalnya saat makan di meja makan, menjelang tidur di kamar, atau saat berpergian. Orangtua juga perlu mendampingi anak selama menggunakan gadget, misalnya ikut menonton bersama anak dan melakukan pembicaraan interaktif (“Wah, burungnya warna apa itu?”).
Orangtua tentunya harus paham dengan perkembangan teknologi serta aplikasi yang banyak digunakan. Pilih aplikasi yang memang memberikan bermanfaat untuk anak. Hindari penggunaan gadget sebagai pengalihan. Kemudian orangtua juga selektif dalam memilih tanyakan yang dikonsumsi anak, misalnya tayangan edukatif, dan menghindari tayangan dengan transisi gambar yang terlalu cepat dan suara yang berisik. Jangan lupa untuk terus memantau apa yang sedang dimainkan atau dilihat oleh anak.
Sebagai orangtua yang hidup berdampingan dengan teknologi, gadget bukan dianggap sebagai musuh namun dapat digunakan sebagai sarana untuk melatih anak belajar mengendalikan diri. Kuncinya terletak pada kehadiran dan kendali penuh orang tua. Memulai pembatasan gadget pada anak mungkin akan terasa berat di hari-hari pertama, akan ada protes, air mata, dan rasa tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan sesaat jauh lebih berharga dibandingkan membiarkan anak mengalami berbagai dampak negatif pada perkembangannya. Jadi, mari kita mulai hari ini dari langkah kecil yang nyata, letakkan handphone saat anak mengajak bercerita, matikan televisi di jam makan malam, dan jadilah tameng sekaligus pemandu bagi masa depan anak-anak kita. (*)












