Karena itu, Forum DAS Sumbar mendorong adanya kajian lapangan secara menyeluruh setelah bencana Arosuka. Kajian tidak hanya dilakukan terhadap titik terjadinya galodo, tetapi juga terhadap kondisi kawasan hulu, tutupan lahan, jaringan sungai, daerah tangkapan air serta perubahan pemanfaatan ruang.
“Ini yang harus kita lihat secara utuh. Bagaimana kondisi hulunya, bagaimana perubahan tutupan lahannya, kemudian bagaimana aliran airnya sampai ke kawasan yang terdampak,” ungkapnya.
Isril Berd mengingatkan, perubahan fungsi lahan di kawasan perbukitan menjadi perhatian karena pembangunan fasilitas wisata seperti vila dan kafe kini semakin banyak dijumpai di sejumlah kawasan menuju Danau Kembar.
Namun, ia menekankan bahwa keberadaan bangunan tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab galodo Arosuka sebelum dilakukan kajian teknis.
Yang perlu dipastikan adalah apakah pembangunan dan perubahan tutupan lahan tersebut telah memperhitungkan fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air serta kemampuan lingkungan dalam mengendalikan limpasan.
“Areal, khususnya di kawasan APL, sepertinya banyak berubah fungsi. Ini perlu kita lihat dan kaji bersama. Jangan sampai perubahan fungsi kawasan berlangsung tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungannya,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi penting karena perubahan bentang alam tidak hanya menyangkut keberadaan bangunan, tetapi juga perubahan kontur, pembukaan lahan, pemadatan tanah, sistem drainase hingga perubahan jalur aliran air.
Jika perubahan-perubahan tersebut terjadi di kawasan dengan kemiringan tinggi, dampaknya terhadap limpasan permukaan dan stabilitas lereng perlu dihitung secara ilmiah.
Isril mengatakan Forum DAS Sumbar siap melakukan kajian dan berdiskusi bersama pemerintah maupun pihak terkait untuk melihat kondisi kawasan Arosuka secara lebih menyeluruh.
Ia menilai evaluasi pascabencana menjadi momentum untuk memeriksa kembali tata ruang dan kondisi DAS di kawasan tersebut, bukan hanya melakukan pembersihan material dan memperbaiki infrastruktur yang rusak.
“Forum DAS siap untuk melakukan kajian dan diskusi. Kita perlu melihat kondisi lapangan secara cepat, kemudian dilanjutkan dengan kajian yang lebih mendalam,” katanya.
Sebelumnya, galodo menerjang kawasan Arosuka dan Kayu Aro pada Senin malam setelah hujan deras mengguyur Kabupaten Solok.
Bencana tersebut menyebabkan sejumlah ruas jalan terdampak, bangunan warga dan fasilitas pemerintahan terkena material, serta sejumlah warga menjadi korban.
Dalam perkembangan terakhir, satu warga dinyatakan tewas, delapan lainnya luka-Luka sementara satu lainnya hingga kini masih dilaporkan hilang dan pencarian terus dilakukan tim gabungan (*)












