OPINI

Kalkulasi Penggunaan Waktu dalam Kehidupan

×

Kalkulasi Penggunaan Waktu dalam Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Yulinasri

(Guru Fikih MAN 1 Pasaman) 

Waktu bagaikan dua sisi mata pisau yang sama tajamnya. Satu  sisinya positif dan satu sisi yang lain negatif. Manajemen waktu yang baik dan tepat insya-Allah merupakan salah satu kunci keberhasilan, sebaliknya penggunaan waktu yang tidak tertata menjadi salah satu penyumbang kegagalan.

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Ada korelasi kesuksesan usaha dengan manajemen waktu. Orang orang yang sukses, biasanya memiliki manajemen waktu yang baik. Sebaliknya kegagalan dalam usaha, salah satu penyebabnya adalah manajemen waktu yang kurang tepat, walaupun itu bukan satu satunya.

Agama Islam sangat menganjurkan ummat nya mempergunakan dan menghargai waktu sebaik baiknya.

Berikut Penulis kemukakan dua hadits yang bermakna pentingnya pemanfaatan waktu dengan baik:

1. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu luang adalah nikmat besar yang harus dimanfaatkan untuk amal shaleh.

2. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah  bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

(HR. Al-Hakim).

Sebagai renungan penulis ajak saudara-saudara mengkalkulasikan waktu dan aktivitas kita.

Contoh :

Jika usia kita 50 tahun dan dihitung selama lebih kurang 30 tahun setelah kita dewasa (akil balig),  dengan contoh  aktivitas : tidur :  7 jam sehari, bekerja dalam berbagai profesi : 7 jam sehari, menonton TV/ main HP :  3 jam sehari, shalat (fardhu) : 5 menit satu waktu shalat.  Maka hasilnya adalah sebagai berikut:

Baca Juga  Magnet Dendang Digital

Total umur (30 th) = 259.200 jam.

Tidur : 75.600 jam.

Bekerja : 75.600 jam. Main HP/ Menonton TV : 32.400 jam.

Shalat : 270.000 menit / 4.500 jam.

Mari kita renungi , dari total waktu  nikmat  umur selama 30 tahun yang diberikan oleh Allah SWT, berapa yang kita alokasikan untuk shalat  atau beribadah kepada -Nya ?

Sebagai ilustrasi  dan bahan renungan pada contoh diatas : waktu yang dialokasikan untuk shalat = hanya :  4.500  jam, sementara  waktu untuk main HP atau menonton TV:  32.400 jam, dan tidur : 75.600 jam. Total nikmat umur yang dianugerahkan oleh Allah SWT pada  contoh diatas adalah : 259.200 jam.

Menyangkut masalah waktu, Allah SWT berfirman dalam al Qur’an surat Al Ashr ayat 1 sampai dengan 3 :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ ۝١

Demi masa.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝٢

Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

Kecuali orang orang yang beriman, dan beramal shaleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Contoh di atas baru soal pemanfaatan waktu. Belum lagi soal rezki yang dianugerahkan oleh Allah SWT berupa harta.

Berapa banyak kita dikaruniai harta? dan dari jumlah karunia-Nya berupa harta tersebut , berapa yang kita alokasikan untuk  jalan Allah?

Baca Juga  Seberapa Jauh Risiko Kabut Vulkanik Anak Krakatau bagi Kesehatan

Contoh kalau satu bulan kita berpenghasilan Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah), itu berarti penghasilan setahun adalah Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).

Mari kita tanya diri, berapa yang kita gunakan untuk keperluan yang berorientasi duniawi  (rumah, kenderaan, pakaian, dsb)? yang akan ditinggalkan di dunia (setelah wafat) dan berapa yang kita manfaatkan untuk investasi yang akan menolong dari siksa Allah di akhirat ?

Berapa banyak yang kita gunakan untuk membantu fakir miskin, memberi makan anak yatim, didonasikan untuk  kemaslahatan ummat?  dan sebagainya. Masihkah kita merasa berat untuk mengeluarkan sebahagian harta  untuk pos yang jelas-jelas dianjurkan oleh Allah SWT?

Padahal jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan rezki yang diterima, seperti untuk berkurban pada saat Idul Adha yang disyari’atkan hanya sekali dalam setahun, bersedekah sesuai kadar kemampuan, dan lain lain. Sudahkah kita keluarkan zakat manakala harta yang dimiliki sampai nisab dan haulnya? Padahal zakat itu wajib.

Contoh tersebut baru dengan penghasilan Rp. 5.000.000,- per-bulan. Apalagi jika penghasilan diatas Rp.5.000.000,- . Silahkan kita kalkulasikan sendiri ! والله اعلم

Setelah melakukan penghitungan waktu yang diberikan oleh Allah SWT dan dikaitkan dengan penggunaannya, maka jika  dijadikan tolak ukurnya adalah firman Allah SWT dalam surat Al Ashr diatas, mari kita lakukan introspeksi  dan evaluasi terhadap diri sendiri. Apakah kita termasuk golongan orang yang merugi atau beruntung disisi Allah SWT ? Semoga bermanfaat. . (*).