HEADLINE

Kecelakaan Beruntun Masih Kerap Berulang, Peringatan Serius tentang Lemahnya Pengawasan

×

Kecelakaan Beruntun Masih Kerap Berulang, Peringatan Serius tentang Lemahnya Pengawasan

Sebarkan artikel ini
Kecelakaan beruntun yang melibatkan enam kendaraan terjadi di Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang pada Minggu (10/5). Lemahnya pengawasan terhadap keberadaan truk-truk bermuatan berlebih ditengarai menjadi penyebab masih kerap berulangnya peristiwa serupa di Sumbar. IST

Akibat Lemahnya Pengawasan

Terpisah, Ketua Pusat Transportasi LPPM Universitas Andalas (Unand), Yostrizal meminta pemerintah memperketat penertiban truk ODOL yang dinilai masih bebas beroperasi di jalan raya.

Menurut Yostrizal, persoalan truk ODOL bukan hal baru. Bahkan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah berulang kali meminta agar kendaraan dengan muatan dan dimensi berlebih ditertibkan. Namun hingga kini, pengawasan serta penegakan hukum di lapangan dinilai masih lemah.

Akibatnya, truk-truk bermuatan berlebih masih terus melintas, termasuk di jalur rawan kecelakaan di Sumbar. “Permasalahan ODOL ini sebenarnya sudah lama. Kemenhub juga sudah berkali-kali meminta penertiban, tetapi pengawasan dan penegakan hukum di lapangan masih lemah,” kata Yostrizal.

Ia menilai kondisi tersebut semakin diperparah dengan tidak optimalnya fungsi jembatan timbang yang seharusnya menjadi instrumen pengawasan kendaraan barang. “Truk timbang yang ada juga tidak berfungsi maksimal. Akibatnya kendaraan dengan muatan berlebih tetap berkeliaran,” ujarnya.

Yostrizal mengatakan, karakteristik geografis Sumbar yang didominasi jalan menanjak dan menurun membuat kendaraan berat sangat rentan mengalami gangguan pengereman. Dalam kondisi membawa muatan berlebih, risiko rem blong menjadi jauh lebih tinggi.

Baca Juga  Nirma, Sang Penggerak Ketahanan Pangan dari Desa Sipora Jaya

Menurutnya, kondisi itu menjadi salah satu penyebab kecelakaan beruntun terus berulang di sejumlah titik rawan di Sumbar. “Kontur jalan di Sumbar itu mendaki dan menurun. Dalam kondisi tertentu, rem kendaraan besar seperti truk bisa cepat aus dan tidak berfungsi optimal. Itu yang membuat kecelakaan terus berulang,” katanya.

Ia juga mengingatkan para pengusaha angkutan dan logistik agar tidak terus menghalalkan praktik ODOL hanya demi mengejar keuntungan bisnis. Sebab, praktik tersebut bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan. “Jangan menghalalkan ODOL demi meningkatkan profit. Yang dipertaruhkan itu nyawa manusia,” tuturnya.

Selain itu, Yostrizal turut mengimbau para sopir truk agar lebih memperhatikan kondisi kendaraan, khususnya sistem pengereman saat melintasi jalur ekstrem di Sumbar. Ia meminta sopir tidak memaksakan kendaraan terus berjalan setelah melewati turunan panjang dan curam. “Pengemudi juga harus disiplin. Setelah melewati turunan panjang, sebaiknya berhenti sejenak untuk mengistirahatkan rem agar suhunya kembali normal,” ujarnya.

Baca Juga  Inovatif! Darah Hewan Qurban di SMK SMAKPA Diolah Jadi Pupuk Ramah Lingkungan

Ia mencontohkan jalur Sitinjau Lauik hingga kawasan Indarung serta ruas Padang–Solok yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur ekstrem di Sumbar. Namun untuk kawasan tersebut, pembangunan jalur penyelamatan darurat dinilai sulit dilakukan karena keterbatasan ruang jalan.

“Kalau di Sitinjau Lauik sampai Indarung atau Padang–Solok, pembangunan jalur penyelamatan darurat memang tidak memungkinkan karena kondisi jalannya relatif sempit,” ujarnya.

Meski demikian, Yostrizal menilai pembangunan jalur penyelamatan darurat masih memungkinkan diterapkan di sejumlah titik lain yang juga rawan kecelakaan truk. Salah satunya di kawasan turunan Bintungan, Kabupaten Tanah Datar, yang sebelumnya juga pernah menjadi lokasi kecelakaan beruntun akibat rem blong truk. “Di beberapa lokasi lain seperti turunan Bintungan, jalur penyelamatan perlu dipikirkan karena area di sana masih memungkinkan,” katanya.