Alih-alih menjadi instrumen distribusi keadilan sosial, Ubedilah melihat MBG tak lebih dari bentuk korporatisme negara yang membuka ruang berburu rente (rent-seeking) bagi gurita elit ekonomi di sekeliling penguasa.
“Pengamat politik yang sejati bukanlah pemandu sorak yang dibayar untuk bertepuk tangan. Ia adalah pemegang pisau bedah analisis—memotong lapisan retorika yang tebal demi menyingkap anatomi kepentingan yang tersembunyi di balik tubuh kebijakan.”
Konfrontasi intelektual ini mencapai titik didih ketika keduanya berkejaran di dalam labirin filsafat ilmu. Rocky, dengan superioritas dialektikanya, mencoba menguji Ubedilah menggunakan tesis Thomas Kuhn tentang The Structure of Scientific Revolutions untuk mendefinisikan apa itu krisis paradigma.
Namun, Ubedilah menolak didikte. Melalui lensa Teori Dramaturgi (Dramaturgy) Erving Goffman, Ubedilah melakukan pembongkaran panggung (deconstruction of performance).
Ketika Rocky mencoba menampilkan citra akademisi yang objektif di panggung depan (front stage), Ubedilah menelanjangi motif di panggung belakang (back stage): bahwa Rocky tengah melakukan akrobat bahasa untuk menyembunyikan posisinya yang kini telah bertransformasi menjadi juru damai rezim baru.
Bagi Ubedilah, memaksakan program raksasa yang rapuh tata kelolanya di tengah keterbatasan anggaran demi dalih konstitusi bukanlah sebuah kebijakan yang bijak, melainkan sebuah kedunguan baru yang dikemas secara rapi dengan bahasa tingkat tinggi.
Pada akhirnya, perubahan komunikasi politik Rocky Gerung adalah cermin dari ironi intelektualitas di panggung kekuasaan. Menonton sang pemikir hari ini tak lagi seperti menyaksikan gladiator yang bertarung bebas di arena, melainkan melihat seorang diplomat kata yang sedang menimbang arah angin.
Publik pun dipaksa menerima kenyataan pahit: di bawah panggung sandiwara politik, sekeras apa pun sebuah batu karang berteriak, ia tetap bisa terkikis oleh arus pergeseran kekuasaan yang baru. Mungkinkah ke depannya keriuhan suara Rocky Gerung masih tetap berkumnadang dan bergetar di di mimbar kampus? Entahlah…!
“Suara seorang pengamat harus sekeras kebenaran dan sedingin fakta. Ketika panggung politik dipenuhi kabut tipu daya, kompas analisisnya tidak boleh goyah oleh magnet uang atau tekanan kekuasaan…” (*)












