Oleh: Junaidi (PNS Disdikbud Kota Padang)
HARIANHALUAN.ID – Pagi itu, Selasa, 28 Juli 2026, saya turut mendampingi Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Dr. Ikhwansyah, M.Kom., melepas keberangkatan delegasi YARI School yang akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Finlandia.
Sebelum acara dimulai, saya sempat berbincang cukup panjang dengan Ketua Yayasan YARI School, Ibu Yusticia Kahar. Dari percakapan itu, saya mendapatkan sebuah cerita yang menarik sekaligus menginspirasi. Ternyata, bagi YARI School, pertukaran pelajar ke luar negeri bukanlah sesuatu yang baru dimulai hari ini.
Program tersebut telah dirintis sejak 2011.
Pada awalnya, pertukaran pelajar dilakukan ke Jerman karena adanya hubungan kedekatan YARI School dengan sebuah keluarga di negara tersebut. Setahun kemudian, pada 2012, program itu berkembang ke Finlandia, negara yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki sistem pendidikan yang sangat maju. Pandemi Covid-19 sempat membuat program tersebut terhenti. Namun, semangat untuk membuka jendela dunia bagi para siswa tidak pernah benar-benar padam.
Tahun ini, YARI School kembali mengirimkan siswanya ke Finlandia. Ini merupakan kunjungan keempat kalinya ke negara di Eropa Utara tersebut. Sementara ke Jerman, sudah enam kali. Mereka akan mengunjungi sekolah mitra internasional, Uimaharju School di Joensuu, pada 13 Agustus hingga 5 September 2026.
Hubungan kedua sekolah ini pun ternyata bukan hubungan satu arah.
Uimaharju School, yang sebelumnya bernama Eno School, telah lima kali berkunjung ke YARI School Padang. Kunjungan terakhir berlangsung pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Ada hubungan yang terus dirawat, ada pengalaman yang terus dipertukarkan, dan ada jembatan persahabatan yang dibangun melampaui batas negara.
Rombongan YARI School yang berangkat kali ini berjumlah 24 orang, terdiri atas 20 murid, satu kepala sekolah, dua orang tua murid, dan satu ketua yayasan. Dari 20 murid tersebut, dua orang merupakan siswa SD, sebelas siswa SMP, dan tujuh siswa SMA. Biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti program ini sekitar Rp 50 juta per orang.
Namun, yang paling menarik bagi saya bukan semata-mata soal perjalanan ke Finlandia. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana YARI School mempersiapkan anak-anak tersebut sebelum mereka benar-benar menginjakkan kaki di negeri orang.
Selama mengikuti program, para siswa akan tinggal bersama host family yang telah disiapkan. Menariknya, persiapan itu sudah dimulai sekitar dua bulan sebelum keberangkatan. Para siswa telah berkomunikasi dengan keluarga yang akan menjadi tuan rumah mereka melalui email, WhatsApp, dan media sosial lainnya.
Dengan cara itu, perjalanan ke Finlandia bukan dimulai ketika pesawat lepas landas. Perjalanan itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya—ketika seorang anak Padang mulai berkenalan dengan keluarga di belahan dunia lain, belajar memahami kebiasaan mereka, berkomunikasi dalam bahasa asing, dan perlahan-lahan membangun keberanian untuk memasuki lingkungan yang sama sekali berbeda.
Anak SD Pun Bisa Menjadi Warga Dunia
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting untuk kita renungkan. Untuk mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, ternyata seorang anak tidak harus menunggu sampai duduk di bangku SMP, apalagi SMA. Murid SD pun bisa.












