Bagi Yolla, kesempatan tampil di Hanoi merupakan amanah besar sekaligus buah dari latihan dan dedikasi yang dijalani selama bertahun-tahun.
“Kepercayaan ini adalah amanah besar yang saya syukuri. Saya tidak hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa marwah Ranah Minang, IPSI Sumatera Barat, PPS Sakato Semen Padang, FKKSPG, serta keluarga besar PT Semen Padang Group ke panggung dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap gerakan silat yang akan ditampilkan bukan sekadar teknik bela diri, melainkan representasi budaya Minangkabau yang sarat nilai dan filosofi.
“Saya ingin dunia melihat bahwa silat Minangkabau bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan nilai dan karakter.”
Sebagai karyawan PT Semen Padang Group, Yolla mengaku mendapat dukungan penuh dari perusahaan sehingga mampu menyeimbangkan peran sebagai pekerja sekaligus atlet.
“Saya bangga karena perusahaan selalu memberikan kesempatan dan dukungan kepada saya untuk terus berprestasi. Terima kasih kepada Unit Komunikasi dan Kesekretariatan dan atasan saya, Fadhlan Maulana, yang terus memberikan motivasi selama proses latihan. Dukungan ini menjadi penyemangat untuk memberikan penampilan terbaik di Hanoi,” katanya.
Menghadapi festival internasional tersebut, Yolla menjalani persiapan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kondisi fisik, penyempurnaan teknik, hingga pendalaman filosofi budaya Minangkabau.
Setiap hari ia rutin berlari sejauh lima kilometer untuk menjaga stamina, disertai latihan intensif bersama pelatih guna menyempurnakan jurus-jurus tradisi Minangkabau, meningkatkan kekuatan, serta mengevaluasi setiap gerakan melalui rekaman video agar tampil presisi.
Tak hanya itu, Yolla juga terus memperdalam makna setiap gerakan silat yang akan dibawakan.
“Saya ingin penonton internasional tidak hanya menikmati keindahan geraknya, tetapi juga merasakan nilai raso jo pareso yang menjadi karakter masyarakat Minangkabau. Karena itu, kostum, musik pengiring, hingga ekspresi akan benar-benar mencerminkan identitas budaya kita.”
Selama mengikuti pemusatan latihan di TMII, ia memfokuskan diri pada peningkatan daya tahan, penjiwaan setiap jurus, serta penguatan mental untuk tampil di panggung internasional.
“Aspek yang paling ingin saya tingkatkan adalah sinkronisasi antara gerak, napas, dan rasa. Di situlah letak keindahan sejati silat tradisi kita.”












