Oleh: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng.
(Dosen Fak. Peternakan, Wadir I Sekolah Pascasarjana Unand)
Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan secara nasional diperingati setiap tanggal 26 Agustus. Tahun ini pembangunan sektor peternakan memasuki usia ke-190, sebuah perjalanan panjang pembangunan peternakan di Indonesia. Momentum ini mestinya menjadi saat yang tepat untuk bertanya: ke mana peternakan Indonesia akan melangkah? Pertanyaan tersebut penting karena dunia peternakan sedang berubah. Kita tidak lagi hidup dalam era ketika keberhasilan peternakan diukur dari jumlah populasi ternak sapi, kerbau, kambing, ayam, itik atau jumlah produksi telur, daging atau susu yang dihasilkan ternak. Peternakan masa depan harus mampu menjawab persoalan yang kompleks, yaitu persoalan pangan, gizi, kesejahteraan peternak, kesehatan hewan, kesejahteraan hewan, perubahan iklim, penerapan teknologi, keamanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Momentum 190 tahun peternakan Indonesia pada 2026 dengan tema ”Swasembada Protein Hewani untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur” adalah momentum yang tepat untuk melakukan refleksi.
Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (2026), disebutkan bahwa produksi daging dan telur ayam dalam negeri telah mencapai swasembada dan bahkan memiliki peluang ekspor. Namun, pekerjaan rumah masih besar dalam upaya peningkatan produksi daging sapi dan susu. Produksi susu domestik sekitar 1 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan sekitar 4,8 juta ton setara susu segar. Karena itu, swasembada protein tidak boleh dimaknai secara sempit sekadar menghasilkan daging, telur dan susu. Swasembada berarti kemampuan membangun sistem peternakan yang mandiri, produktif, sehat, berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan peternak.
Peternakan Bukan Sekadar Bisnis
Dalam perspektif Islam, hewan ternak bukan semata-mata komoditas ekonomi. Ternak merupakan amanah sekaligus sumber berbagai kemanfaatan bagi manusia. Dari ternak, manusia memperoleh pangan, sandang, pendapatan, kesenangan dan berbagai manfaat lainnya. Pandangan tersebut sebenarnya sangat relevan dengan konsep peternakan modern. Hari ini dunia berbicara tentang animal welfare, sustainable livestock, One Health dan ekonomi sirkular. Semuanya mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengejar produksi dengan mengabaikan makhluk hidup, lingkungan dan generasi mendatang. Karena itu, peternakan masa depan membutuhkan paradigma baru, yaitu ternak produktif, sehat dan diperlakukan secara layak. Peternak memperoleh keuntungan, dan lingkungan tetap terjaga.
FAO menempatkan Five Freedoms sebagai kerangka dasar kesejahteraan hewan, yaitu bebas dari lapar, haus dan malnutrisi; bebas dari ketidaknyamanan; bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit; bebas dari ketakutan; serta memiliki kesempatan menampilkan perilaku normal. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) menegaskan bahwa kesehatan dan kesejahteraan hewan merupakan bagian penting dari sistem peternakan berkelanjutan.
Peternakan Rakyat Sebagai Fondasi
Indonesia memiliki karakter usaha peternakan yang berbeda dengan negara-negara yang didominasi perusahaan peternakan skala besar. Di Indonesia, usaha peternakan rakyat menjadi bagian penting dari struktur sosial dan ekonomi pedesaan. Bagi keluarga petani, ternak berfungsi sebagai sumber pangan hewani, pendapatan, tabungan, penghasil pupuk organik dan sebagai aset. Karena itu, transformasi peternakan Indonesia tidak boleh meninggalkan peternak rakyat. Teknologi baru diperlukan, teknologi tepat guna, terjangkau dan inklusif. Revolusi digital bisa diterapkan oleh perusahaan besar dan oleh peternak kecil.






