OPINI

ISI Padangpanjang Dorong Pemberdayaan Sanggar Seni Edelweiss Bukittinggi Melalui Program Inovasi Seni Nusantara

×

ISI Padangpanjang Dorong Pemberdayaan Sanggar Seni Edelweiss Bukittinggi Melalui Program Inovasi Seni Nusantara

Sebarkan artikel ini

Komitmen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi kembali diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026 melalui Skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Mengusung tema “Pemberdayaan Sanggar Seni Edelweiss dalam Upaya Peningkatan Produksi Instrumen Musik Tradisional”, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan produksi instrumen musik tradisional, tetapi juga mendorong penguatan kualitas seni pertunjukan dan regenerasi pelaku seni sebagai bagian dari ekosistem budaya yang berkelanjutan.

Program yang diketuai oleh M. Halim tersebut memasuki tahapan akhir pelaksanaan pada Selasa, 4 Agustus 2026, bertempat di Sanggar Seni Edelweiss, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Rangkaian kegiatan memperlihatkan sinergi antara akademisi, pelaku seni, dan masyarakat dalam upaya mempertahankan keberadaan seni tradisional sekaligus mengembangkannya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pengembangan Komposisi Musik Tradisi

Salah satu bagian penting kegiatan adalah pengembangan komposisi musik tradisi menjadi komposisi baru melalui pendekatan reinterpretasi tradisi. Garapan tersebut berangkat dari kesenian garitiak santak tokok gandang rabano yang menggunakan pola dasar pukulan dengan tingkah satu dan tingkah dua. Pola tersebut menjadi dasar interlocking atau jalinan pola musikal dalam proses penggarapan. Unsur-unsur tradisi kemudian diolah dan dikembangkan menjadi satu kesatuan karya seni pertunjukan yang tetap memiliki hubungan kuat dengan sumber tradisinya.

Karya musik dikembangkan dalam tiga bagian. Bagian pertama mengambil dasar pola vokal Rabano, yaitu “iyo.o.io..oooo. aaa aaaaaai yo oioiii…..lah..”. Pola tersebut digunakan untuk membangun suasana religius sekaligus memperkuat karakteristik musikal yang berasal dari tradisi dikia rabano. Bagian kedua dikemas dengan pendekatan kekinian menggunakan pola musik modern yang didasarkan pada drone chord D minor (Dm) dan idiom musik konvensional. Pengolahan ini bertujuan mempertegas suasana garapan sekaligus membuka ruang apresiasi yang lebih luas.

Bagian ketiga mengembangkan pecahan pola tradisi ke dalam garapan modern. Perpaduan tersebut menjadi jembatan antara karakter musikal tradisi dan musik kekinian sehingga menghasilkan karya yang lebih utuh dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, baik masyarakat umum maupun penikmat seni dari lingkungan akademik.

Membangun Regenerasi Melalui Pelatihan Tari

Selain pengembangan musik, kegiatan pengabdian diarahkan pada peningkatan keterampilan tari sebagai bagian dari upaya membangun regenerasi pelaku seni. Kegiatan diawali dengan sesi pelatihan yang diikuti sejumlah remaja anggota Sanggar Seni Edelweiss. Proses latihan berlangsung penuh semangat dan antusiasme. Peserta mengikuti arahan tim pengabdian dengan serius sekaligus diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki.

Kurniadi Ilham, selaku anggota tim pengabdian ISI Padangpanjang, memberikan pendampingan secara intensif terhadap teknik gerak tari. Pendampingan tidak hanya menekankan ketepatan bentuk gerak, tetapi juga kualitas ekspresi, keseimbangan tubuh, koordinasi, dan kemampuan penari membangun karakter pertunjukan. Latihan difokuskan pada penyempurnaan penggunaan properti tari berupa piring-piring kecil yang dipadukan dengan dinamika gerak cepat dan ritmis.

Baca Juga  Gubernur Bakal Lantik Anggota KPID Sumbar 13 Maret 2026

Penggunaan properti tersebut membutuhkan koordinasi tubuh yang baik karena penari harus menjaga ketepatan gerak dan konsentrasi ketika mengikuti tempo musik. Peserta juga diarahkan memahami hubungan antara tempo musik, ritme gerak, serta penguasaan ruang panggung. Pemahaman ini penting agar koreografi dapat tampil lebih utuh ketika dipentaskan dan mampu memperlihatkan keterpaduan antara gerak, musik, properti, dan ruang.

Sanggar Edelweiss Menjadi Ruang Tumbuh Generasi Muda

Keberhasilan proses pembinaan di Sanggar Seni Edelweiss tidak terlepas dari konsistensi pengelolaan sanggar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Budi, selaku pimpinan Sanggar Seni Edelweiss sekaligus mitra kegiatan pengabdian, menjelaskan bahwa sebagian besar anggota sanggar merupakan generasi muda yang telah bergabung sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa di antaranya tetap aktif berkesenian setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Keberlanjutan keterlibatan anak muda menunjukkan bahwa sanggar tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh, belajar, dan berbagi pengalaman antargenerasi. Kehadiran program pengabdian ISI Padangpanjang memberikan motivasi baru bagi anggota sanggar untuk meningkatkan kualitas pertunjukan sekaligus memperluas wawasan mengenai pengembangan seni berbasis tradisi.

Musik Tradisional Menjadi Nafas Pertunjukan

Selain pembinaan tari, kegiatan diisi dengan pendampingan penyusunan komposisi musik sebagai pengiring pertunjukan. Ketua tim pengabdian, M. Halim, memberikan arahan mengenai penyusunan komposisi dengan menggunakan bansi, yaitu alat musik tiup tradisional Minangkabau, sebagai salah satu instrumen utama. Para pemain diarahkan memperhatikan keseimbangan tempo, dinamika permainan, struktur komposisi, serta kesesuaian aksen musikal dengan pola gerak penari.

Musik tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menjadi unsur penting yang membangun emosi, suasana, dan identitas karya. Karena itu, hubungan antara musik dan tari menjadi perhatian utama dalam proses pendampingan. Komposisi yang sedang dikembangkan diharapkan menjadi musik pengiring utama dalam pertunjukan tari hasil pembinaan Program Inovasi Seni Nusantara.

Menanamkan Kecintaan Seni Sejak Usia Dini

Perhatian terhadap regenerasi tidak hanya diberikan kepada remaja, tetapi juga kepada anak-anak usia dini. Pada sesi terpisah, anak-anak diperkenalkan dengan gerakan dasar tari tradisional melalui metode pembelajaran yang menyenangkan, komunikatif, dan sesuai dengan karakter perkembangan usia mereka. Pendekatan ini dilakukan agar proses belajar berlangsung secara alami tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap gerakan.

Pembinaan sejak usia dini merupakan investasi penting bagi keberlanjutan seni tradisi. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seni diharapkan memiliki rasa bangga terhadap budaya daerahnya serta memahami bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang dapat terus dikembangkan. Pengalaman belajar yang positif diharapkan menumbuhkan generasi baru yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan kemauan untuk melanjutkan keberadaan seni tradisional.

Baca Juga  Setumpuk Tanah Surga di Bumi Minangkabau

Kolaborasi Kampus dan Sanggar Menghasilkan Inovasi Seni Berbasis Masyarakat

Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah BIMA Kemendiktisaintek Tahun 2026 melalui Skema Program Inovasi Seni Nusantara menjadi contoh kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. ISI Padangpanjang tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi komunitas seni dalam mengembangkan kapasitas dan kreativitas masyarakat.

Melalui kolaborasi antara dosen ISI Padangpanjang dan Sanggar Seni Edelweiss, berbagai aspek pengembangan seni dilakukan secara terpadu, mulai dari peningkatan kualitas produksi instrumen musik tradisional, pengembangan komposisi musik, penyempurnaan koreografi tari, hingga penguatan sumber daya manusia. Pendekatan partisipatif memungkinkan anggota sanggar terlibat aktif dalam setiap tahapan sehingga hasil program dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi mitra.

Menjadi Gerakan Baru Pelestarian Seni Pertunjukan

Memasuki tahap akhir pelaksanaan, tim pengabdian yang juga melibatkan mahasiswa lintas program studi berharap seluruh rangkaian kegiatan tidak berhenti sebagai program sesaat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan secara mandiri dalam kegiatan latihan, produksi karya, dan pertunjukan berikutnya. Dengan demikian, program dapat memberi dampak jangka panjang bagi perkembangan sanggar.

Ketua tim pengabdian, M. Halim, menegaskan bahwa tujuan utama program adalah membangun kemandirian sanggar melalui peningkatan kompetensi, kreativitas, serta kemampuan menghasilkan karya seni yang berkualitas. Sanggar diharapkan semakin mampu menjadi pusat pembelajaran seni tradisi bagi masyarakat sekaligus melahirkan karya pertunjukan yang dapat memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas.

Keterlibatan generasi muda dan anak-anak menjadi bagian penting dari investasi budaya. Melalui proses pembinaan yang berkelanjutan, nilai-nilai seni tradisional tidak hanya dipelajari sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai bagian dari identitas generasi masa depan. Pelestarian tradisi dengan demikian dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan kreativitas.

Melalui Program Inovasi Seni Nusantara, ISI Padangpanjang kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang aktif membangun kolaborasi dengan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan sanggar seni diharapkan menjadi model pemberdayaan budaya yang mampu menjaga keberlangsungan seni pertunjukan tradisional, memperkuat kapasitas pelaku seni, serta membuka ruang bagi lahirnya karya-karya baru yang tetap berakar pada tradisi. Keberlanjutan seni budaya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan bentuk lama, tetapi juga oleh keberanian mengembangkan tradisi secara kreatif agar tetap hidup, dipahami, dan diapresiasi oleh generasi masa kini dan masa depan. (M. HALIM)