HEADLINEKESEHATANOPINI

Waspada Hipertensi pada Lansia

×

Waspada Hipertensi pada Lansia

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. dr. Harnavi Harun  SpPD, KGH, FINASIM, DABRM. (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas)

Pemeriksaan tekanan darah merupakan salah satu pemeriksaan rutin yang sering dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan seseorang. Angka tekanan darah 120/80 mmHg tentu sudah sangat familiar di telinga. Namun, apakah Anda mengetahui makna dari angka tersebut dan kapan tekanan darah dikatakan tidak normal? 

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi ketika tekanan darah berada pada angka ≥140/90 mmHg. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah.

Hipertensi pada lansia diartikan sebagai hipertensi yang muncul ketika memasuki usia lansia. Disebut usia lansia adalah diatas 60 tahun. Pada lansia, hipertensi dibagi menjadi: hipertensi dan hipertensi sistolik terisolasi. Hipertensi, dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Di Indonesia, jumlah penderita hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, pada usia 18–24 tahun terdapat sekitar 13,2% penderita hipertensi. Angka ini meningkat menjadi 20,1% pada usia 25–34 tahun, 31,6% pada usia 35–44 tahun, dan 45,3% pada usia 45–54 tahun. Pada usia 55–64 tahun, angkanya mencapai 55,2%, lalu meningkat menjadi 63,2% pada usia 65–74 tahun, dan 69,5% pada usia 75 tahun ke atas.

Penyebab pasti hipertensi memang belum diketahui, tetapi ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah.

Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, serta riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit jantung. Hipertensi juga dapat diturunkan dalam keluarga karena dipengaruhi oleh banyak gen, dan biasanya risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.

Baca Juga  Dugaan Video Perampokan Hoax di Klinik Kecantikan Athena, Dr. Suharizal Laporkan Pemilik ke Polresta Padang

Sementara itu, faktor yang dapat diubah berkaitan dengan gaya hidup. Contohnya adalah pola makan yang tidak sehat (terutama konsumsi garam berlebihan), konsumsi alkohol berlebih, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, obesitas, kadar lemak darah yang tinggi (dislipidemia), diabetes melitus, serta stres.

Usia merupakan salah satu faktor risiko utama hipertensi. Risiko terjadinya hipertensi pada individu berusia di atas 60 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berusia 60 tahun ke bawah. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi organ tubuh seiring bertambahnya usia, dimana terjadi peningkatan kekakuan  pembuluh darah, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. 

Penderita hipertensi seringkali tidak mengalami gejala, namun jika hipertensi sudah berlangsung lama dapat menimbulkan keluhan yang berhubungan dengan kerusakan organ tubuh seperti nyeri kepala, pandangan kabur, goyang saat melangkah, dan frekuensi BAK menjadi lebih sering. 

Untuk menegakkan diagnosis hipertensi pada seseorang, perlu dilakukan pengukuran tekanan darah, yang umum dilakukan menggunakan alat tensi meter yang dipasang/dihubungkan pada lengan pasien. Pengukuran dapat dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak dua menit.  Selain itu penting pula dilakukan anamnesis atau wawancara mengenai kebiasaan yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya hipertensi.  

Hipertensi perlu ditangani dengan tepat agar tidak terjadi kerusakan pada organ tubuh lain seperti otak, jantung, dan ginjal. 1)Tekanan darah yang tinggi akan meningkatkan kejadian stroke atau pecah pembuluh darah otak. 2) Penyakit jantung merupakan penyebab tersering kematian pada pasien hipertensi. Hipertensi akan menyebabkan pembesaran jantung dan berujung pada gagal jantung. 3) Tekanan darah tinggi yang terjadi terus menerus akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah di ginjal dan mambuat fungsi ginjal menurun. 

Baca Juga  Raih Penghargaan Internasional, Contact Center PLN 123 Borong 5 Gold di Global Contact Center World 2022

Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, pada prinsipnya tidak berbeda dengan hipertensi pada umumnya; yaitu terdiri dari modifikasi pola hidup dan bila diperlukan dilanjutkan dengan pemberian obat-obat antihipertensi. Modifikasi atau perubahan gaya hidup yang dimaksud adalah menurunkan berat badan, makan buah, sayur, dan produk susu rendah lemak, batasi asupan garam  ≤6gr/hari, batasi alkohol, hentikan kebiasaan merokok, dan beraktivitas fisik minimal 3 kali seminggu dengan durasi 30-45 menit.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mineral tertentu bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah. Kalium terbukti berkaitan erat dengan penurunan tekanan darah dan dapat mengurangi risiko stroke. Selain itu, kalsium dan magnesium juga berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah. Mineral-mineral ini banyak terdapat pada sayur dan buah, seperti seledri, kol, dan jamur yang kaya kalium, serta kacang-kacangan yang kaya magnesium. Sementara itu, susu dan produk olahannya merupakan sumber kalsium yang baik.

Penggunaan obat-obatan pada pasien hipertensi harus didasarkan pada keilmuan dan sesuai dengan panduan yang ada. Dokter akan memberikan obat sesuai klasifikasi hipertensi, usia, dan ada tidaknya penyakit penyerta. 

Sebagai penutup, hipertensi pada lansia bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele karena sering kali tidak menimbulkan gejala, namun dapat berdampak serius pada kesehatan jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, menerapkan pola hidup sehat, serta mengikuti anjuran pengobatan dari tenaga medis. Dengan langkah pencegahan dan penanganan yang tepat, risiko komplikasi dapat dikurangi sehingga kualitas hidup di usia lanjut tetap terjaga. (*)