Serius
Mencermati kendala investasi di Sumbar, peserta diskusi sepakat, sudah saatnya pembenahan dilakukan secara serius dan menyeluruh. Pemerintah daerah harus berani melakukan reformasi birokrasi, mempercepat perizinan, dan memastikan tidak ada lagi praktik yang menghambat.
Tata kelola lahan harus diperjelas dengan melibatkan ninik mamak dan masyarakat secara terbuka. Pendekatan kepada masyarakat harus berubah—dari sosialisasi sepihak menjadi dialog yang setara.
“Komunikasi menjadi kunci. Masyarakat dan berbagai kalangan harus diajak baiyo-iyo, batido-tido. Kalau mau membangun Sumbar, menggerakkan ekonomi dan mendorong investasi di daerah ini, semua pihak harus terorkestrasi dengan baik. Untuk itu perlu seorang derigen,” ujar Hasril Chaniago.
Tidak sedikit proyek investasi yang ditolak bukan karena masyarakat anti pembangunan, tetapi karena mereka tidak dilibatkan sejak awal. Komunikasi yang buruk melahirkan kecurigaan. Padahal, jika masyarakat dijadikan mitra, bukan objek, maka investasi justru bisa menjadi kekuatan kolektif yang memperkuat ekonomi lokal.
Guspardi Gaus dan Marlis mengingatkan, agar semua pihak, terutama pemerintah serius dan sungguh-sungguh menyelesaikan kendala investasi ini.
“Saya merasakan, selama ini kita tidak serius membangun daerah ini,” kata Guspardi.
Perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap pengusaha, selama ini juga dirasakan rendah. Menurut Asnawi Bahar, minim sekali pemerintah yang mengajak dan melibatkan dunia usaha untuk membicarakan hal-hal strategis dalam pembangunan di daerah ini.
“Jangankan membantu dunia usaha, berkomunikasi dengan pengusaha saja nyaris minim. Bagaimana mau menggerakkan perekonomian Sumbar?” kata Asnawi mempertanyakan.
Komunikasi, kepastian dan konsistensi kebijakan sangat penting untuk investasi. Investor tidak hanya menghitung potensi keuntungan, tetapi juga menakar risiko. Ketika proses perizinan terasa panjang, interpretasi aturan berbeda antar daerah, dan implementasi kebijakan tidak seragam, maka yang muncul adalah keraguan.
“Dalam dunia investasi, ketidakpastian adalah biaya paling mahal. Sedikit saja gangguan, calon investor akan reject,” kata Dasril.
Terkait infrastruktur dan konektivitas, Endrizal melihat memang masih belum optimal. Biaya logistik yang tinggi membuat daya saing daerah melemah. Investor akan selalu membandingkan: mengapa harus ke Sumbar jika biaya distribusi lebih mahal dibanding provinsi lain? Tanpa perbaikan serius pada jalan, pelabuhan, dan sistem logistik, sulit berharap lonjakan investasi yang signifikan.












