EkBisHEADLINEUTAMA

Visi Tak Jelas, Law Enforcement Lemah, Investasi Sumbar Perlu Pembenahan

×

Visi Tak Jelas, Law Enforcement Lemah, Investasi Sumbar Perlu Pembenahan

Sebarkan artikel ini
Prof Musliar Kasim, Dasril Noeha, dan peserta diskusi terbatas tentang investasi Sumbar di Hotel Pangeran, Padang, Sabtu malam (4/4/26). ist

Serius

Mencermati kendala investasi di Sumbar, peserta diskusi sepakat, sudah saatnya pembenahan dilakukan secara serius dan menyeluruh. Pemerintah daerah harus berani melakukan reformasi birokrasi, mempercepat perizinan, dan memastikan tidak ada lagi praktik yang menghambat.

Tata kelola lahan harus diperjelas dengan melibatkan ninik mamak dan masyarakat secara terbuka. Pendekatan kepada masyarakat harus berubah—dari sosialisasi sepihak menjadi dialog yang setara.

“Komunikasi menjadi kunci. Masyarakat dan berbagai kalangan harus diajak baiyo-iyo, batido-tido. Kalau mau membangun Sumbar, menggerakkan ekonomi dan mendorong investasi di daerah ini, semua pihak harus terorkestrasi dengan baik. Untuk itu perlu seorang derigen,” ujar Hasril Chaniago.

Tidak sedikit proyek investasi yang ditolak bukan karena masyarakat anti pembangunan, tetapi karena mereka tidak dilibatkan sejak awal. Komunikasi yang buruk melahirkan kecurigaan. Padahal, jika masyarakat dijadikan mitra, bukan objek, maka investasi justru bisa menjadi kekuatan kolektif yang memperkuat ekonomi lokal.

Baca Juga  Telkom Jalin Kemitraan Strategis dengan Fortinet Guna Perkuat Infrastruktur Digital dan Keamanan Siber

Guspardi Gaus dan Marlis mengingatkan, agar semua pihak, terutama pemerintah serius dan sungguh-sungguh menyelesaikan kendala investasi ini.

“Saya merasakan, selama ini kita tidak serius membangun daerah ini,” kata Guspardi.

Perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap pengusaha, selama ini juga dirasakan rendah. Menurut Asnawi Bahar, minim sekali pemerintah yang mengajak dan melibatkan dunia usaha untuk membicarakan hal-hal strategis dalam pembangunan di daerah ini.

“Jangankan membantu dunia usaha, berkomunikasi dengan pengusaha saja nyaris minim. Bagaimana mau menggerakkan perekonomian Sumbar?” kata Asnawi mempertanyakan.

Baca Juga  Ngeri..! Dinas Pariwisata Sumbar Gelontorkan Rp5 Miliar untuk Promosi di Medsos

Komunikasi, kepastian dan konsistensi kebijakan sangat penting untuk investasi. Investor tidak hanya menghitung potensi keuntungan, tetapi juga menakar risiko. Ketika proses perizinan terasa panjang, interpretasi aturan berbeda antar daerah, dan implementasi kebijakan tidak seragam, maka yang muncul adalah keraguan.

“Dalam dunia investasi, ketidakpastian adalah biaya paling mahal. Sedikit saja gangguan, calon investor akan reject,” kata Dasril.

Terkait infrastruktur dan konektivitas, Endrizal melihat memang masih belum optimal. Biaya logistik yang tinggi membuat daya saing daerah melemah. Investor akan selalu membandingkan: mengapa harus ke Sumbar jika biaya distribusi lebih mahal dibanding provinsi lain? Tanpa perbaikan serius pada jalan, pelabuhan, dan sistem logistik, sulit berharap lonjakan investasi yang signifikan.