PADANG,HARIANHALUAN.ID— Sebanyak 232 titik panas (hotspot) terdeteksi di Sumatera Barat selama 13 hari terakhir, terhitung 1 hingga 13 Agustus 2026. Meski sebaran hotspot cukup tinggi, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di sejumlah titik pemantauan belum masuk kategori tidak sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan pemantauan hotspot dilakukan menggunakan data tiga satelit, yakni NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20.
“Dari tanggal 1 sampai 13 Agustus 2026 terdapat 232 titik hotspot di Sumatera Barat,” ujarnya kepada Haluan Sabtu (15/8/2026).
Hotspot terbanyak tercatat pada 8 Agustus sebanyak 43 titik, disusul 1 Agustus sebanyak 34 titik, 12 Agustus 31 titik, serta 2 dan 7 Agustus masing-masing 30 titik. Sementara jumlah terendah terjadi pada 13 Agustus, yakni tiga titik.
Sebaran hotspot tidak terkonsentrasi di satu daerah. Pada 1 Agustus, misalnya, terdapat 21 titik di Pesisir Selatan, tujuh titik di Pasaman Barat dan empat titik di Dharmasraya.
Pada 8 Agustus, hotspot kembali meningkat menjadi 43 titik, tersebar di sejumlah daerah. Pasaman menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 13 titik, disusul Dharmasraya sembilan titik, Pasaman Barat enam titik dan Pesisir Selatan lima titik.
Sehari kemudian jumlahnya turun menjadi sembilan titik, sebelum kembali meningkat menjadi 31 titik pada 12 Agustus. Pada 13 Agustus, hanya tiga hotspot yang terpantau dan seluruhnya berada di Pesisir Selatan.
Lantas, apakah banyaknya hotspot otomatis membuat kualitas udara Sumbar memburuk? Data pemantauan DLH Sumbar menunjukkan belum demikian.
Berdasarkan pengukuran Stasiun AQMS Padang Pariaman selama 1–13 Agustus, seluruh 299 jam pengamatan berada pada nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 86 hingga 88, yang masih masuk kategori Sedang.
Sebanyak 78 jam berada pada nilai ISPU 86, 194 jam pada nilai 87 dan 27 jam pada nilai 88. Tidak terdapat pengamatan yang masuk kategori Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat maupun Berbahaya.
Namun, bukan berarti kondisi tersebut dapat diabaikan. Parameter yang paling dominan justru ozon (O₃), dengan rata-rata 86,83 dan maksimum 88. Sementara sulfur dioksida (SO₂) berada pada kisaran 80–81.












