Dr. Ir. Harison, M.Kom, M.Pd.T, IPM
Sekretaris Prodi Pendidikan Profesi Insinyur Pascasarjana Univesitas Andalas
Sumatera Barat selama ini dikenal sebagai daerah dengan kekuatan daratan pertanian, perdagangan, dan budaya. Namun ada satu fakta geografis yang sering luput dari arah pembangunan: wilayah lautnya jauh lebih luas dibanding daratannya. Fakta ini bukan sekadar angka, melainkan penunjuk arah ekonomi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Secara nyata, luas daratan Sumatera Barat hanya sekitar 42.000 km². Sementara itu, wilayah laut yang berkaitan dengan provinsi ini hingga Zona Ekonomi Eksklusif di Samudra Hindia diperkirakan mencapai 200.000 hingga 400.000 km². Artinya, laut Sumatera Barat bisa lima hingga hampir sepuluh kali lebih luas dibanding daratannya. Dengan perbandingan ini, seharusnya laut menjadi basis utama pembangunan ekonomi daerah.
Namun realitasnya, ekonomi masih bertumpu pada darat, sementara laut belum dikelola sebagai sumber nilai tambah. Padahal produksi perikanan tangkap mencapai sekitar 200.000 hingga 220.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, kebutuhan bahan baku untuk satu industri sarden skala kecil–menengah hanya sekitar 6.000 ton per tahun tidak sampai tiga persen dari total produksi.
Ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada ketersediaan ikan, melainkan belum adanya sistem industri yang berdiri di Sumatera Barat. Selama ini, ikan dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah justru berpindah ke daerah lain yang memiliki industri pengolahan. Sumatera Barat hanya menjadi pemasok, bukan pelaku utama dalam rantai nilai.
Industri sarden menjadi pintu masuk yang paling realistis untuk mengubah keadaan ini. Dengan kapasitas sekitar 20 ton per hari, satu pabrik mampu menghasilkan ribuan ton produk per tahun, menyerap ratusan tenaga kerja, dan menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah. Ironis dengan potensi sebesar itu, sumatera barat masih terdapat ikan sarden impor diwilayahnya.
Lebih penting lagi, industri ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan sektor pertanian. Sarden membutuhkan bumbu cabai, bawang merah, serta berbagai rempah. Semua komoditas ini dapat dipasok dari dalam daerah. Dengan demikian, terbentuk integrasi ekonomi: nelayan menangkap ikan, petani menyediakan bahan bumbu, industri mengolah, dan pasar menyerap hasilnya.
Namun ada satu kekuatan lain yang sering tidak disadari: Sumatera Barat memiliki modal sumber daya manusia (SDM) yang sangat lengkap untuk mendukung transformasi ini.
Di bidang kelautan dan perikanan, terdapat lulusan dari SMK pelayaran dan perikanan yang siap bekerja sebagai awak kapal, teknisi, hingga operator lapangan. Di tingkat lebih lanjut, tersedia politeknik dan pendidikan vokasi perikanan yang menghasilkan tenaga terampil di bidang pengolahan hasil laut, teknologi perikanan, dan manajemen industri.
Tidak hanya itu, perguruan tinggi di Sumatera Barat juga memiliki berbagai program studi dari S1 hingga S3 yang relevan, termasuk bidang perikanan, teknologi pangan, hingga peternakan. Keberadaan program studi peternakan bahkan bisa menjadi pendukung tambahan, misalnya dalam pengelolaan limbah industri ikan menjadi pakan ternak atau produk turunan lainnya.
Artinya, dari sisi SDM, Sumatera Barat tidak kekurangan. Bahkan bisa dikatakan memiliki rantai pendidikan yang lengkap dari tingkat vokasi hingga akademik tinggi yang siap mendukung industrialisasi berbasis sumber daya laut.
Dengan dukungan SDM ini, pengembangan industri sarden tidak perlu bergantung pada tenaga kerja dari luar daerah. Justru sebaliknya, ini menjadi peluang untuk menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.
Peran pemerintah daerah melalui BUMD menjadi kunci untuk menggerakkan sistem ini. BUMD dapat berfungsi sebagai penjamin pasokan, pengelola cold storage, pengolah produk, dan distributor. Armada tangkap modern dapat dimiliki dalam jumlah terbatas sebagai penyangga pasokan, sementara nelayan tetap menjadi aktor utama.
Dengan pendekatan ini, terbentuk sistem ekonomi yang terintegrasi: laut sebagai sumber bahan baku, industri sebagai pengolah, pertanian sebagai pendukung, dan SDM lokal sebagai penggerak utama.
Tentu saja, keberhasilan ini membutuhkan fondasi yang kuat terutama dalam hal manajemen profesional, infrastruktur, dan konsistensi kebijakan. Tanpa itu, potensi besar akan tetap menjadi potensi.
Namun jika semua elemen ini disatukan, maka Sumatera Barat tidak hanya akan dikenal sebagai daerah dengan laut yang luas, tetapi juga sebagai wilayah yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi nyata.
Sumatera Barat pada dasarnya adalah provinsi maritim. Lautnya luas, ikannya melimpah, petaninya kuat, dan SDM-nya tersedia. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengembangkan sayap pembangunan dari darat ke laut, dari bahan mentah ke industri, dan dari potensi menjadi kemakmuran.
Jika langkah ini diambil, maka industri sarden bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan tonggak transformasi masa depan Sumatera Barat. Menjadi suatu kenangan terindah, jika hal ini terwujub bagi pemerintah daerah karna sudah lebih 80 tahun merdeka kita belum mau membangun industri pengalengan ikan. (*)












