KAMPUS

Kolaborasi UNAND dan Pijar Foundation, Gaungkan Kampus Inklusi pada Townhall Muda University Roadshow

×

Kolaborasi UNAND dan Pijar Foundation, Gaungkan Kampus Inklusi pada Townhall Muda University Roadshow

Sebarkan artikel ini

PADANG, HALUAN — Universitas Andalas (Unand) menjadi tuan rumah pelaksanaan Townhall Muda University Roadshow yang digelar di Convention Hall Universitas Andalas, Senin (11/5).

Kegiatan bertajuk “Inklusi Disabilitas dalam Pendidikan Tinggi: Dari Pengalaman Kampus ke Dialog Kebijakan” ini berkolaborasi dengan Pijar Foundation. Isu inklusi disabilitas diangkat sebagai upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang setara bagi semua kalangan.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, komunitas, hingga pemangku kebijakan untuk membahas tantangan dan peluang dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Sekitar seratus peserta hadir mengikuti rangkaian kegiatan, terdiri dari mahasiswa disabilitas dan nondisabilitas, dosen, komunitas, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap isu kesetaraan akses pendidikan.

Antusiasme publik juga diperluas melalui siaran langsung di kanal YouTube @UNAND.official.

Sejak awal kegiatan, semangat kolaborasi menjadi pesan utama.

Perwakilan Pijar Foundation, Anthony Marwan, menekankan pentingnya membangun ruang dialog yang mempertemukan berbagai pihak agar pendidikan tinggi dapat berkembang menjadi lebih inklusif dan setara.

Sekretaris Unand, Aidinil Zetra yangembuka kegiatan secara resmi menegaskan komitmen Unand dalam memperkuat ekosistem kampus inklusif.

“Komitmen tersebut tidak hanya berhenti pada regulasi, tetapi juga diwujudkan melalui langkah konkret dan implementasi nyata di lingkungan kampus,” tuturnya.

Baca Juga  50 Mahasiswa UMSumbar Turun ke Maninjau, Usung Ekonomi Biru dan Ekowisata untuk Bangkit Pascabencana

Diskusi panel yang dipandu Ranisa Kautsar Tristi berlangsung dinamis dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Salah satu pembicara, Rika Handayani selaku akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sekaligus Kepala Unit Layanan Disabilitas dan Konseling (ULDK) Universitas Andalas. Ia menyoroti pentingnya layanan kampus yang benar-benar inklusif.

Menurutnya, aksesibilitas bukan hanya soal tersedianya fasilitas fisik, tetapi juga menyangkut pendampingan, layanan konseling, serta dukungan sosial yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan setara bagi seluruh mahasiswa.

Perspektif pemberdayaan kelompok rentan turut dihadirkan melalui Marlia Maira, GEDSI Officer Jemari Sakato. Berbekal pengalaman dalam berbagai program internasional terkait kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial, ia menekankan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar kelompok disabilitas memperoleh akses, partisipasi, dan kesempatan yang sama.

Sementara itu, Albert Oktavian dari LLDIKTI Wilayah X mengungkapkan tantangan nyata yang masih dihadapi banyak perguruan tinggi di Indonesia dalam menerapkan sistem pendidikan inklusif secara berkelanjutan. Menurutnya, keterbatasan fasilitas dan dukungan pendanaan masih menjadi persoalan utama yang memunculkan kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan.

Baca Juga  Berdiri Sejak 1898, Mahasiswa FIB Unand Kunjungi Pesantren Thawalib Padang Panjang

Diskusi semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Salah satu peserta, Aldo Agustio, mahasiswa Sistem Informasi Universitas Andalas. Ia menyoroti persoalan akses pendidikan bagi mahasiswa disabilitas di daerah terpencil seperti Mentawai. Ia mempertanyakan bagaimana jaminan akses pendidikan tinggi serta dukungan terhadap keluarga penyandang disabilitas agar keberlanjutan pendidikan tetap terjaga.

Tak berhenti pada forum diskusi, peserta juga dilibatkan dalam forum kelompok terarah yang dibagi ke dalam sepuluh kelompok. Dari forum tersebut lahir berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat praktik pendidikan tinggi yang inklusif.

Salah satu gagasan datang dari Kelompok Dua yang disampaikan Rahmad Rafildi. Kelompok tersebut merekomendasikan pembentukan ruang advokasi mahasiswa disabilitas hingga tingkat himpunan dan departemen melalui divisi khusus yang lebih responsif terhadap isu disabilitas.

Selain itu, mereka juga mendorong penguatan program student buddies, peningkatan edukasi inklusi di organisasi mahasiswa, serta penyediaan ruang aspirasi yang lebih mudah diakses.

Melalui Townhall Muda University Roadshow, semangat membangun kampus inklusif diharapkan tidak berhenti sebagai wacana.

Forum ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju lahirnya kebijakan serta praktik pendidikan tinggi yang lebih ramah, setara, dan memberi ruang bagi semua pihak tanpa terkecuali. (h/yes)