KAMPUS

CEO Talks UNAND : Kolaborasi Kampus dan Industri Jadi Kunci Lahirnya Inovasi

×

CEO Talks UNAND : Kolaborasi Kampus dan Industri Jadi Kunci Lahirnya Inovasi

Sebarkan artikel ini
Kegiatan CEO Talks bertema "Dari Literasi Keuangan Menuju Pemberdayaan Masyarakat dan Inovasi” di Auditorium Kampus Limau Manis, Senin (29/6). NUR FATIMAH

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Universitas Andalas (UNAND) mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. 

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kolaborasi dengan PT Pegadaian yang menghasilkan berbagai program strategis, termasuk penyerahan alat pendeteksi dini (early warning) gempa bumi hasil riset bersama untuk mendukung mitigasi bencana di Sumatera Barat.

Kolaborasi itu menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan CEO Talks bertema “Dari Literasi Keuangan Menuju Pemberdayaan Masyarakat dan Inovasi” yang digelar di Auditorium Kampus Limau Manis, Senin (29/6).

Kegiatan ini menghadirkan Direktur Manajemen Risiko, Legal, dan Kepatuhan PT Pegadaian, Ismail Ilyas, sebagai pembicara utama. Acara turut dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran, pimpinan universitas, sivitas akademika, serta calon wisudawan.

Wakil Rektor III UNAND, Prof. Kurnia Warman mengatakan perguruan tinggi saat ini dituntut melampaui fungsi tradisional sebagai lembaga pendidikan dan penelitian.

Menurutnya, universitas harus mampu menjadi pusat lahirnya inovasi yang dapat menjawab berbagai tantangan pembangunan sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Universitas Andalas meyakini bahwa riset yang baik adalah riset yang memberi manfaat. Riset harus keluar dari laboratorium, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi dasar lahirnya kebijakan, inovasi, maupun teknologi yang meningkatkan kualitas kehidupan.

Baca Juga  TIM PENGABDIAN FISIKA UNP, Edukasi Mitigasi Bencana di Desa Lumindai

Oleh karena itu, kolaborasi dengan dunia usaha merupakan kebutuhan strategis agar inovasi berkembang lebih cepat dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujarnya. 

Ia menambahkan, keberhasilan perguruan tinggi pada masa depan sangat bergantung pada kemampuannya membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, kolaborasi antara universitas, pemerintah, industri, media, dan masyarakat menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang mampu menjawab kebutuhan bangsa.

Sebagai wujud komitmen tersebut, UNAND berharap kemitraan dengan PT Pegadaian terus diperluas melalui riset strategis, penguatan literasi dan inklusi keuangan, transformasi digital, pengembangan kewirausahaan mahasiswa, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain memperkuat kolaborasi riset, sambungnya, CEO Talks juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja yang dipengaruhi perkembangan teknologi. 

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko, Legal, dan Kepatuhan PT Pegadaian, Ismail Ilyas, menekankan pentingnya membangun kompetensi yang tidak hanya bertumpu pada kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan beradaptasi dan mengelola keuangan secara bijak.

Baca Juga  Jasa Raharja Telah Serahkan Santunan Bagi Seluruh Korban Kecelakaan SB. Evelyn Calisca 01

“Kemampuan mengelola keuangan dan berinvestasi merupakan bekal penting bagi generasi muda. Semakin cepat memulai, semakin besar peluang untuk memperoleh manfaat di masa depan.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan literasi keuangan sejak dini agar siap menghadapi dinamika dunia kerja,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, UNAND dan PT Pegadaian juga menyerahkan hasil penelitian kolaboratif berupa alat pendeteksi dini (early warning) gempa bumi kepada masyarakat.

Inovasi yang dikembangkan Pusat Studi Bencana UNAND bersama Program Studi Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana itu merupakan bagian dari riset pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa megathrust Mentawai dan ancaman tsunami di Kota Padang.

Tidak hanya menghasilkan perangkat teknologi, riset tersebut juga melahirkan model mitigasi bencana berbasis masyarakat yang mengintegrasikan sistem deteksi dini, prosedur evakuasi, edukasi kebencanaan, pemanfaatan masjid sebagai pusat informasi dan tempat evakuasi sementara (shelter), serta simulasi yang dapat direplikasi di berbagai kawasan pesisir.

Model ini diharapkan menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana di wilayah rawan gempa. (h/mg-ipt)