OPINI

Ketika Algoritma Menjadi “Mamak” Baru dalam Komunikasi Kita

×

Ketika Algoritma Menjadi “Mamak” Baru dalam Komunikasi Kita

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aisyah Hudayu

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNAND

Dulu, ketika hendak mengetahui kabar seseorang yang berada jauh di rantau, orang Minangkabau mungkin harus menunggu surat. Kemudian datang telepon yang memperpendek jarak. Setelah itu, SMS, Facebook, WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga berbagai platform digital membuat komunikasi seolah tidak lagi mengenal jarak dan waktu.

Hari ini, seseorang di Padang dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di Jakarta, Kuala Lumpur, bahkan New York hanya beberapa detik setelah sebuah peristiwa berlangsung.

Kita hidup dalam zaman ketika informasi tidak lagi datang mengetuk pintu. Ia justru masuk tanpa diundang.

Telepon seluler yang berada di genggaman kita setiap hari bukan sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi ruang tempat kita bekerja, belajar, berdebat, berbelanja, mencari hiburan, bahkan membentuk pandangan tentang dunia.

Di sinilah perubahan komunikasi masa kini menjadi menarik untuk dibicarakan. Sebab yang berubah bukan hanya medianya, melainkan juga cara manusia memahami realitas.

Marshall McLuhan, melalui gagasan terkenalnya the medium is the message, mengingatkan bahwa medium komunikasi bukan sekadar kendaraan yang membawa pesan. Medium ikut membentuk cara manusia berpikir dan mengalami dunia.

Ketika surat kabar menjadi medium utama, masyarakat terbiasa menerima informasi melalui proses editorial. Ada wartawan, redaktur, ruang redaksi, dan pertimbangan mengenai nilai berita. Pembaca menerima informasi yang telah melewati sejumlah tahapan penyaringan.

Baca Juga  Terjajah Nasi (Bagian 1): Dominasi Bibit Unggul dan Kepunahan Plasma Nutfah Lokal

Kini, proses tersebut tidak hilang, tetapi bertambah kompleks.

Di media sosial, setiap orang dapat menjadi produsen pesan. Seorang mahasiswa dapat mengunggah video. Pedagang dapat mempromosikan produknya. Warga dapat merekam kejadian di jalan. Tokoh masyarakat dapat menyampaikan pandangan tanpa harus menunggu ruang di halaman surat kabar.

Komunikasi menjadi lebih demokratis.Tetapi demokratis belum tentu berarti lebih sehat.Sebab ketika semua orang dapat berbicara, persoalan berikutnya adalah: siapa yang menentukan suara mana yang akan didengar?

Pertanyaan ini membawa kita kepada sesuatu yang sering tidak terlihat, tetapi bekerja sangat kuat: algoritma.

Dari Redaktur ke Algoritma

Pada masa media konvensional, redaktur berperan sebagai gatekeeper—penjaga gerbang informasi. Ia menentukan berita apa yang masuk, apa yang ditempatkan di halaman depan, dan apa yang dianggap tidak cukup penting untuk diberitakan.

Di ruang digital, fungsi penjaga gerbang menjadi lebih tersebar. Platform menggunakan sistem algoritmik untuk mengatur konten yang muncul kepada pengguna. Apa yang kita lihat di beranda tidak selalu merupakan gambaran seluruh informasi yang tersedia. Ia merupakan hasil dari proses seleksi dan personalisasi.

Kita sering merasa sedang memilih informasi. Padahal, dalam banyak situasi, informasi juga sedang memilih kita.

Kita menonton satu video tentang politik, misalnya. Kemudian muncul video serupa. Kita menyukai satu jenis konten, lalu platform menghadirkan lebih banyak konten dengan karakteristik yang sama. Kita berhenti beberapa detik pada suatu video, sistem dapat membaca perhatian tersebut sebagai sinyal.

Baca Juga  Trailer dan Poster Onde Mande Resmi Rilis Hari Ini, Kocaknya Siasat Urang Minang Klaim Sayembara Rp2 Miliar

Lama-kelamaan, terbentuk lingkungan informasi yang terasa akrab dengan diri kita. Persoalannya, sesuatu yang terasa akrab belum tentu sesuatu yang lengkap.

Inilah salah satu tantangan terbesar komunikasi digital. Masyarakat dapat hidup dalam ruang informasi yang berbeda-beda meskipun tinggal di kota yang sama, berada dalam keluarga yang sama, bahkan duduk di meja makan yang sama.

Dua orang dapat memegang telepon yang sama-sama canggih, tetapi melihat dunia yang berbeda.

Ketika “Yang Viral” Dianggap “Yang Penting”

Logika media sosial juga memperkenalkan ukuran baru dalam komunikasi: engagement.

Berapa banyak yang menyukai? Berapa banyak yang berkomentar? Berapa banyak yang membagikan? Berapa lama orang menonton?Angka-angka tersebut menjadi sangat penting dalam ekosistem digital.

Masalahnya, perhatian publik tidak selalu bergerak searah dengan kepentingan publik.Informasi yang kompleks membutuhkan waktu untuk dipahami. Sementara itu, informasi yang mengejutkan, menghibur, membuat marah, atau memancing perdebatan cenderung lebih mudah memperoleh perhatian.

Akibatnya, kita berhadapan dengan paradoks komunikasi modern: informasi semakin melimpah, tetapi perhatian semakin langka.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan komunikasi tidak cukup hanya berupa kemampuan berbicara atau menulis. Kita membutuhkan kemampuan untuk memahami bagaimana pesan bekerja dalam lingkungan digital.