OPINI

Terjajah Nasi (Bagian 1): Dominasi Bibit Unggul dan Kepunahan Plasma Nutfah Lokal

×

Terjajah Nasi (Bagian 1): Dominasi Bibit Unggul dan Kepunahan Plasma Nutfah Lokal

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Nazri Janra (Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas)

Bercerita tentang tragedi yang terjadi di dunia pertanian yang berhubungan dengan judul tulisan ini, rasanya tidak terlalu banyak orang yang menyadarinya. Selain karena perlahan rentang kejadiannya, bisa dikatakan kalau peristiwanya sendiri terjadi lintas generasi pada mereka yang berprofesi sebagai petani. Lalu juga karena hal ini menyangkut terutama dengan mereka yang sehari-harinya bekerja sebagai petani (bahkan juga peternak), profesi yang sekarang seperti meredup kharismanya, maka orang banyak juga tentu tidak akan terlalu ambil pusing. Hal yang justru aneh, karena sebenarnya Indonesia sendiri selain dikenal sebagai negara maritim, juga adalah negara agraris akibat tanahnya yang sangat subur. Dilalui oleh cincin api (ring of fire) Pasifik, sebagian besar negara ini secara rutin disuburkan oleh materi vulkanik. Ditambah lagi dengan posisinya yang berada di khatulistiwa, selain maksimal mendapatkan cahaya matahari, juga dikaruniai dengan curah hujan yang cukup. Semuanya adalah resep yang sangat tepat untuk dapat menjadi sebuah negara yang unggul di bidang pertanian beragam komoditas.

Tetapi mungkin yang kita amati di kondisi negara kita sekarang, jauh panggang daripada api. Meskipun pemerintah yang berkuasa sekarang dengan lantang mengaku berhasil dalam swasembada pangan, tetapi kenyataan di lapangan berbicara lain. Memang faktor politik yang paling banyak dituding sebagai penyebab kondisi pertanian di negara kita sekarang. Akan tetapi, perlu ditilik lebih jauh lagi ke belakang untuk melihat bagaimana hal ini terjadi.

Mungkin stagnasi (kalau bukan kemunduran) dunia pertanian Indonesia bisa dilacak mulainya ketika diberlakukannya “panca usaha tani” di Era Orde Baru. Ketika itu pemerintah secara massif menggalakkan lima hal yang dianggap menjadi penyokong utama kemajuan pertanian negara melalui penggunaan bibit unggul, mekanisasi pengolahan tanah, irigasi yang tepat, pemupukan dan pemberantasan hama. Semua elemen panca usaha tani tadi merevolusi sistem pertanian tradisional, terutama dengan penggunaan bibit unggul yang diperoleh melalui penyilangan galur unggul sampai kepada penggunaan radiasi nuklir. Yang paling dikenal ketika itu adalah beragam bibit unggul padi yang menghasilkan beras sebagai makanan pokok kebanyakan orang di negara ini.

Baca Juga  SDM Rendah, Katanya?

Keberadaan bibit unggul ketika itu memukau para petani dengan kemampuan tumbuhnya yang cepat, genjah (cepat berbunga dan berbuah) serta kuantitas hasil yang berlipat ganda dari hasil pertanian yang dilakukan secara tradisional. Akan tetapi, semua keunggulan yang memukau tadi sebenarnya memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mencapainya serta bersifat semu. Selain bibit yang diperoleh dengan harga yang lebih mahal, seringkali bibit tersebut tidak bisa diperbanyak untuk regenerasi tanaman pertanian berikutnya. Lalu hal berikutnya yang lebih fatal adalah kebutuhan yang sangat tinggi terhadap pupuk kimia untuk menunjang performa ‘unggul’ tadi. Selama beberapa kali siklus pertumbuhan, bibit-bibit unggul ini masih menunjukkan hasil yang tinggi sebelum kemudian perlahan menurun. Meskipun intensitas dan kuantitas pemupukan ditingkatkan. Swasembada beras yang sempat dicapai pada era 70-80an perlahan memudar.

Dengan sifat tumbuhnya yang genjah, setahun bisa sampai 3 kali siklus pertumbuhan, juga berarti tiga kali pemupukan dengan senyawa kimia. Ditambah dengan penyemprotan beragam senyawa lain yang ditujukan untuk mengendalikan hama. Tanpa disadari, ini yang menjadi titik kemunduran kita. Introduksi beragam senyawa kimia ini kemudian secara perlahan tapi pasti membunuh mikroorganisme tanah yang penting dalam menjamin kesuburan berkelanjutan tanah. Tanah kemudian menjadi padat, sehingga akar kehilangan kemampuan untuk bernafas dan bertumbuh. Jika ini terjadi pada lahan pertanian yang digunakan untuk menanam padi, maka tidak heran jika kerusakan tanah yang terjadi di kemudian hari setelah panca usaha tani diterapkan juga sangat massif.

Baca Juga  Sagu Untuk Variasi PMT Anak Stunting

Upaya yang dilakukan berikutnya justru bukan meminimalisir penggunaan kimiawi dalam praktek pertanian. Pembukaan lahan-lahan baru di pulau-pulau luar Jawa melalui program transmigrasi sayangnya juga tetap menerapkan secara ketat ‘panca usaha tani’ tersebut. Padi-padi lokal seperti siangkat, ramos, silumut dan sipungkul kemudian juga digantikan oleh varietas unggul Inpari atau Inpago. Alasannya juga sama, padi lokal tersebut berumur lama, kuantitas panen yang lebih sedikit serta alasan temporal lainnya. Sehingga proses introduksi senyawa kimiawi pertanian tersebut semakin meluas sebelum berujung kepada penurunan hasil panen akibat tanah yang memburuk kondisinya.

Sistem pertanian tradisional secara selintas memang sepertinya tidak memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk. Akan tetapi, pertanian tradisional menawarkan sustainabilitas (keberlanjutan), sehingga pembukaan lahan hutan yang seringkali disinyalir sebagai pangkal bala bencana ekologis dapat turut diminimalkan.

Lebih jauh lagi, kehilangan beragam jenis-jenis plasma nutfah lokal, terutama tumbuhan serealia yang menjadi sumber karbohidrat pokok menyimpan bahaya yang bisa berdampak besar. Meski umur tanam lama dan produktifitas tidak sebanyak bibit unggul, tetapi mereka memiliki ketahanan yang tinggi terhadap faktor lingkungan dan juga hama. Berlawanan dengan bibit unggul yang meskipun cepat dan banyak menghasilkan, tapi justru ‘manja’ dan lemah jika dihadapkan pada kondisi lingkungan yang ekstrim. Hal inilah yang ditakutkan dengan pertanian kita di masa yang akan datang, dimana tidak ada lagi cadangan genetik yang bisa digunakan untuk memperkuat komoditas pertanian, karena telah terlupakan akibat lama terlena oleh pemakaian bibit-bibit unggul tadi. (bersambung) (*)

OPINI

Oleh : Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag…

OPINI

Oleh: Muhammad Nazri Janra (Departemen Biologi, Fakultas MIPA,…