SOLOK,HARIANHALUAN.ID — Galodo yang menerjang kawasan Kayu Aro dan Arosuka, Kabupaten Solok, Senin (21/9/2026) malam, tidak cukup hanya dibaca sebagai dampak hujan deras.
Perubahan bentang alam di kawasan hulu dan dugaan alih fungsi lahan di wilayah perbukitan dinilai perlu ikut ditelusuri untuk memahami mengapa aliran air dapat berubah menjadi galodo yang membawa lumpur, batu dan material lainnya ke kawasan permukiman.
Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Barat, Prof Isril Berd, mengatakan kawasan Arosuka memiliki karakter bentang alam yang membuatnya secara alami memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi.
Arosuka yang merupakan kawasan Kayu Aro-Sukarami berada di wilayah Kecamatan Gunung Talang, pada kawasan lereng bawah Gunung Talang. Topografinya didominasi perbukitan dengan sejumlah bagian memiliki kemiringan terjal hingga sangat terjal.
Kondisi tersebut, menurut Isril, perlu dilihat bersama dengan perubahan pemanfaatan ruang yang berlangsung di kawasan hulu.
“Kalau kita lihat kondisi lapangan, terutama kawasan perbukitan menuju Danau Kembar, banyak terjadi perubahan fungsi kawasan. Ada pembangunan vila, kafe dan berbagai aktivitas lainnya di daerah perbukitan,” ujarnya kepada Haluan Selasa (22/9/2026).
Menurut Guru Besar Universitas Gunadharma ini, perubahan bentang alam di kawasan hulu Gunung Talang perlu menjadi bahan evaluasi serius setelah bencana galodo kembali terjadi di kawasan Arosuka.
Menurut dia, kawasan hulu pada dasarnya memiliki fungsi penting dalam mengatur tata air. Vegetasi dan tutupan lahan membantu menahan serta menyerap air hujan sebelum dialirkan secara perlahan ke bagian bawah.
Ketika tutupan lahan berubah dan permukaan tanah semakin banyak terbuka atau tertutup bangunan, kemampuan kawasan untuk menahan limpasan air juga perlu dihitung kembali.
“Hujan memang menjadi pemicu, tetapi kondisi DAS dan perubahan bentang alam perlu dilihat. Jangan sampai kita hanya melihat air yang turun, tetapi tidak melihat bagaimana kondisi kawasan penyangga di bagian hulunya,” ungkapnya.
Prof Isril Berd mengingat, kawasan Arosuka dan Kayu Aro harus dilihat sebagai satu kesatuan ekosistem dengan wilayah hulunya. Perubahan yang terjadi di kawasan atas dapat memberikan konsekuensi terhadap kawasan yang berada lebih rendah.
Terlebih, Arosuka berada pada bentang alam kaki Gunung Talang yang memiliki karakter vulkanik. Ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, air dapat bergerak cepat dari kawasan yang memiliki kemiringan tinggi dan membawa material lepas menuju bagian bawah.
Dalam kondisi tertentu, aliran tersebut dapat berkembang menjadi aliran debris atau galodo yang membawa campuran air, lumpur, batu dan material lainnya.












