OPINI

Komunikasi Budaya di Balik “Symphony of Minang Heritage”

×

Komunikasi Budaya di Balik “Symphony of Minang Heritage”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Elva Ronaning Roem, M.Si

(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNAND)

Budaya tidak selalu diwariskan melalui buku atau cerita lisan. Ia juga hadir melalui simbol, ritual, kesenian, bahasa, dan pakaian. Dalam perspektif komunikasi budaya, pakaian adat bukan sekadar busana, tetapi merupakan media komunikasi yang menyampaikan identitas, nilai, sejarah, filosofi, dan posisi sosial suatu masyarakat.

Perspektif inilah yang menarik dalam Symphony of Minang Heritage, rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-70 (Lustrum XIV) Universitas Andalas yang digelar pada 14 September 2026 di Pangeran Beach Hotel, Padang. 

Sebanyak 14 perempuan Universitas Andalas tampil mengenakan ragam pakaian dan penutup kepala adat Minangkabau. 

Mereka adalah Dr. Dra. Mairawita Marlis Rahman, M.Si.; Dr. Ir. Oknovia Susanti, S.T., M.Eng., IPM, ASEAN Eng.; Prof. Dr. Solfiyeni Karimi, M.P.; Prof. apt. Fatma Sri Wahyuni, Ph.D.; Dr. Nani Mulyati, S.H., M.CL.; Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, M.A.R.S., FISPH, FISCM, Sp.KKLP, Subsp.COPC.

Lalu ada juga  Dr. Yussy A. Mannas, S.H., M.H.; Dr. Elva Ronaning Roem, M.Si.; Prof. Henny Herwina, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Dr. Ir. Eka Candra Lina, S.P., M.Si., IPM; Prof. Shinta Indah, S.Si., M.T., Ph.D.; Prof. Dr. dr. Rizanda Machmud, M.Kes., FISPH, FISCM, Sp.KKLP, Subsp.FOMC; Sari Lenggogeni, S.E., M.M., M.Par., Pg.Dipl., Ph.D.; dan Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P. 

Mereka bukan sekadar tampil sebagai peraga busana. Dalam perspektif komunikasi budaya, ke-14 perempuan tersebut dapat dilihat sebagai komunikator budaya, sementara pakaian yang dikenakan menjadi medium penyampaian pesan.

Komunikasi tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kita berkomunikasi melalui suara, bahasa tubuh, ekspresi, warna, ruang, bahkan melalui apa yang kita kenakan. Dalam setiap simbol yang digunakan manusia, selalu ada pesan yang ingin disampaikan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, apa yang kita yakini, dan nilai apa yang ingin kita wariskan.

Baca Juga  Hujan Lebat, Dinas PUPR Padang Turunkan TRC Atasi Genangan

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam ilmu komunikasi, saya melihat pakaian adat bukan semata-mata sebagai busana. Ia adalah bahasa budaya. Ia berbicara tanpa suara, tetapi menyimpan cerita tentang sejarah, identitas, nilai, lingkungan, relasi sosial, hingga posisi perempuan dalam masyarakat.

Karena itu, ketika 14 perempuan Universitas Andalas tampil dalam Symphony of Minang Heritage, saya tidak hanya melihat sebuah parade busana. Saya melihat sebuah peristiwa komunikasi budaya, ketika simbol-simbol Minangkabau kembali “berbicara” di ruang publik.

 Dari Sungayang, Solok, Lintau Buo, Padang Magek, Kurai, Payakumbuh, Padang, Pariaman, Bayua, Taram, Koto Gadang, Matua hingga Pesisir Selatan, setiap pakaian membawa cerita dan maknanya sendiri. 

Keberagaman itu seperti sebuah simfoni: berbeda nada, tetapi bertemu dalam satu harmoni bernama Minangkabau. Dan mungkin, di tengah derasnya perubahan zaman, inilah pertanyaan penting bagi kita: apakah generasi berikutnya masih mampu membaca pesan yang tersembunyi di balik simbol-simbol budaya kita? Sebab, budaya tidak cukup hanya diwariskan sebagai benda. Budaya harus dikomunikasikan agar maknanya tetap hidup.

Pakaian yang “berbicara”

Setiap pakaian memiliki cerita. Tingkuluak Sungayang, misalnya, berasal dari Nagari Sungayang, Tanah Datar. Bentuknya yang menyerupai gonjong Rumah Gadang serta penggunaan songket dan benang emas dimaknai sebagai simbol keteguhan, kehormatan dan tanggung jawab perempuan. 

Suntiang Solok membawa pesan tentang keanggunan, kewibawaan, kekuatan adat dan identitas budaya Solok. Sementara Tingkuluak Kompong dari Payakumbuh merepresentasikan kesopanan, harga diri dan martabat perempuan Minangkabau. 

Baca Juga  Pendidikan Politik di Indonesia - Tantangan Demokrasi Era Digital

Menariknya, pesan budaya juga terlihat kuat pada Suntiang Pariaman. Berasal dari Kota Pariaman dan wilayah pesisir Kabupaten Padang Pariaman, suntiang ini memiliki ornamen yang dimodifikasi menyerupai ikan, cumi-cumi dan bunga karang. Simbol tersebut terinspirasi dari hasil laut dan kehidupan masyarakat pesisir Pariaman. 

Di sini kita dapat melihat bahwa lingkungan hidup masyarakat juga dapat dikomunikasikan melalui pakaian. Laut menjadi simbol, simbol menjadi ornamen, dan ornamen kemudian menjadi pesan budaya. Ada pula Suntiang Bayua dan Suntiang Taram yang mengkomunikasikan kebesaran, keanggunan serta tanggung jawab perempuan setelah menikah. 

Bahkan Suntiang Taram secara tradisional dapat berbobot sekitar 5–10 kilogram, yang dimaknai sebagai gambaran beratnya tanggung jawab perempuan terhadap keluarga dan kaum. 

Dari pakaian menjadi pesan budaya

Keragaman yang ditampilkan menunjukkan bahwa Minangkabau memiliki kekayaan simbol yang luar biasa. Setiap daerah memiliki karakter, bentuk dan makna yang berbeda, tetapi semuanya menjadi bagian dari identitas budaya Minangkabau. 

Karena itu, pakaian adat sesungguhnya dapat dipandang sebagai teks budaya yang dapat dibaca. Ia bercerita tentang perempuan, keluarga, adat, lingkungan, sejarah, kehormatan dan tanggung jawab.

Yang menjadi penting kemudian adalah bagaimana pesan-pesan tersebut terus dikomunikasikan kepada generasi berikutnya. Sebab, budaya tidak cukup hanya disimpan. Budaya harus dihidupkan dan dikomunikasikan. Ketika pakaian adat hanya menjadi benda yang disimpan, yang mungkin bertahan adalah bentuk fisiknya.

Tetapi ketika pakaian itu dikenakan, diperkenalkan dan dijelaskan maknanya, nilai yang terkandung di dalamnya ikut diwariskan. Di sinilah Symphony of Minang Heritage menjadi lebih dari sekadar parade busana. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan perempuan, akademisi, budaya dan komunikasi.