OPINISUMBAR

Ketika Wako Ramadhani Merawat Identitas Kubuang Tigo Baleh di Era Transformatif

×

Ketika Wako Ramadhani Merawat Identitas Kubuang Tigo Baleh di Era Transformatif

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. M.A. Dalmenda, M.Si.

(Dosen Media Tv dan Film Departemen  Komunikasi Fisip Unand)

Zaman bergerak serupa air bah yang tak berhulu. Ia datang membawa gelombang transformasi digital, mengetuk pintu-pintu rumah gadang, dan menyusup ke sela-sela jari generasi yang jemarinya kini lebih akrab dengan layar kaca ketimbang bilah-bilah jerami di sawah.

Di bawah langit Kota Solok yang kian urban, sebuah pertanyaan besar mengapung di atas hamparan riak modernitas: Masihkah kita mengenali tanah tempat kaki memijak, ketika angin perubahan bertiup sedemikian kencang?

Bagi bumi Kubuang Tigo Baleh, jawabannya tidak boleh terkubur dalam riuh rendah kemajuan. Di kedalaman tanahnya, ada Tareh Tabanam—sebuah inti kayu teras yang terbenam kokoh, metafora dari kekuatan watak, prinsip hidup, dan keluhuran budi yang digariskan oleh para leluhur.

Tareh inilah yang menjaga agar pohon kultural kita tidak tumbang, sekeras apa pun angin transformatif mencoba mematahkan dahan-dahannya.

Momentum Rang Solok Baralek Gadang hadir yang bakal digelar awal Oktober 2026 bukan sekadar sebagai panggung seremonial tahunan, bukan pula sebatas kepul asap dari tungku-tungku kenduri nagari.

Baca Juga  Bahas Infrastruktur, Bupati Sijunjung Temui Menteri PUPR

Lebih dari itu, alek ini adalah sebuah epilog spiritual di tengah hamparan sawah hijau pusat kota. Di atas hamparan jerami dan di bawah sapaan angin Gunung Talang, festival ini menjelma menjadi ruang kontemplasi: tempat di mana modernitas bersalaman takzim dengan kearifan lokal.

Di sinilah kita melihat bagaimana nakhoda kepemimpinan daerah memainkan perannya. Di bawah kemudi Wali Kota Solok, Dr. Ramadhani Kirana Putra, S.E., M.M., dengan Wawako H. Suryadi Nurdal, SH transformasi kota tidak dibiarkan berjalan liar tanpa arah.

Kepemimpinan yang visioner justru menjadikan kebudayaan sebagai jangkar sekaligus bahan bakar bagi pembangunan. Setidaknya Wako Ramadhani memahami bahwa mengurus kota bukan sekadar membangun beton dan aspal, melainkan merawat jiwa peradaban melalui harmoni tiga pilar kearifan lokal Solok: Seni, Adat, dan Budaya.

Alam Minangkabau tidak pernah mengharamkan perubahan. Dinamika zaman adalah sunatullah yang dipeluk dengan kelapangan dada. Namun, keterbukaan itu memiliki pasak yang menghunjam dalam. Sebagaimana yang digumamkan dalam bait petuah adat:

Baca Juga  Sumbar Banjir Ringgit, Akibat Rupiah Melemah

“Sakali aia gadang, sakali tapian barubah. Sakali tahun batuka, sakali musim baganti. Tapi adat barajo ka nan bana, nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan.”

Petuah itu adalah manifesto filosofis yang diterjemahkan nyata dalam kebijakan daerah. Tepian boleh berganti rupa, teknologi boleh merombak cara kita berkomunikasi, namun nan bana—kebenaran hakiki dari nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah—adalah prasasti yang tak boleh terkikis.

Kota Solok boleh bertransformasi menjadi megah, tetapi ia harus tetap mengakar sebagai kota yang memuliakan ekstase seni tradisi, kokohnya struktur adat, dan keluhuran benteng budaya yang diwariskan dari surau hingga ke forum-forum adat. Ketiganya bukanlah entitas yang terpisah, melainkan anyaman suci yang menjaga denyut nadi kota agar tetap luhur, beradab, dan diberkahi.