OPINI

Sumbar Banjir Ringgit, Akibat Rupiah Melemah

×

Sumbar Banjir Ringgit, Akibat Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini
Darmawi (Praktisi Pariwisata/Ketua ASITA Sumbar 2021–2026)

“Benarkah Pariwisata Menguat Dibalik Melemahnya Rupiah? Saatnya Pelaku dan Pegiat Pariwisata Menangkap Peluang dari Wisatawan Mancanegara Lewat Jalur Direct Flight, Khusus nya Malaysia dan Singapore”

Oleh: Darmawi
Praktisi dan Akademisi Pariwisata Sumatera Barat
Ketua ASITA Sumatera Barat 2021-2026
Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Sumatera Barat 2022-2026
Founder Minang Maimbau Group
Mahasiwa S2 Prodi Pariwisata Universitas Negeri Padang

PADANG, HALUAN – Fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia dan Singapura ke sejumlah kota di Indonesia seperti Batam, Padang, dan Pekanbaru dalam beberapa waktu terakhir bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor yang paling terasa adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tetangga. Saat ini nilai tukar 1 ringgit Malaysia sudah menyentuh Rp4.550.

Hal ini membuat harga barang, jasa, kuliner, hingga akomodasi di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi wisatawan asing. Kondisi ini bahkan dinilai dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata sekaligus belanja bagi wisatawan mancanegara.

Bagi masyarakat Malaysia dan Singapura, berkunjung ke Indonesia saat nilai rupiah melemah ibarat mendapatkan “diskon besar” secara alami.

Dengan jumlah uang yang sama, mereka memperoleh lebih banyak barang, lebih banyak pengalaman wisata, dan lebih banyak pilihan kuliner dibandingkan jika berbelanja di negara mereka sendiri.

Tidak mengherankan apabila pusat-pusat perbelanjaan di Batam dipadati wisatawan Singapura setiap akhir pekan. Begitu pula di Padang dan Pekanbaru yang semakin ramai dikunjungi wisatawan Malaysia untuk menikmati kuliner, berbelanja produk fesyen, kosmetik, makanan khas, hingga melakukan wisata kesehatan dan keluarga.

Dari pantauan hari ini, Sabtu (6/6/2026) salah satu rumah makan dekat Bandara Internasional Minang Kabau (BIM) ada 7 unit mobil berisi wisatawan asal negeri jiran Malaysia.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa wisatawan asal Malaysia masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia termasuk Kota Padang pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan kedekatan geografis, budaya, dan biaya perjalanan yang relatif terjangkau masih menjadi kekuatan utama pariwisata Indonesia.

Baca Juga  Menyelaraskan Pendidikan Vokasi dengan Industri

Namun, fenomena ini tidak boleh hanya dilihat sebagai keuntungan sesaat akibat fluktuasi kurs. Pelaku industri pariwisata harus mampu membaca situasi ini sebagai momentum untuk membangun pasar yang lebih berkelanjutan.

Bagi pelaku usaha perjalanan wisata atau tour travel, kondisi saat ini justru membuka peluang besar untuk mengembangkan paket wisata domestik yang terintegrasi. Selama ini banyak wisatawan Malaysia dan Singapura datang hanya untuk berbelanja atau kunjungan singkat. Padahal mereka bisa didorong untuk memperpanjang masa tinggal dengan menawarkan paket wisata yang lebih lengkap.

Misalnya, wisatawan Malaysia yang datang ke Padang tidak hanya diajak berbelanja dan menikmati kuliner rendang, tetapi juga ditawarkan paket wisata ke Lembah Harau, Mandeh, Jam Gadang Bukittinggi, Istano Basa Pagaruyung, hingga kawasan wisata religi dan budaya Minangkabau. Begitu pula wisatawan yang datang melalui Pekanbaru dapat diarahkan menikmati wisata lintas provinsi menuju Sumatera Barat.

Konsep ini dikenal sebagai “shopping tourism plus experience”. Wisatawan datang untuk berbelanja, tetapi pulang membawa pengalaman yang jauh lebih berkesan.

Saya melihat Sumatera Barat memiliki peluang yang sangat besar memanfaatkan momentum ini. Selain dekat dengan Malaysia melalui penerbangan langsung, masyarakat Minangkabau memiliki hubungan emosional dan historis yang kuat dengan masyarakat Negeri Jiran. Faktor kedekatan budaya ini merupakan modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Homestay, hotel, restoran, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga transportasi wisata harus bersiap menyambut peningkatan kunjungan tersebut. Kita tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga harus memberikan pelayanan yang ramah, akses yang mudah, harga yang kompetitif, dan pengalaman wisata yang berkualitas.

Baca Juga  Ramadan: Membangun Keteladanan  Kepemimpinan

Yang lebih penting lagi, pemerintah daerah dan pelaku industri harus berkolaborasi memperkuat promosi wisata lintas negara. Saat wisatawan Malaysia dan Singapura sedang menjadikan Indonesia sebagai tujuan belanja karena faktor kurs, maka tugas kita adalah mengubah wisata belanja itu menjadi wisata yang menghasilkan lama tinggal lebih panjang dan pengeluaran yang lebih besar.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah memang bukan kondisi yang ideal bagi perekonomian secara keseluruhan. Namun di sektor pariwisata, situasi ini dapat menjadi peluang emas apabila dikelola secara tepat. Para pelaku usaha wisata harus mampu melihat fenomena ini bukan sekadar sebagai keramaian sementara, melainkan sebagai pintu masuk untuk membangun pasar wisata yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Kini saatnya Batam, Padang, Pekanbaru, dan berbagai destinasi lainnya tidak hanya menjadi tempat berbelanja bagi wisatawan Malaysia dan Singapura, tetapi juga menjadi tujuan utama untuk menikmati keindahan, budaya, dan keramahan Indonesia yang sesungguhnya. Dengan demikian, setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian daerah, pemerintahan sumatera barat, tidak perlu kwatir terhdap melemahnya Rupiah terhadap Dollar us, jika kunjungan wisatwan asing dapat di tingkatkan , dan peredaran uang tetap stabil, daya beli masarakat aka tetap kuat, karena sumatera barat salah satu tujuan utama wisatawan Malaysia ke Pulau Sumatera, kepada seluruh pelaku dan pegiat pariwisata, sumatera barat, saya Darmawi mengajak kawan-kawan semua untuk terus melakukan promosi dan menjual package inbound ke Sumatera Barat, dalam Rangka mempertahankan usaha-usaha kita khusus nya di sector pariwisata biro atau agen perjalanan pariwisata, dan begitu juga kepada kawan-kawan Perhotelan, penginapa, dan homestay tetap optimis dalam menerima kedatangan wisatwan mancanegara ke Sumatera barat. (*)