KAYU TANAM, harianhaluan.id – Potensi durian lokal di Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, terus didorong agar tidak hanya mengandalkan penjualan buah segar. Melalui inovasi pengolahan pascapanen, durian lokal dikembangkan menjadi Es Krim Durian Kolang-Kaling atau Es Krim Durling yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Durian Kayu Tanam dikenal memiliki cita rasa khas dengan daging buah berwarna kuning, tebal dan bertekstur lembut, serta perpaduan rasa manis dan gurih. Buah umumnya dipasarkan dalam kondisi matang di pohon dan baru jatuh, sehingga kesegarannya tetap terjaga dan menarik minat konsumen yang melintas di sepanjang Jalan Raya Padang-Bukittinggi. Produktivitasnya juga terus meningkat seiring peremajaan tanaman yang dilakukan petani lokal.
Namun, tingginya produksi pada musim panen justru menjadi tantangan ekonomi bagi petani dan pedagang. Berdasarkan survei tim Program Integrasi Prodi dengan Nagari (PIPN), harga durian cenderung turun ketika pasokan melimpah. Kondisi tersebut membuat pendapatan petani dan pedagang berfluktuasi, sementara buah yang busuk atau memiliki cita rasa kurang baik berisiko menimbulkan kerugian.
Persoalan lainnya adalah masih terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah durian setelah panen. Padahal, pengolahan menjadi produk turunan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai jual. “Durian tidak hanya bisa dijual dalam bentuk buah segar. Dengan pengolahan pascapanen, komoditas ini bisa memiliki nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Prof. Dr. Desnita, M.Si., yang memimpin kegiatan pendampingan.
Melalui pendampingan yang melibatkan dosen dan mahasiswa S2 Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP), kelompok PKK Nagari Kayu Tanam diperkenalkan dengan pembuatan Es Krim Durling. Produk tersebut memadukan durian sebagai bahan utama dengan kolang-kaling yang memiliki tekstur kenyal, sehingga menghasilkan olahan pangan dengan karakter rasa dan tekstur yang berbeda.
Dari sisi ekonomi, pengolahan durian menjadi es krim dinilai dapat menjadi alternatif ketika harga buah segar turun akibat kelebihan pasokan. Durian yang tidak terserap pasar dalam bentuk segar dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. “Kami ingin potensi lokal yang ada di Kayu Tanam dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga tidak berhenti sebagai komoditas segar, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk inovatif yang memiliki nilai ekonomis,” ujar Desnita.
Pendampingan tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari pemberian bahan ajar, presentasi dan diskusi, praktik pembuatan, pengemasan serta pendinginan hingga evaluasi. Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing mengikuti proses pembuatan Es Krim Durling sesuai prosedur yang diberikan. Antusiasme dan kerja sama peserta menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan kegiatan.
Dalam proses pembuatannya, durian dan kolang-kaling terlebih dahulu dipilih, dibersihkan dan dihaluskan. Bahan kemudian dicampurkan, dimasak dan dikentalkan sebelum melalui proses pembekuan serta pengocokan untuk menghasilkan tekstur es krim yang lembut. Produk selanjutnya dikemas dan dibekukan kembali untuk menjaga kualitas serta memperpanjang daya simpannya.
Es Krim Durling Jadi Upaya Dongkrak Nilai Ekonomi Durian Kayu Tanam
Koordinator Program Studi, Prof. Dr. Ratnawulan, M.Si., turut mendampingi kegiatan tersebut bersama dosen dan mahasiswa S2 Pendidikan Fisika FMIPA UNP. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada keterampilan produksi, tetapi juga mendorong masyarakat melihat peluang pengembangan produk lokal sebagai bagian dari aktivitas ekonomi produktif. “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi yang ada di nagari menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” kata Ratnawulan.
Wali Nagari Kayu Tanam, Afriyadi, bersama Dekan FMIPA UNP, Prof. Dr. Yulkifli, S.Pd., M.Si., juga mengunjungi kegiatan pendampingan pada akhir pelaksanaan. Afriyadi menyampaikan dukungan terhadap pengembangan olahan durian, terutama sebagai salah satu alternatif menghadapi melimpahnya produksi ketika musim panen. “Hasil pertanian durian perlu diolah agar memiliki nilai tambah dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Masyarakat juga perlu dibekali strategi pemasaran agar produk olahan ini dapat dipasarkan lebih luas,” ujar Afriyadi.
Pengembangan Es Krim Durling selanjutnya membutuhkan penguatan pada aspek usaha, mulai dari standardisasi produk, kemasan, perizinan, penghitungan biaya produksi, penetapan harga hingga pemasaran. Jika dikelola secara berkelanjutan, diversifikasi tersebut berpeluang menjadi salah satu bentuk usaha produktif masyarakat Kayu Tanam sekaligus memperkuat posisi durian lokal sebagai komoditas yang tidak hanya bernilai saat musim panen, tetapi juga dapat menghasilkan nilai ekonomi melalui produk olahan. (h/isr)












