Oleh: Dr.M.A.Dalmenda.M.Si
Dosen Komunikasi Politik Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNAND
Jumat sore di Istana Negara tersapu angin segar bagi sejumlah orang, ketika matahari meredup di balik pilar-pilar putih, suatu pemandangan kontras tersaji.
Rocky Gerung, pria penggagas jargon “Kedunguan” yang bertahun-tahun merakit dan merawat reputasi sebagai pengkritik paling “lantang dinan bana” di seantero Republik ini, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Langkah kakinya di atas marmer istana bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah anomali politik yang memikat. Dari kacamata komunikasi politik, merapatnya sang begawan “Akal Sehat” ke lingkar dalam kekuasaan adalah oase segar sebuah bypass birokrasi komunikasi yang menembus langsung ke telinga sang penguasa.
Melihat riuh rendah publik yang menuduhnya “menjilat ludah sendiri” naga-naganya kesimpulan yang terburu-buru. Di tengah ekosistem istana yang kerap dikepung oleh tembok tebal kenyamanan, kehadiran sosok radikal seperti Rocky justru menjadi kemewahan etis yang mahal bagi seorang kepala negara.
Selama ini, musuh terbesar seorang presiden adalah echo chamber atau ruang gema yang diciptakan oleh para pembantu yang bermuka dua. Informasi yang sampai ke meja presiden kerap kali sudah disaring melalui mekanisme gatekeeping politik yang ketat, dipermanis, dan kehilangan daya sengat realitasnya akibat sindrom “Asal Bapak Senang” (baca:ABS).
Untuk memahami betapa radikalnya lompatan paradigma ini, kita harus menengok sejarah ke belakang melalui analisis komparatif. Rekam jejak lembaga pertimbangan ini kerap kali dicap sekadar sebagai tempat parkir politik bagi para loyalis senior, purnawirawan jenderal, atau pemegang saham konsolidasi kekuasaan.
Seret pandangan ke belakang, bagaimana era Presiden ke-7 mendudukkan figur-figur dengan pendekatan stabilitas birokratis atau akomodasi politik akbar. Watak Wantimpres di masa lalu cenderung bekerja dalam langgam ketatanegaraan yang serba formal, tenang, patuh, dan menjaga harmoni konsensus.
Nasihat-nasihat yang keluar didesain untuk memperkuat kenyamanan kebijakan, bukan menguji fondasi logikanya. Berbeda secara diametral dengan tradisi pendahulunya, masuknya Rocky ke Wantimpres era Prabowo merobek tradisi “jalan sunyi” tersebut.
Kontras tebal ini mempertegas latar belakang bahwa lembaga ini kini tidak sedang dirancang untuk sekadar melengkapi ornamen kekuasaan, melainkan untuk ditabrakkan dengan dialektika pemikiran yang tajam.
Di sinilah peran Rocky menjadi krusial. Masuknya ia ke dalam sistem menghancurkan ruang gema tersebut dengan bertindak sebagai agen noise yang sehat. Ia memotong semua filter birokratis untuk memberikan masukan mentah dan jujur langsung di meja kerja presiden.












