PESISIR SELATAN,HARIANHALUAN.ID— Tokoh masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, Gusman, SH, mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak terprovokasi isu bernuansa SARA terkait keberadaan bangunan mirip klenteng di kawasan Pulau Cubadak, Nagari Sungai Nyalo, Kecamatan Koto XI Tarusan.
Advokat kondang ini mengingatkan agar masyarakat Pesisir Selatan menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin dan pemikiran terbuka.
Ia menilai, keberadaan bangunan tersebut tidak serta-merta dapat diartikan sebagai upaya penyebaran agama tertentu.
“Persoalan ini harus kita kaji secara objektif. Apakah keberadaan bangunan itu mengganggu mata pencaharian masyarakat? Apakah memicu perpindahan agama secara massal? Kalau dua hal itu tidak terjadi, maka jangan langsung ditarik ke isu SARA,” ujarnya kepada Haluan Minggu (26/4/2026).
Gusman menekankan, pembangunan fasilitas di kawasan wisata, termasuk oleh investor keturunan Tionghoa, justru berpotensi memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
Ia meyakini, aktivitas pariwisata di kawasan Mandeh, khususnya di Kecamatan Koto XI Tarusan, dapat semakin berkembang dan dikenal luas hingga ke tingkat internasional.
“Kalau objek wisata dikelola dengan baik, dampak ekonominya jelas terasa. Masyarakat setempat bisa mendapatkan peluang usaha dan peningkatan pendapatan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa lokasi bangunan yang kini dipersoalkan tersebut berada di pulau yang relatif jauh dari permukiman warga. Menurutnya, bentuk bangunan yang menyerupai klenteng tidak lepas dari latar belakang pemilik usaha.
“Kalau pemiliknya orang Tionghoa, wajar arsitekturnya seperti itu. Sama halnya jika pemiliknya Muslim, mungkin akan membangun masjid. Itu hal yang biasa dalam konteks usaha,” jelasnya.
Lebih jauh, Gusman menyoroti potensi konflik sosial yang mulai muncul di tengah masyarakat. Ia menyayangkan perbedaan pandangan yang berujung pada ketegangan antara kelompok masyarakat, termasuk antara generasi muda dan ninik mamak.
“Jangan sampai hanya karena persoalan bangunan, masyarakat Tarusan terpecah. Ini yang harus kita hindari bersama,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan dialog dan kajian menyeluruh terhadap dampak pembangunan tersebut, baik dari sisi sosial, budaya, maupun ekonomi, sebelum mengambil kesimpulan. (*).






