OPINI

Keluar dari Zona Moderat: Saatnya Sumatera Barat Melompat

×

Keluar dari Zona Moderat: Saatnya Sumatera Barat Melompat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sabar AS
Mahasiswa S3 Studi Kebijakan Universitas Andalas, Pegiat KP2 Insan Cita

Sumatera Barat tidak kekurangan potensi yang kurang adalah keberanian mempercepat arah pembangunan. Ketika provinsi lain di Pulau Sumatera mulai melompat dengan struktur ekonomi yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi, Sumatera Barat masih berjalan dalam ritme yang cenderung moderat. Di sinilah persoalan utamanya: bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita mengelolanya.

Data menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat masih berada pada kisaran 3.37 persen, dengan PDRB sekitar Rp352 triliun dan PDRB per kapita sekitar Rp59 juta per tahun ( BPS Dalam Angka 2025). Stabil, tetapi belum akseleratif. Dalam lanskap persaingan regional, stabilitas tanpa lompatan justru berisiko menjadi stagnasi terselubung.

Karena itu, Sumatera Barat membutuhkan perubahan arah pembangunan yang lebih tegas. Bukan sekadar melanjutkan rutinitas birokrasi, tetapi melakukan akselerasi yang terencana, terukur, dan berbasis keunggulan daerah.

Kekuatan fundamental Sumatera Barat sesungguhnya sangat jelas: keterpaduan antara kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan kearifan budaya Minangkabau. Tiga pilar ini dapat disatukan dalam satu kerangka strategis: Geopark (Taman Bumi), sebuah model pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Selama ini, struktur ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor pertanian dan perdagangan konvensional. Sektor ini memang stabil, tetapi memiliki keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah tinggi dan menyerap tenaga kerja terdidik. Tanpa transformasi, Sumatera Barat akan terus berada dalam jebakan pertumbuhan moderat.

Baca Juga  Waduh! Ribuan Masyarakat Sumbar Alami Gangguan Kejiwaan

Padahal, daerah ini memiliki aset geologi kelas dunia: kawasan karst Silokek di Sijunjung, Ngarai Sianok di Agam, hingga warisan tambang Ombilin di Sawahlunto. Potensi ini bukan sekadar keindahan alam, tetapi modal strategis untuk membangun ekonomi baru berbasis pengetahuan, pariwisata berkualitas, dan ekonomi kreatif.

Di sinilah perubahan paradigma menjadi penting. Konservasi tidak boleh lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan. Justru sebaliknya, konservasi adalah sumber nilai ekonomi baru. Dalam kerangka Geopark, pelestarian lingkungan menjadi fondasi produktivitas bukan penghalang pertumbuhan.

Bagi penulis, sesungguhnya “Sumatera Barat tidak sedang membutuhkan pembangunan yang lebih banyak, namun urang awak ini memerlukan pembangunan yang lebih tepat arah.”

Pendekatan Geopark juga memiliki dimensi strategis dalam mitigasi bencana. Sebagai wilayah yang berada di zona patahan aktif, Sumatera Barat membutuhkan masyarakat yang memiliki literasi geologi dan kesiapsiagaan tinggi. Pembangunan tanpa kesadaran risiko hanya akan menciptakan kerentanan baru.

Namun, akselerasi pembangunan tidak akan tercapai tanpa reformasi tata kelola. Pendekatan sektoral harus ditinggalkan. Koordinasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus diperkuat. Infrastruktur tidak boleh lagi dibangun tanpa arah strategis, melainkan harus membuka akses ke kawasan unggulan secara terukur dan berkelanjutan.

Baca Juga  Sosial Media dalam Bencana

Yang tidak kalah penting, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama. Pengembangan homestay, pemandu wisata, serta ekonomi kreatif berbasis nagari akan memastikan manfaat ekonomi tidak terpusat, melainkan menyebar secara adil.

Pariwisata Sumatera Barat juga harus bertransformasi. Dunia tidak lagi mencari destinasi yang sekadar indah, tetapi yang memiliki cerita. Geopark menawarkan narasi besar tentang sejarah bumi, budaya, dan kehidupan masyarakat sebuah keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah.

Tantangan tentu ada: keterbatasan anggaran, kualitas sumber daya manusia, dan konsistensi kebijakan. Namun, semua itu dapat dijawab melalui inovasi pembiayaan, penguatan riset perguruan tinggi, dan kepemimpinan daerah yang visioner serta kolaboratif.

Pada akhirnya, akselerasi pembangunan bukan sekadar soal kecepatan, tetapi soal keberanian menentukan arah. Sumatera Barat memiliki semua modal untuk melompat alam yang kaya, budaya yang kuat, dan masyarakat yang tangguh.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita berani keluar dari zona nyaman pembangunan yang biasa-biasa saja? Karena, sebenarnya, kita tidak sedang mewarisi bumi dari leluhur, melainkan meminjamnya dari generasi mendatang. Maka, tidak ada alasan untuk menunda.

Saatnya Sumatera Barat bergerak lebih cepat, lebih tepat, dan lebih berani. Semoga. (*)