Oleh : Basril Basyar (Ahli Peternakan)
Ancaman ketahanan pangan menjadi topik utama dalam pembahasan seminar internasional bertema “Sustainable Poultry Development and Future Research: Integrating Science, Technology, and Policy for Global Food Security.
Seminar ini digelar Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang bertempat di Convention Hall Limau Manis, (12-13 Mei 2026).
Tantangan dunia Peternakan menyambut generasi emas pada 2045 di Indonesia merupakan hal serius yang mesti diantisipasi mulai dari sekarang.
Dekan Fakultas Peternakan ( Faterna) Prof Dr Mardiati Zain di awal sambutan pembukaan menyampaikan kerisauannya menghadapi kebutuhan pangan dunia di tahun 2050 mendatang.Termasuk generasi emas Indonesia 2045.
Diprediksi jumlah penduduk dunia akan mencapai 10 miliar pada 2050. Pertanyaannya bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan manusia termasuk protein hewani di era itu. Tentu diperlukan jumlah protein yang begitu besar dan beragam.
Tantangan itu, tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Diperlukan langkah-langkah strategis yang mesti dirumuskan mulai dari sekarang.
Seminar yang digelar hari itu adalah upaya memperkuat riset kolaborasi global dalam pengembangan industri perunggasan berkelanjutan dan ketahanan pangan dunia. Tidak heran dalam seminar itu hadir pakar-pakar ilmu peternakan, utamanya ilmu Poultry atau perunggasan dari berbagai belahan dunia.
Menurut Dekan Prof Mardiati Zain sektor perunggasan memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber protein hewani yang paling efisien dan banyak dikonsumsi masyarakat dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri perunggasan tidak dapat lagi dilakukan dengan pendekatan lama.
Saat ini, 0 kita sedang menghadapi era perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, hingga ancaman penyakit yang terus berkembang. Karena itu, pengembangan perunggasan berkelanjutan harus mengintegrasikan sains, teknologi, dan kebijakan secara bersamaan.
Prof. Mardiati menjelaskan, penguatan riset genetika, nutrisi, dan kesejahteraan hewan menjadi bagian penting dalam menciptakan produksi unggas yang tidak hanya produktif, tetapi juga tangguh dan beretika.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital seperti AI-driven precision farming hingga bioteknologi modern dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus meminimalkan limbah produksi.
Panitia seminar mampu merangkul pakar peternakan dunia dalam seminar ini. Tidak saja ahli peternakan atau saintis tetapi juga juga pelaku usaha peternakan. Berbagai makalah utama yang berasal dari riset para pakar dibahas dalam seminar, selama dua hari ini.
Program ilmiah peternakan unggas menampilkan 80 kontribusi makalah yang terdiri dari 43 penyaji hadir secara langsung dan 37 penyaji bergabung secara virtual. Format hibrida menggaris bawahi komitmen panitia terhadap inklusivitas dan pertukaran pengetahuan lintas batas, yang memungkinkan partisipasi tanpa memandang batasan geografis.
Pada tahun 2050, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan populasi global akan mencapai 9,7 hingga 10 miliar jiwa. Lonjakan ini diproyeksikan akan meningkatkan kebutuhan protein global hingga 70% dibandingkan dengan tingkat produksi saat ini.
Untuk memenuhi lonjakan kebutuhan gizi masif ini, diperlukan kolaborasi semua pihak, saintis atau akademisi, Entrepreneur serta government sebagai pengambil kebijakan.
Secara garis besar FAO, badan pangan dunia merelis bahwa pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi akan membuat konsumsi protein hewani, seperti produk perikanan dan daging, akan berlipat ganda. Misalnya, pasar global untuk produk laut (sering disebut blue food) diproyeksikan melonjak pesat.
Mengingat tantangan lahan dan perubahan iklim, produksi pangan harus ditingkatkan melalui cara yang lebih efisien. Pada tahun 2050, sumber protein nabati (kacang-kacangan bebas alergen), budidaya daging (cultured meat), alga/rumput laut, hingga serangga berprotein tinggi diproyeksikan menjadi komponen utama sebagai pola makan global yang berkelanjutan.
Tentu prediksi ini perlu diuji dan diantisipasi. Seminar internasional yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Unand mencoba merumuskan hal ini dengan mengundang untuk berkolaborasi pakar-pakar peternakan internasional.
Konferensi Internasional ini mempertemukan pembicara undangan, pemateri (presenter), dan peserta dari berbagai institusi akademik, organisasi penelitian, dan industri di beberapa negara.
Konferensi ini menampilkan pembicara undangan terkemuka dari Dr. Eckel Animal Nutrition GmbH & Co. KG Jerman.” Pakistan, PT. Addeasy
International, Tay Do University – Vietnam, National Animal Health and Production
Research Institute – Cambodia, and Universitas Andalas, Padang, Indonesia sebagai tuan rumah.
Gebrakan besar dan strategis dari kampus 10 besar Indonesia ini tentu diharapkan sebagai pemicu lembaga dunia lain untuk terus “think ahead” sebagai antisipasi kehidupan ke depan.
Fakultas Peternakan Unand termasuk yang banyak berperan membawa nama Unand ke kancah global. Salah seorang dari dosen fakultas ini dinobatkan termasuk 2 persen saintis berpengaruh di dunia yaitu Dr Rony Pazla dengan H index 21 sedangkan Dekan Prof Mardiati Zain memiliki H.index 20.
Dari fakultas ini juga banyak lahir guru besar sebagai pakar dari berbagai ilmu peternakan. Saat ini sudah lebih 20 guru besar lahir dari kampus ungu itu. Namun tentu bukan hanya sampai pada predikat GB saja. Diperlukan kiprah yang lebih besar, strategis dan berdampak secara nasional dan internasional.
Konferensi “Sustainable Poultry Development and Future Research: Integrating Science, Technology, and Policy for Global Food Security”.adalah langkah awal ” crucial step” yang mesti dijaga untuk dilanjutkan ke tahap berikut dimasa depan. Semoga. (*)











