Langit masih gelap ketika deretan truk mulai mengular di salah satu SPBU di jalur perlintasan Kota Padang. Mesin-mesin diesel dimatikan. Udara dini hari terasa dingin, bercampur bau asap knalpot dan kopi sachet yang diseduh seadanya di pinggir jalan.
Di dalam kabin sempit sebuah truk colt diesel berwarna hijau kusam, Mulyadi (46) memejamkan mata sambil bersandar pada setir. Sudah hampir lima jam ia menunggu giliran mengisi solar subsidi. Namun antrean tak kunjung bergerak. “Kadang kami datang jam dua malam, baru dapat solar pagi. Pernah juga kosong pas giliran kami,” ujarnya lirih saat ditemui Haluan, Rabu (20/5) tengah malam.
Mulyadi adalah sopir pengangkut sayur. Sudah 17 tahun ia hidup di jalan lintas Sumatera, mengantar kubis, bawang, cabai, dan tomat agar tetap sampai segar ke pasar-pasar. Tetapi tiga bulan terakhir, pekerjaan yang selama ini berat berubah menjadi jauh lebih menyiksa. Kelangkaan solar membuat hidup para sopir truk seperti digantung.
Mereka kehilangan waktu, kehilangan trip perjalanan, kehilangan uang, bahkan perlahan kehilangan tenaga dan harapan. “Kalau dulu seminggu bisa tiga trip. Sekarang paling dua. Kadang satu setengah saja,” ujar Mulyadi sambil tertawa pahit.
Padahal, penghasilan sopir bergantung pada jumlah perjalanan. Semakin sedikit trip, semakin kecil uang yang dibawa pulang. Sementara cicilan kendaraan, biaya makan di jalan, uang rokok kernet hingga kebutuhan anak sekolah terus berjalan. “Solar habis bukan cuma minyaknya. Kesabaran kami juga habis,” ucapnya.
Tidur di Antrean
Menjelang subuh, antrean truk semakin panjang. Sebagian sopir turun dari kendaraan. Ada yang membentangkan kardus di bawah truk, ada yang duduk di warung kopi kecil dekat SPBU.
Mereka seperti hidup dalam rutinitas baru, antre, menunggu, tidur sebentar, lalu antre lagi. Bagi Syafrizal (46), sopir pengangkut minyak sawit mentah asal Pesisir Selatan, kondisi ini perlahan menggerus fisiknya.
Dalam satu kali perjalanan menuju Dumai, ia membutuhkan solar puluhan liter. Namun sekarang, mendapatkan bahan bakar menjadi perjuangan tersendiri. “Kadang satu SPBU dibatasi. Kami pindah lagi ke SPBU lain. Habis waktu di jalan cuma buat cari minyak,” katanya.
Ia bercerita, pernah tertahan hampir 14 jam hanya demi mendapatkan solar. Akibatnya, jadwal bongkar muatan terlambat dan pemilik barang marah. Padahal keterlambatan itu tidak murni kesalahan sopir. “Orang tahunya barang lambat sampai. Tapi mereka tidak lihat kami tidur di kabin karena antre solar,” ucapnya.
Di dashboard truknya terdapat termos air panas, nasi bungkus dingin, dan beberapa lembar pakaian. Kabin truk kini lebih sering menjadi kamar tidur dibanding kendaraan kerja. Anaknya yang masih duduk di bangku SD bahkan mulai jarang melihatnya pulang. “Kadang anak telepon, ‘Ayah di mana?’ Saya jawab masih di SPBU,” katanya. Ia terdiam sejenak. “Sakit sebenarnya dengar itu.”
Solar Kami Ke Mana?
Di antara kepulan asap rokok dan suara mesin kendaraan yang sesekali meraung di antrean, para sopir punya dugaan sendiri soal mengapa solar semakin sulit didapat.
Mereka menduga, sebagian solar subsidi justru mengalir ke aktivitas tambang ilegal dan para pengecer yang bermain dengan oknum tertentu di SPBU. Dugaan itu beredar dari mulut ke mulut di antara sopir lintas Sumatera. “Kalau untuk kami katanya stok habis. Tapi kami dengar ada yang bisa dapat ton-tonan,” kata Mulyadi sambil menatap antrean jeriken di kejauhan.
Ia mengaku sering melihat kendaraan tertentu bolak-balik mengisi solar dalam jumlah besar. Sementara truk pengangkut bahan pangan justru harus menunggu berjam-jam. “Yang kami bawa ini sayur buat makan orang. Tapi malah susah dapat minyak,” tuturnya.
Nada serupa disampaikan Syafrizal. Ia mendengar para pelangsir solar bisa memperoleh keuntungan jauh lebih besar dibanding pendapatan sopir truk. “Kami narik siang malam, panas hujan di jalan, kadang cuma bawa pulang ratusan ribu. Tapi katanya pelangsir bisa dapat jutaan sehari,” ujarnya.
Bagi para sopir, cerita-cerita itu terasa menyesakkan. Mereka merasa menjadi pihak yang paling dirugikan di tengah rantai distribusi yang semestinya memprioritaskan kendaraan pengangkut logistik dan kebutuhan pokok. “Kalau memang ada permainan, tolong ditertibkan. Jangan kami terus yang jadi korban,” kata Syafrizal.
Sayur Membusuk di Jalan
Kepayahan lebih berat dirasakan Yusrizal (52), sopir pengangkut hasil bumi menuju Riau. Muatannya bukan hanya jagung dan pisang, tetapi juga buah-buahan yang mudah rusak jika terlalu lama di perjalanan.
Menurutnya, antrean solar telah mengubah ritme distribusi pangan lintas provinsi. Waktu tempuh yang biasanya lancar kini menjadi penuh ketidakpastian. “Kalau telat sedikit saja, harga barang bisa jatuh. Pernah pisang saya setengah busuk karena terlalu lama tertahan menunggu dimuat,” katanya.
Ia masih mengingat malam ketika harus mengantre dari pukul 21.00 WIB hingga menjelang pagi. Ketika solar akhirnya tersedia, antrean sudah ricuh karena banyak kendaraan saling serobot. Sebagian sopir memilih mematikan mesin demi menghemat sisa bahan bakar. Namun itu juga berisiko. “Kalau mesin mati terlalu lama, kadang susah hidup lagi. Tapi kalau dibiarkan hidup, minyak habis,” ujarnya.
Pilihan para sopir kini serba salah. Di jalan lintas Sumatera, mereka bukan hanya melawan jarak dan medan, tetapi juga ketidakpastian mendapatkan energi untuk terus bergerak. “Dulu kami takut jalan rusak. Sekarang kami lebih takut SPBU kosong,” ujar Yusrizal.
Ia pun ikut mempertanyakan ke mana perginya solar subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil. “Kalau memang solar ini untuk rakyat kecil, kami ini apa? Kami cari makan di jalan. Kami angkut sembako. Tapi sekarang malah seperti disingkirkan,” katanya.
Jalan Panjang Para Sopir
Bagi masyarakat kota, kelangkaan solar mungkin hanya terlihat sebagai antrean kendaraan di SPBU. Namun bagi para sopir truk, itu adalah urusan dapur yang bisa runtuh sewaktu-waktu. Satu hari tertahan berarti satu hari penghasilan hilang. Satu trip batal berarti cicilan kendaraan terancam menunggak.
Ironisnya, di balik distribusi kebutuhan pokok yang tetap berjalan ke berbagai daerah, ada para sopir yang justru hidup dalam kelelahan berkepanjangan. Mereka mengantar sayur agar pasar tetap penuh. Mengangkut beras agar dapur masyarakat tetap mengepul. Membawa hasil bumi agar roda ekonomi terus berputar.
Tetapi di tengah krisis solar yang belum juga usai selama tiga bulan terakhir, mereka justru harus bertarung sendirian di jalur-jalur panjang lintas Sumatera.
Pagi mulai datang. Matahari perlahan naik di ufuk timur. Antrean truk di SPBU akhirnya bergerak beberapa meter. Mulyadi buru-buru menyalakan mesin. Asap hitam mengepul dari knalpot tuanya.Ia menatap jarum indikator bahan bakar yang hampir menyentuh huruf “E”. “Kalau hari ini tak dapat solar, kami tak jalan,” ucapnya. (h/*)











