SOL0K, HARIANHALUAN.ID — Pemadaman listrik massal (blackout) yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5) malam diduga memicu kerugian besar bagi peternak ayam broiler di Kabupaten Solok. Sebanyak 2.655 ekor ayam siap panen milik peternak di Nagari Aripan mati lemas setelah sistem kelistrikan kandang mengalami gangguan serius.
Peristiwa itu terjadi di kandang close house dua lantai milik Mera dengan populasi sekitar 30 ribu ekor ayam. Gangguan bermula sekitar pukul 18.44 WIB saat pasokan listrik PLN terhenti.
“Seperti biasa, ketika listrik padam kami langsung menyalakan genset cadangan. Waktu genset hidup semuanya normal dan aman, tidak ada kendala,” ujar Ikmal, suami Mera, kepada Haluan, Minggu (24/5).
Namun sekitar pukul 22.00 WIB, listrik PLN kembali menyala. Diduga terjadi lonjakan tegangan tinggi yang menyebabkan Automatic Transfer Switch (ATS) meledak dan terbakar. ATS merupakan perangkat otomatis yang berfungsi memindahkan sumber daya listrik dari PLN ke genset saat terjadi pemadaman, lalu mengembalikannya ketika listrik PLN kembali normal.
Ledakan ATS menyebabkan seluruh sistem ventilasi kandang mendadak berhenti total. Kondisi itu memicu kepanikan pekerja kandang yang berusaha menyelamatkan ribuan ayam di dalam kandang tertutup tersebut.
Petugas sempat membuka tirai dinding kandang untuk membantu sirkulasi udara. Namun upaya itu tidak mampu mengatasi minimnya pasokan oksigen di tengah padatnya populasi ayam.
Akibatnya, sebanyak 2.393 ekor ayam di lantai dua dengan bobot rata-rata 1,6 kilogram mati lemas. Sementara di lantai satu tercatat 262 ekor ayam berbobot rata-rata 1,8 kilogram juga mengalami nasib serupa.
Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Untuk kandang Mera 2, total ayam mati mencapai 3.828,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp74.661.600. Sedangkan pada kandang Mera 1, kerugian mencapai Rp8.960.400 dari total 471,6 kilogram ayam mati. Secara keseluruhan, total kerugian peternak diperkirakan menembus Rp83,6 juta. Pihak peternak berharap PLN memberikan penjelasan sekaligus kompensasi atas kerugian yang mereka alami akibat gangguan pasokan listrik tersebut. “Kami berharap ada tanggung jawab dari PLN, karena kejadian ini sangat merugikan peternak,” kata Ikmal. (*)











