PADANG, HARIANHALUAN.ID- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai akan membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, manusia tetap memiliki kompetensi inti yang sulit digantikan mesin.
Hal itu disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, Dr. Yesi Puspita, M.Si, CPPS, saat diwawancarai terkait tantangan dan masa depan profesi komunikasi di era AI.
Menurut Yesi, AI memang akan menggantikan banyak pekerjaan teknis dan repetitif di bidang komunikasi. Mulai dari pembuatan caption media sosial, penyusunan press release sederhana, transkrip, editing dasar, analisis data media sosial, hingga pembuatan konten visual.
“Namun, ada kompetensi inti komunikasi yang sangat sulit, bahkan hampir mustahil digantikan sepenuhnya oleh AI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemampuan pertama yang tidak dapat sepenuhnya diambil alih teknologi adalah empati dan kepekaan emosional. Menurutnya, komunikasi sejatinya adalah memahami manusia secara utuh.
“AI bisa membaca pola bahasa, tetapi tidak benar-benar merasakan emosi, trauma, budaya, atau konteks sosial seseorang,” katanya.
Dalam praktik komunikasi, lanjutnya, kemampuan membaca suasana, memahami luka sosial, membangun rasa percaya, serta menghadirkan ketulusan tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Selain itu, kemampuan membangun relasi dan kepercayaan juga menjadi aspek penting yang tidak bisa diotomatisasi. Teknologi, kata Yesi, hanya membantu distribusi pesan, sementara kepercayaan lahir dari hubungan antarmanusia.
“Orang mungkin percaya pada informasi dari AI, tetapi mereka tetap percaya kepada manusia yang dianggap autentik,” jelasnya.
Yesi juga menyoroti pentingnya critical thinking dan ethical judgment di era digital. Sebab, dalam dunia komunikasi sering muncul dilema etika yang membutuhkan pertimbangan moral, nilai budaya, dan kebijaksanaan sosial.
Misalnya dalam menentukan apakah sebuah isu layak dipublikasikan, bagaimana menyampaikan pesan sensitif saat bencana, menjaga etika komunikasi politik, hingga merespons isu SARA dan disinformasi.
“Keputusan-keputusan seperti itu membutuhkan nurani, bukan hanya kecerdasan komputasional,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai kreativitas manusia tetap menjadi kekuatan utama dalam komunikasi. Meski AI mampu menghasilkan konten kreatif, kreativitas manusia lahir dari pengalaman hidup, memori budaya, intuisi, dan sensitivitas lokal.
Karena itu, kemampuan storytelling, branding berbasis budaya, dan membangun narasi autentik akan tetap relevan di masa depan.
Tak hanya itu, kepemimpinan komunikasi juga disebut sebagai kompetensi yang tidak dapat digantikan teknologi. Menurut Yesi, AI mungkin mampu membantu menyusun strategi komunikasi, tetapi tidak bisa menggantikan figur pemimpin yang mampu menginspirasi, memediasi konflik, mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, serta menjadi representasi nilai organisasi maupun masyarakat.
Di sisi lain, kemampuan public speaking dan kehadiran manusia secara langsung juga dinilai tetap penting. Audiens, kata dia, bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi juga merasakan energi, ekspresi, spontanitas, dan ketulusan seorang pembicara.
Karena itu, kemampuan berbicara di depan publik, persuasi interpersonal, membangun engagement langsung, serta membaca audiens secara real time akan tetap menjadi kompetensi utama di era AI.
Yesi menegaskan, di masa depan A.I tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia di bidang komunikasi. Namun, manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi berpotensi tergeser oleh mereka yang mampu menggabungkan kemampuan teknologi dengan human communication.
“Kompetensi komunikasi masa depan bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga memperkuat empati, etika, kreativitas, critical thinking, leadership, dan kemampuan membangun hubungan manusia,” tuturnya.
Ia menambahkan, pada akhirnya teknologi hanya menjadi alat untuk menyampaikan pesan, sementara manusialah yang memberi makna terhadap pesan tersebut. (*)











